Stabilisasi Rupiah, Pemerintah Harus Atasi Defisit Migas

UANG | 21 Oktober 2019 13:53 Reporter : Wilfridus Setu Embu

Merdeka.com - Direktur Riset Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Berly Martawardaya, menegaskan pentingnya ketahanan energi terhadap stabilitas makro, salah satunya nilai tukar Rupiah. Sebagai contoh, dia menjelaskan, defisit neraca perdagangan akibat impor migas menyebabkan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS menjadi tidak stabil.

Maka dari itu, pemerintah perlu memerhatikan kinerja sektor migas, misalnya dengan mendorong eksplorasi. "Dampak dari energi ini sangat besar tidak hanya produksi tapi stabilitas Rupiah karena sebagian besar defisitnya migas kita hanya setengah yang hanya bisa diproduksi dan impor kita beli dalam Dolar," kata dia, dalam diskusi, di Jakarta, Senin (21/10).

Dia menambahkan, saat ini tingkat konsumsi BBM terus meningkat sementara produksi dalam negeri menurun. Untuk memenuhi kebutuhan BBM, jalan yang ditempuh adalah dengan melakukan impor.

"Jumlah kendaraan makin meningkat produksi migas turun maka defisit besar. Lifting migas turun 30 persen. Ketika defisit, Rupiah melemah secara signifikan," ujar dia.

Oleh karena itu, pemerintah perlu memerhatikan kinerja sektor migas, misalnya dengan mendorong eksplorasi. Sehingga dapat meningkatkan produksi dalam negeri. "Selama difisit migas besar Rupiah kita labil ini satu hal yang penting. Supply demand akan berpengaruh ke stabilitas makro kita," tandasnya.

Baca juga:
Neraca Perdagangan Ponsel, Komputer dan Tablet Surplus Rp2,6 T per Agustus 2019
Daya Beli Hingga Impor Bahan Baku Dinilai Jadi Penyebab Defisit Perdagangan
Tahun Lalu Surplus, Neraca Perdagangan September 2019 Defisit USD 160 Juta
Pembentukan PIMD Pertamina Dinilai Perkecil Defisit Neraca Perdagangan
Menko Darmin Ramal Defisit Neraca Dagang Tahun Ini Hanya USD 2 Miliar
Minim Investasi, Petrokimia Penyebab Defisit Neraca Perdagangan Indonesia

(mdk/bim)