Sri Mulyani: Tak Hanya Indonesia, Seluruh Negara di Dunia juga Berutang

Sri Mulyani: Tak Hanya Indonesia, Seluruh Negara di Dunia juga Berutang
UANG | 18 Juli 2020 15:16 Reporter : Dwi Aditya Putra

Merdeka.com - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati menegaskan bahwa utang yang dilakukan Pemerintah Indonesia merupakan bagian dari suatu pembangunan. Sebab, tanpa adanya utang, Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) tidak akan cukup menutup kebutuhan pembiayaan dalam negeri.

"Di Indonesia ini pembahasan utang bermacam-macam dimensinya utang itu sebagai sesuatu yang haram, riba, ada yang benci sama utang, ada yang dia tidak bisa menerima seolah-olah hutang itu sesuatu yang menakutkan," kata Sri Mulyani dalam siaran akun Instagramnya, Sabtu (18/7).

Sri Mulyani menjelaskan, untuk mengelola keuangan negara, ada yang namanya penerimaan, belanja, pembiayaan dan juga investasi. Dari sisi penerimaan sumbernya berasal dari pajak, bea dan cukai, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dan juga hibah.

Terlepas dari penerimaan, pemerintah juga membutuhkan belanja negara. Menurutnya dengan negara sebesar Indonesia, pertama tentu masyarakat membutuhkan untuk belanja pendidikan. Di mana konstitusi negara sebanyak 20 persen dialokasikan untuk pendidikan.

"Kita harus mengalokasikan untuk pendidikan. Kenapa pentingnya mumpung masyarakat yang masih muda dan harus ada investasi di bidang sumber daya manusia kita perlu untuk memprioritaskan itu," jelas dia.

Tak hanya pendidikan, belanja negara juga dibutuhkan untuk kesehatan, infrastruktur, serta kebutuhan belanja lainnya di masing-masing Kementerian Lembaga. Namun kebutuhan besar akan belanja tersebut tak sebanding dengan pendapatan negara yang berasal dari berbagai sumber. Untum itu, alternatif pembiayaan lain adalah dengan cara utang.

"Nah kalau belanja nya lebih banyak daripada pendapatan yang kita bisa kumpul kan gimana? ya kita mencari utang kalau begitu," kata dia.

Terkait dengan tidak melakukan utang, sebetulnya itu juga menjadi pilihan kebijakan pemerintah. Namun ada sisi lain yang kemudian menjadi pertimbangan pemerintah. Bisa saja tidak melakukan utang, namun menunda kebutuhan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan.

"Jadi kita ingin menyampaikan kadang-kadang masyarakat kita sensitif untuk bicara utang-utang apalagi pakai nada benci. Menurut saya itu tidak bagus juga kalau kita bicara dengan polecy utang tapi kita bisa debat, tapi nggak usah benci-bencian apalagi bisa bilang pakai bahasa kasar itu nggak perlu," jelas dia.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menambahkan, tidak ada satu negara yang terlepas dari utang. Bahkan negara-negara islam sekalipun juga membutuhkam utang untuk pembangunan infrastruktur di negaranya.

"Di seluruh negara dunia negara juga berhutang. Coba dicek aja temen-temen. Bahkan semua negara Islam di dunia semuanya juga berhutang mau Saudi Arabia, mau Qatar, Tunisia, Maroko, Pakistan, Afghanistan coba dilihat," kata dia. (mdk/did)

Baca juga:
Hobi Sri Mulyani yang Tak Banyak Orang Tahu
Menkeu Dorong Optimalisasi Alokasi Transfer Daerah Pulihkan Ekonomi Imbas Corona
Sri Mulyani Lantik 10 Eselon II di Lingkungan Kemenkeu
Pemerintah Berkomitmen Perbaiki Data dan Infrastruktur Selama Masa Pandemi
Menteri Sri Mulyani Bilang Virus Corona Buat Penyusunan Laporan APBN 2019 Tak Mudah
Sri Mulyani Tindaklanjuti 7 Temuan BPK Atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat di 2019
Sri Mulyani Sampaikan Laporan Pertanggungjawaban APBN 2019 ke DPR

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami