Tak Hanya Serbuan Impor, Ini Penyebab Perusahaan Tekstil RI Gulung Tikar

UANG | 11 Desember 2019 12:38 Reporter : Yayu Agustini Rahayu

Merdeka.com - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyebutkan, banyak faktor yang membuat perusahaan tekstil di Indonesia yang gulung tikar, salah satunya adalah serbuan produk impor. Selain itu, faktor upah juga menjadi salah satu isu penting di industri ini.

"Yang pertama tenaga kerja, upah, upah itu sudah mulai naik. Yang kedua penetrasi impor tinggi," kata dia, di kantornya, Jakarta, Rabu (11/12).

Selain itu, HPP (harga pokok produksi) dalam negeri cukup tinggi sebab bahan baku masih mahal. "Kan memang agak mahal karena mesin-mesin kita agak tua perlu peremajaan," ujarnya.

Namun, BKPM masih menunggu data angka pasti dari asosiasi soal jumlah pabrik yang sudah tutup hingga kini. "Belum, kita belum punya data, kita nanti data teknisnya saya lagi minta teman-teman API dan APSyFI (Asosiasi Produsen Serat Sintesis dan Benang Filamen Indonesia) untuk melaporkan di hari Rabu. Kami akan tindak lanjuti di Rabu," ujarnya.

1 dari 1 halaman

Permintaan Pengusaha

Dalam kesempatan serupa, Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Ravi Shankar menyebutkan, ada beberapa faktor yang membuat tekstil Indonesia kurang kompetitif dan kalah di pasar sendiri.

"Kita sudah sampaikan beberapa permasalahan yang membuat kita tidak kompetitif, masalah gas, masalah PLN, masalah aturan perpajakan, masalah aturan kepabeanan, lingkungan," ungkapnya.

Oleh karena, itu dia meminta pemerintah dapat segera mengharmonisasikan kebijakan antar kementerian/lembaga terkait. "Kadang-kadang kepentingan ini ada beberapa hal yang perlu disinkronisasikan. Kita harap BKPM bisa sinkronkan, harmonisasi regulasi, seperti itu," tutupnya. (mdk/azz)

Baca juga:
Pemerintah Cari Cara Industri Tekstil RI Tak Dibanjiri Produk China
Pakaian Bekas Impor Masih Banyak Peminat di Ibu Kota
Jokowi Panggil Pengusaha Bahas Upaya Naikkan Nilai dan Kuantitas Ekspor Tekstil
Aturan Baru, Sri Mulyani Kenakan Tarif Impor Tekstil Hingga 67 Persen
Cegah Perlambatan Pertumbuhan Industri RI, Pemerintah Andalkan Sektor Tekstil
Sebutan Sunset Bikin Industri Tekstil Nasional Melempem

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.