Startup Unicorn Tarik Investasi Asing ke Indonesia

UANG | 23 Juli 2019 14:11 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Peran industri rintisan karya anak bangsa seperti Go-Jek dinilai sangat besar dalam memimpin transformasi Revolusi Industri 4.0. Lewat perusahaan rintisan yang digagas anak bangsa tersebut, nilai lebih ekonomi maupun aliran investasi semakin besar buat masyarakat Indonesia.

CEO Alvara Research, Hasanuddin Ali menegaskan bahwa aplikasi digital karya anak bangsa seperti Go-Jek dan Traveloka mampu jadi acuan memenangkan persaingan dengan aplikasi sejenis milik asing. Bahkan, di kalangan generasi milenial, Go-Jek mampu mengungguli Grab yang merupakan aplikasi asing dengan sokongan modal jumbo Softbank.

"Generasi milenial lebih memilih Go Jek, dan lebih merekomendasikan aplikasi tersebut dibandingkan Grab," ujar Hasanuddin.

Berdasarkan hasil penelitian antara Alvara dengan IDN Research Institute yang dilakukan secara tatap muka dengan metode Cluster Random terhadap 1.204 responden di Jabodetabek, Bali, Padang, Yogyakarta dan Manado.

Dari data itu, dia membagi dalam lima kategori e-commerce yang diminati kelompok milenial seperti layanan transportasi, aplikasi pesan-antar makanan, aplikasi belanja, aplikasi pemesanan hotel dan tiket, dan pembayaran digital.

Di layanan aplikasi transportasi, Go-Jek lebih banyak digunakan responden yakni sebesar 70,4 persen dibanding Grab 45,7 persen. Di sisi aplikasi pesan-antar makanan, Go-Food yang juga masih layanan Go-Jek mendominasi pasar dengan 71,1 persen dibanding GrabFood 39,9 persen.

Sebelumnya, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro mengatakan, menjamurnya startup di Indonesia dinilai membawa dampak positif bagi perekonomian. Apalagi, apabila rintisan itu berkembang pesat dan menjadi unicorn ataupun decacorn. Keberadaan perusahaan sekelas Go-Jek yang lahir dari Indonesia, semakin penting dalam perekonomian. Bahkan, kehadiran mereka selama ini mampu menarik aliran modal asing ke RI.

"Market value yang besar pasti akan mengundang modal masuk dan kita harapkan juga kalau makin besar, dia menjadi pelaku yang semakin global," ujar Bambang di Jakarta.

Bambang membantah jika investasi asing yang masuk ke unicorn akan merugikan Indonesia. Sebab, investasi yang masuk dikategorikan sebagai foreign direct investment (FDI). Dia menyebut, dividen yang nantinya dihasilkan juga tidak akan lebih besar dari FDI yang masuk.

"Tapi kan, jauh lebih besar inflow-nya daripada dividen outflow-nya. Dan kita juga melihat kalau unicorn ini berkembang, sebagian dividen dipakai untuk investment lagi," ucap dia.

Dia berharap unicorn dapat berperan lebih besar lagi dalam mendorong Indonesia menuju era transformasi digital dan Revolusi Industri 4.0. Pasalnya, unicorn memiliki ciri khas yang lekat dengan penggunaan teknologi. "Kita fokus antisipasi dari ekonomi digital dari Revolusi Industri 4.0, di mana, unicorn kita harapkan menjadi salah satu pelaku yang membawa transformasi itu sendiri," ujar Bambang.

Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf mengapresiasi kiprah Go Jek, yang juga menandai perkembangan baru bagi industri kreatif. Menurutnya, Go-Jek merupakan salah satu usaha rintisan yang memberikan nilai social solutions.

"Untuk mendukung kehadiran usaha rintisan tersebut, pemerintah selalu berupaya agar tak menghalangi unit bisnis kreatif milik anak bangsa yang dalam perkembangan untuk tidak membebaninya aturan yang tidak relevan," ucap Triawan.

(mdk/idr)

TOPIK TERKAIT