Tak Mau Ulangi Kesalahan, Bos Pertamina Lebih Selektif Akuisisi Blok Luar Negeri

UANG | 12 Desember 2019 19:39 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - PT Pertamina (Persero) tengah membidik potensi Participating Interest (PI) di Wilayah Kerja (WK) luar negeri yang telah terbukti menghasilkan produksi. Saat ini penjajakan terdekat masih pada dua perusahaan minyak asal Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, yakni ADNOC dan Mubadala.

Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati, mengatakan pihaknya berupaya mengurangi risiko masalah hukum dalam penjajakan kerjasama di WK luar negeri seperti yang dilakukan pendahulunya.

"Untuk antisipasi masalah itu, akuisisi luar negeri kami fokus ke WK yang sudah berproduksi. Kami juga menggandeng aparat hukum dalam setiap langkah pelaksanaan," ujar dia di Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (12/12).

Adapun sebelumnya, eks Dirut Pertamina Karen Agustiawan telah divonis 8 tahun penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta atas korupsi investasi blok Basker Manta Gummy (BMG) di Australia.

Karen Agustiawan dinyatakan bersalah terkait investasi Pertamina yang merugikan keuangan negara senilai Rp568,066 miliar.

Dari fakta persidangan, majelis hakim menilai wanita yang pernah menjadi guru besar di Universitas Harvard ini tidak melakukan tata tertib aturan perusahaan dalam mengambil keputusan seperti investasi.

Vonis hakim lebih ringan dari tuntutan jaksa penuntut umum yang menuntut mantan bos Pertamina itu 15 tahun penjara serta membayar uang pengganti Rp284 miliar. Sementara vonis hakim tidak mewajibkan Karen membayar uang pengganti karena dinyatakan tidak terbukti menerima keuntungan.

1 dari 1 halaman

Wamen BUMN: Pertamina Salah Satu Kasir Terbesar Negara

Wakil Menteri BUMN Budi Gunadi Sadikin mengatakan, PT Pertamina (Persero) merupakan salah satu perusahaan milik negara penyumbang dividen dengan jumlah terbesar. "Jadi kalau ditanya, dividen Bu Nicke (Widyawati, Dirut Pertamina) salah satu kasir paling besar dari BUMN, karena setorannya paling besar," ujar Budi di kantornya, Jakarta, Kamis (12/12).

Budi menyatakan, nilai keuangan Pertamina tercermin dari pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) perseroan selama 2019 yang mencapai USD 9 miliar. Menurut dia, pencapaian tersebut sangat besar, dan berada di atas BUMN lain seperti PT Freeport yang sekitar USD 4 miliar.

"Keuangan Pertamina sangat kuat. EBITDA mereka USD 9 miliar. Itu di atas USD 2,5 miliar saja sudah besar sekali. Jadi kemampuan keuangannya enggak ada masalah," jelas dia.

Lebih lanjut, dia juga memuji berbagai pencapaian bagus Pertamina, termasuk sudah tidak mengimpor diesel lagi sejak Maret 2019. "Sejak April, Pertamina juga sudah tidak impor avtur. Jadi dua-duanya (diesel dan avtur) sudah tidak impor lagi karena kilangnya Pertamina sudah bisa produksi sesuai kebutuhan domestik," tuturnya.

"Malah sudah bisa ekspor avtur. Jadi kalau ada omongan Pertamina masih impor, itu perlu dikoreksi. Yang masih impor tinggal gasoline," dia menandaskan.

Reporter: Maulandy Rizky Bayu Kencana
Sumber: Liputan6.com (mdk/bim)

Baca juga:
Pertamina Jamin Stok BBM di Malang Aman Selama Natal dan Tahun Baru
BUMN: Solar B30 Tersedia di SPBU Akhir Bulan Ini
Jokowi ke Ahok: Kawal Pembangunan Kilang, Kebangetan sudah 34 Tahun Tak Bisa Bangun
Menko Luhut: Pertamina Itu Sumber Kekacauan Paling Banyak, yang Tolak Ahok Terancam
Ahok Temui Presiden di Istana
Ahok dan Bos Pertamina Temui Jokowi, Bahas Defisit Neraca Perdagangan
7.500 Pelari Pertamina Eco Run 2019 Turut Lestarikan Satwa Langka

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.