Tekan impor gandum, Kementan kembangkan mie berbahan baku sagu

UANG | 7 November 2018 13:27 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong produksi bahan pangan lokal untuk dapat menggantikan posisi produk impor sebagai sumber konsumsi warga. Tidak hanya beras, Kementan turut mengajak pihak swasta untuk bisa menciptakan mie berbasis sumber daya lokal sebagai pengganti terigu yang selama ini berbahan dasar gandum impor.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Muhammad Syakir, mengaku telah mendapat arahan dari Menteri Pertanian Amran Sulaiman agar mampu memanfaatkan kehadiran sumber daya pangan lokal yang terbilang melimpah.

"Oleh karena itu, beliau menugaskan kepada Balitbang Kementerian Pertanian untuk membuat suatu pengolahan-pengolahan. Yang utama adalah mie, karena kita banyak mengimpor mie berbasis gandum, untuk membuat mie yang berbasis pada lokal," ucap dia dalam acara Pangan Lokal Fiesta di Bogor, Rabu (7/11).

Dalam hal ini, Syakir memberi contoh produk Mie Nusantara yang diproduksi dengan bahan dasar komoditas pangan lokal. "Dan hari ini kita menunjukan, bahwa teknologi sudah siap, dan rasanya adalah enak. Beberapa perusahaan sudah siap mengembangkan mie berbasis pangan lokal ini," sambungnya.

Oleh karena itu, dia berkeyakinan, pada 2045 mendatang Indonesia mampu menjadi Lumbung Pangan Dunia, sekaligus menunjukan bahwa negara memiliki basis pangan lokal yang bervariasi. "Ini sekaligus menunjukan kepada dunia, bahwa Indonesia bisa mandiri pangan berbasis pangan lokal, dan mengurangi impor pangan yang berbasis gandum secara signifikan," dia menegaskan.

Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, dia menyebutkan, pemerintah telah menyiapkan teknologi yang dibutuhkan, serta mengajak para pelaku industri pangan di berbagai daerah untuk mengampanyekan konsumsi produk berbasis bahan pangan lokal.

"Kita ajak kerjasama, supaya membangkitkan kembali pangan-pangan lokal yang pernah jadi konsumsi utama masyarakat setempat, seperti sagu di Papua dan Maluku," ungkap dia.

Dia pun mengaku optimistis, jika sumber daya pangan tiap daerah di Tanah Air mampu memenuhi kebutuhan konsumsi warga ke depannya. "Kita punya cukup besar. Jadi kita sudah memetakan di mana itu sorgum, itu tumbuh baik di NTT. Juga kita lihat basis utama terbesar dunia, sagu, kita punya di Papua dan Maluku. Juga ubi kayu sudah jalan. Jadi kekuatan sudah ada," ujar dia.

Reporter: Maulandy Rizky Bayu Kencana
Sumber: Liputan6.com

Baca juga:
Pertumbuhan ekspor kuartal III 2018 menurun
Tanggapi Prabowo, Wapres JK sebut negara butuh impor untuk penyeimbang ekspor
Mentan Amran sebut impor jagung dibutuhkan untuk lindungi peternak kecil
Janji-janji manis Jokowi dan Prabowo saat kampanye
Mendag Enggar hindari perang dagang dengan China
BI sebut penguatan Rupiah bukti keberhasilan pemerintah tekan impor
Indonesia genjot ekspor batu bara ke Pakistan

(mdk/bim)