Suku bunga KPR makin mencekik masyarakat

UANG | 5 Februari 2014 09:03 Reporter : Sri Wiyanti

Merdeka.com - Kondisi perekonomian saat ini memaksa Bank Indonesia (BI) secara bertahap menaikkan suku bunga acuannya atau BI Rate sebesar 1,75 basis poin dari 5,5 persen menjadi 7,5 persen. Kebijakan ini otomatis mendorong perbankan menaikkan suku bunga simpanan, disusul dengan kenaikan suku bunga kredit, termasuk Kredit Pemilikan Rumah.

Naiknya suku bunga KPR membuat nasabah harus rela membayar lebih mahal cicilan rumah setiap bulannya. Bahkan ada yang mengurungkan niat mencicil pembelian rumah. Beban tersebut masih ditambah dengan inflasi, yang secara tahunan mencapai 8,22 persen. Harga rumah yang bisa melonjak hingga 20 kali lipat ditambah inflasi yang meroket, menjadikan keinginan untuk membeli rumah hanya sebatas mimpi.

Salah satu nasabah KPR FLPP bank BUMN, Firda mengaku beruntung memiliki cicilan KPR dengan suku bunga flat selama 10 tahun. Dengan demikian, besarnya cicilan yang harus dibayar setiap bulan sudah bisa diperhitungkan sebelumnya.

"Nggak naik cicilan, soalnya flat FLPP 10 tahun. Tiap bulan hampir Rp 800.000," kata Firda kepada merdeka.com, Selasa (4/2).

Meski cicilan KPR Firda tidak bertambah, namun alokasi dana yang dikeluarkan tetap membesar lantaran kenaikan harga-harga yang menyebabkan inflasi mencapai angka lebih dari 8 persen.

"Porsi uang yang dikeluarkan jadi lebih besar. Kalau kemarin-kemarin kan yang disimpan atau diinvestasikan lumayan banyak, sekarang tergerus," jelas Firda.

Berbeda dengan Firda, Putra mengaku sempat berpikir ulang untuk mengajukan KPR dalam kondisi suku bunga tinggi seperti saat ini. Namun dia terpaksa mengambil risiko harus membayar mahal untuk suku bunga KPR.

"Tetap mengajukan cuma tinggal hitung-hitungan risiko. Kalau nanti-nanti sama aja tidak bisa punya rumah," ungkap Putra.

Hampir semua bank menaikkan suku bunga KPR. Rata-rata suku bunga KPR sudah double digit. Direktur Utama Bank OCBC NISP Parwati Surjaudaja mengatakan, perseroan menaikkan suku bunga kredit untuk semua segmen, mengikuti kenaikan BI Rate. "Kami sudah menaikkan kurang lebih 1 persen," kata Parwati.

Asosiasi pengembang perumahan, Real Estate Indonesia (REI) mengaku harga bahan baku rumah yang terus meningkat, tidak sesuai dengan harga rumah murah yang telah dipatok oleh pemerintah sekitar lima tahun lalu. Harga jual rumah tersebut dinilai terlalu rendah.

"Sekarang harga rumah murah Rp 88 juta dan itu masih dibangun REI dan berlaku sampai saat ini. Cari mobil yang Rp 100 juta saja sudah susah. Berat bagi pengembang untuk menyediakan rumah murah dengan harga itu," ujar Eddy beberapa waktu lalu.

Indonesia masuk kategori negara dengan kebutuhan perumahan yang cukup besar. Sekitar 2,75 juta kebutuhan perumahan di Indonesia, sedangkan yang mampu dipenuhi hanya sedikit. REI sendiri mematok pembangunan Rumah untuk masyarakat kelas menengah ke bawah sekitar 150.000 tahun ini dengan dana sekitar Rp 200 triliun.

Berikut suku bunga KPR yang berlaku di beberapa bank. Namun, suku bunga KPR tersebut belum memperhitungkan komponen premi risiko yang besarannya tergantung masing-masing bank.

Bunga KPR:

BRI: 10,25 persen

Bank Mandiri: 11 persen

BNI: 11,10 persen

BTN: 11 persen

BCA: 10,5 persen

Bank: Danamon 12 persen

CIMBNiaga: 10,8 persen

Permata Bank: 12,5 persen

Panin Bank: 10,73 persen

OCBCNisp: 12,5 persen

BII: 10,77 persen

Bank BJB: 8,93 persen

Bank DKI: 10,8 persen

(mdk/noe)

TOPIK TERKAIT