Susi Pudjiastuti Ungkap Penyebab Garam Petani Tak Terserap

Susi Pudjiastuti Ungkap Penyebab Garam Petani Tak Terserap
UANG | 15 Januari 2020 15:08 Reporter : Dwi Aditya Putra

Merdeka.com - Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengakui bahwa impor garam pada tahun 2019 naik hampir sebesar 60 persen. Kenaikan signifikan tersebut membuat para petani tidak bisa menjual garamnya, meskipun harga jual dibanderol setengah harga.

"Mengingatkan kepada kita akan garam para petani di musim ini yang tidak terjual karena jumlah Impor yang berlebihan," kata Susi dikutip dari akun Twitternya @susipudjiastuti, Rabu (15/1).

Dia menjelaskan, sejak 2015-2017 impor garam di bawah kendalinya dibatasi sehingga harga garam petani bisa tembus di atas Rp1.500 - 2.000 lebih per Kilogram (Kg). Dengan kondisi itu maka semua produksi petani bisa terserap oleh pasar.

"Mulai 2018, impor naik tinggi sekali. Neraca produksi garam diabaikan. Sehingga harga petani jatuh dan masih belum bisa jual produksinya," tulisnya.

1 dari 1 halaman

2,2 Juta Garam Impor Masuk RI per Oktober 2019

garam impor masuk ri per oktober 2019

Direktur Jenderal Perdagangan Kementerian Perdagangan Indrasari wisnu wardhana mengatakan, garam impor sudah masuk 2,2 juta ton ke dalam negeri. Jumlah tersebut merupakan bagian dari kuota impor garam tahun ini sebesar 2,7 gram.

Dia mengatakan, sejauh ini belum ada permintaan untuk menambah kuota impor garam. Selain itu dia menegaskan, kuota impor tahun ini tidak akan terealisasi seluruhnya apabila industri tidak membutuhkan.

"Tergantung industrinya, mau direalisasi semuanya atau tidak. (Akan segera keluar?) Kan sudah dikeluarkan dari kemarin-kemarin, tinggal realisasinya," jelasnya di Kantor Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Jakarta, Selasa (5/11/2019).

Sementara itu, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo mengatakan, pihaknya belum melihat saat ini ada urgensi untuk menambah kuota impor. Impor bisa dilakukan apabila kebutuhan dalam negeri tidak mampu dipenuhi oleh petani garam.

"Pada akhirnya impor itu suatu keterpaksaan. Bukan suatu keharusan. Kalau dalam negeri ada tentunya tidak akan serapan. Kalau ada produksi dalam negeri kita, kita pakai yang didalam negeri," jelasnya. (mdk/azz)

Baca juga:
Bisa Dihasilkan Sendiri, Mengapa Produk ini Masih Impor?
2,2 Juta Ton Garam Impor Masuk ke RI per Oktober 2019
Presiden Jokowi Banggakan Garam NTT Lebih Bagus dari Produk Impor Australia
Tinjau Tambak, Jokowi Sebut Kualitas Garam Kupang Timur Lebih Bagus dari Australia
Impor Garam Industri Tak Terealisasi Sempurna, PHK Karyawan Banyak Terjadi
4 Momen Ini Bikin Menteri Susi Marah

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami