Stabilkan Pasar Valas, BI Terus Koordinasi dengan OJK dan Kemenkeu

Stabilkan Pasar Valas, BI Terus Koordinasi dengan OJK dan Kemenkeu
UANG | 3 Juni 2020 15:43 Reporter : Sulaeman

Merdeka.com - Bank Indonesia (BI) memastikan kondisi pasar valuta asing (valas) nasional mulai terjaga stabilitasnya, setelah koordinasi antar instansi pemerintah terkait dalam perbaikan pasar valas di tengah pandemi covid-19 dilakukan dengan baik.

"Koordinasi yang intens antara Kementerian Keuangan, BI dan OJK selaku regulator. Alhamdulillah kembali menstabilkan pasar valas kita," tegas Gubernur BI, Perry Warjiyo usai melakukan rapat terbatas melalui video conference di Jakarta, Rabu (3/6).

Dia menjelaskan, koordinasi yang baik di tubuh pemerintah berimbas pada meningkatnya kepercayaan para investor untuk berinvestasi di pasar valas Tanah Air. Tercatat sampai 20 Mei 2020 terdapat Rp9,12 triliun dana yang berhasil diserap melalui surat berharga negara (SBN).

Bahkan, arus modal asing diprediksi akan terus meningkat khususnya di sekor investasi portofolio SBN. Hal ini diketahui dari update progres yang intens dilakukan jajarannya dari setiap minggunya.

Alhasil, cadangan devisa Indonesia mengalami peningkatan yang cukup tajam pada akhir April 2020 menyentuh USD 127,9 miliar. Peningkatan devisa pun diprediksi akan terus berlanjut seiring bergulirnya berbagai program penanganan covid-19 dan bantuan sosial bagi keluarga miskin di Indonesia.

"Kondisi yang sama di mana inflasi secara tahunan (year on year) mengalami penurunan sebesar 2,19 persen. Diikuti yield SBN yang turun menjadi 7,2 persen dari sebelumnya yang mencapai 8,08 persen," jelas dia. (mdk/azz)

Baca juga:
BI dan Kemenkeu Bakal Lakukan 'Burden Sharing' Pendanaan Defisit APBN
BI Optimis Rupiah Terus Menguat di Tengah Pandemi Covid-19
April 2020, Uang Beredar Tumbuh Lebih Rendah Capai 8,6 Persen
Jokowi Minta Ada Konsep Berbagi Beban dalam Pemulihan Ekonomi Nasional
Ini Peran Bank Indonesia Dukung Pemulihan Ekonomi Akibat Covid-19
Per 26 Mei, Kepemilikan SBN Bank Indonesia Capai Rp443,48 Triliun

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Menolak Bahaya Lebih Baik Daripada Mengejar Manfaat

5