Tak Mudah Indonesia Ciptakan Energi Terbarukan yang Murah, Andal, dan Berkelanjutan

Tak Mudah Indonesia Ciptakan Energi Terbarukan yang Murah, Andal, dan Berkelanjutan
UANG | 3 Juni 2020 17:39 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Kajian mengenai pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia, yang andal dengan harga yang relatif terjangkau dan berkelanjutan, masih terus bergulir. Sebab, ketiga hal itu cukup sulit diimplementasikan dalam waktu yang bersamaan.

Praktisi Energi Global & Mahasiswa Doktoral Universitas Pertahanan, Sampe L. Purba, menyebutkan situasi ini sebagai trilemma energi, yaitu menemukan satu titik optimum atas 3 hal yang saling bertentangan atau setidaknya yang tidak sejalan.

"Tidaklah mudah bagi kita mendapatkan sesuatu dengan harga murah (affordable), handal (reliable), dan berkelanjutan (sustainable)," ujarnya dalam webinar Menakar Kembali Transisi Energi di Indonesia, Rabu (3/6).

Sampe menyebutkan beberapa hal yang mempengaruhi 3 hal tersebut secara garis besar. Pertama cost structure, meliputi fixed capex, fixed opex, dan variable opex.

Kedua, terkait dengan reliability yakni mencakup base load, intermittent, dual source, power storage, sensitivity to weather, dan grid integration. "Jadi ini ada persoalan teknologi, jadi tidak semata-mata soal harga," ujar Sampe.

Kemudian untuk sustainability, hal ini terkait dengan feedstock, output, dan selanjutnya offtaker and consumers.

"Sumbernya, misalkan biomass atau waste, ada tidak sumbernya, siapa yang bisa mengerjakan, berapa lama pengerjaannya. Kemudian outputnya, seberapa jauh dia akan mengurangi CO2 reduction, kemudian siapa yang akan membeli ," beber dia.

"Jadi tiga hal ini harus terpadu," imbuhnya.

Sementara itu, Sampe juga mempertanyakan sejauh mana target bauran energi terbarukan 23 persen di 2025 dapat terwujud, sementara dengan kondisi normal (tanpa wabah covid-19) pun proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia selalu tidak tercapai.

"Sistem seperti apa yang seharusnya dijalankan agar setiap target yang dicanangkan dapat tercapai, dan perlukan proyek energi terbarukan menjadi prioritas mendapatkan paket stimulus fiskal akibat covid-19," tandas dia.

1 dari 1 halaman

Menteri Arifin Nilai Saatnya RI Kembangkan Energi Terbarukan

nilai saatnya ri kembangkan energi terbarukan

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif, mengatakan sudah saatnya Indonesia mengembangkan energi terbarukan, untuk memperbaiki lingkungan hidup. Dia mencontohkan seperti di kota Jakarta, di mana kadar emisi karbonnya sudah di atas 40 persen.

Maka dari itu, penggalakan energi terbarukan mutlak diperlukan di Jakarta guna menekan tingkat emisi. "Di ASEAN, Jakarta paling tinggi (emisi karbon). Maka dari itu memang energi dari matahari betul-betul kita galakkan dan intensifkan," ujarnya dalam acara Jakarta Energy Forum 2020 dengan tema 'The Future of Energy', di The Tribrata Darmawangsa, Jakarta, Senin (2/3).

"Kita mempunyai lapangan bagaimana ini atap-atap rumah, atap gudang bisa dipasang panel-panel untuk ke depannya," tambahnya.

Menurut dia, penggunaan atap surya juga bermanfaat memotong biaya listrik 15 persen hingga 20 persen. Selain itu, Menteri Arifin juga mengatakan bahwa Indonesia memiliki potensi tenaga bio, yang bisa digunakan sebagai peluang mengembangkan energi terbarukan.

"Kita punya potensi tenaga bio, ini adalah satu preventif untuk kita kalau kita ingin memanfaatkan, jadi prospek untuk bisa berkecimpung di energi terbarukan ini bisa akan sangat terbuka lebar, tergantung bagaimana kita bisa mencermati," ujarnya.

Dia menambahkan, dengan pengembangan energi terbarukan, turut bisa membantu masyarakat yang tinggal di daerah, supaya bisa mendapatkan energi khususnya listrik yang digunakan untuk mendukung kecerdasan nasional. "Masyarakat yang tertinggal bisa memiliki energi khususnya penerangan, yang bisa mendorong anak-anaknya bisa belajar dan lebih cerdas," ujarnya.

Reporter: Pipit Ika Ramadhani

Sumber: Liputan6

(mdk/bim)

Baca juga:
Aliri Listrik 433 Desa Terpencil, PLN Gelontorkan Rp735 Triliun
7 Macam-Macam Energi Alternatif dan Bisa Mengurangi Kerusakan Lingkungan
Limbah Cair Kelapa Sawit PTPN V Diubah Jadi Sumber Listrik Terbarukan
Pengusaha Muda Mulai Jajaki Bisnis Energi
Menteri Arifin: Emisi Karbon Jakarta Tertinggi di Asia Tenggara
Industri Sawit di Sumatera Selatan Akan Dilistriki PLTS
Hingga 12 Februari 2020, Penyerapan B30 Capai 8,2 Persen

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Pariwisata Banyuwangi Bersiap Menyambut New Normal

5