Suku Bunga KPR Terpantau Turun, Bagaimana dengan Harga Rumah?

Suku Bunga KPR Terpantau Turun, Bagaimana dengan Harga Rumah?
perumahan. ©2012 Merdeka.com/sapto anggoro
EKONOMI | 29 April 2021 19:45 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 19-20 April 2021 lalu memutuskan untuk tetap mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,50 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25 persen. Bank Indonesia (BI) juga mengklaim rata-rata tingkat suku bunga dasar kredit (SBDK) perbankan di dalam negeri sekitar 9,05 persen pada Februari 2021.

Country Manager Rumah.com, Marine Novita mengatakan, kebijakan bank sentral mempertahankan suku bunga acuan diharapkan bisa mendukung pemulihan ekonomi nasional. Selain itu, kebijakan ini diharapkan bisa mendongkrak pertumbuhan bisnis properti yang sedang mengalami stagnasi di tengah pandemi.

Menurut Marine, yang paling penting dari kebijakan penurunan bunga BI adalah pelaksanaannya. Sebab, terlihat secara historis, langkah BI menurunkan suku bunga acuannya tidak langsung diikuti oleh kalangan perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit khususnya Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA), sehingga walaupun suku bunga BI sudah turun namun industri properti tidak bisa segera langsung merasakan dampaknya.

"Penurunan suku bunga acuan BI7DRR terus berlangsung selama setahun terakhir dimana secara tahunan BI7DRR sudah turun sebesar 100 bps dari bulan April 2020 lalu. Turunnya BI7DRR telah sedikit mendorong turunnya suku bunga kredit properti. Suku bunga KPR mengalami penurunan tipis dari 8,67 persen menjadi 8,26 persen dan KPA dari 8,63 persen menjadi 8,22 persen berdasarkan data Bank Indonesia per Februari 2021," jelasnya.

Marine menambahkan bahwa situasi pasar properti saat ini memang terlihat semakin kondusif bagi konsumen. Apalagi sesuai dengan data Rumah.com Indonesia Property Market Index Q1 2021, di mana pada kuartal keempat 2020 terjadi penurunan harga properti, kenaikan suplai, dan turunnya permintaan secara nasional.

Data RIPMI menunjukkan bahwa indeks harga kota-kota satelit Jakarta relatif stabil dan hanya mengalami kenaikan atau penurunan secara tipis dibandingkan kuartal sebelumnya. Di wilayah Banten, indeks harga properti Kota Tangerang mengalami kenaikan tipis dari 119,6 poin menjadi 122,3 poin pada Q4 2020. Sebaliknya indeks harga Kabupaten Tangerang justru mengalami penurunan tipis dari 116,8 poin menjadi 114,3 poin pada Q4 2020. Sedangkan Tangerang Selatan stabil pada posisi 114 poin.

Indeks harga properti di Kabupaten Tangerang turun sebesar 2,1 persen secara kuartalan pada Q4 2020. Ini merupakan pertama kalinya harga properti di kawasan sunrise property tersebut mengalami penurunan secara kuartalan dalam satu tahun terakhir. Menurut Marine, turunnya harga properti di Kabupaten Tangerang ini masih dalam batas yang wajar.

"Kabupaten Tangerang selalu mengalami peningkatan harga setiap kuartalnya. Pada kuartal ini pengembang dan penyedia suplai mungkin melakukan sedikit penyesuaian harga untuk tetap menjaga minat pencari properti. Sedangkan secara tahunan, Kabupaten Tangerang masih mencatatkan kenaikan sebesar dua persen," jelas Marine.

Sementara di wilayah Jawa Barat, indeks harga properti Depok mengalami kenaikan secara drastis dari 128,9 poin menjadi 138,2 poin pada Q4 2020, Kota Bekasi naik tipis dari 119,2 poin menjadi 122,2 poin pada Q4 2020, Kabupaten Bekasi naik dari 109,4 poin menjadi 116,5 poin pada Q4 2020, Kota Bogor naik tipis dari 110,3 menjadi 110,8 poin pada Q4 2020 sedangkan Kabupaten Bogor justru mengalami penurunan dari 128,4 poin menjadi 125,6 poin pada Q4 2020.

Baca Selanjutnya: Sisi Suplai...

Halaman

(mdk/idr)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami