Telkom: Dulu Berjaya Kini Dipandang Sebelah Mata

Telkom: Dulu Berjaya Kini Dipandang Sebelah Mata
Telkom. © Itwire.com
UANG | 26 Februari 2020 08:00 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Telepon rumah atau telepon kabel pernah jaya dan menjadi teknologi paling canggih di era 1990-an. Telepon kabel ini mampu menghubungkan kerabat yang terpisah antar pulau sekalipun. Meski tak bisa saling bertatap seperti video call zaman sekarang, berbicara melalui telepon kabel sudah bisa mengobati rindu kepada kerabat yang terpisah jauh.

Hal inilah yang dirasakan Vivi waktu pertama merantau ke Jakarta tahun 2002 silam. Telepon kabel sangat memudahkan dia berkomunikasi dengan keluarga di Sumatera, walaupun hanya sebatas menanyakan kabar. Telepon kabel di kos-kosan Vivi di Jakarta sering ditelepon orang tua dari Sumatera.

"Waktu itu saya belum ada HP, jadi orang tua menghubungi melalui telepon kos-kosan. Biasanya malam minggu suka menelepon," kata Vivi.

Masifnya perkembangan telepon kabel ini setelah peluncuran satelit Palapa A-1 berjenis HS-333 dari Cape Canaveral pada 9 Juli 1976. Perubahan besar terjadi pada era 1989 hingga 1992, di mana Perusahaan Umum Telekomunikasi (Perumtel) yang sebelumnya bernama Post Telegraaf en Telefoon Dienst, menghadapi tantangan untuk segera mewujudkan otomatisasi jaringan seluruh Ibukota. Badan usaha yang semula berbentuk Perusahaan Umum (Perum) itu pun berubah menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) dengan nama PT Telekomunikasi Indonesia atau Telkom.

Telkom saat itu menjadi salah satu BUMN kebanggaan Indonesia. Jasa telekomunikasi nasional maupun internasional sangat dibutuhkan. Moncernya bisnis Telkom mengantarkan perusahaan menjadi satu-satunya BUMN yang melakukan penawaran umum perdana atau listing saham di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya yang saat ini bernama Bursa Efek Indonesia. Tak berhenti di situ, Telkom juga mencatatkan penjualan saham di Bursa Efek New York (New York Stock Exchange/NYSE).

Layanan telepon kabel dulu memang memberi kontribusi besar pada pendapatan Telkom. Mengutip laporan keuangan Telkom yang ditulis detikfinancetahun 2005 silam, pendapatan Telkom sepanjang 2004 mencapai Rp33,947 triliun dengan laba bersih Rp6,129 triliun. Pendapatan terbesar Telkom masih dari kontribusi telepon tetap atau telepon kabel dan telepon seluler.

grafis kejayaan telkom

Pendapatan telepon kabel tahun 2004 tercatat sebesar Rp10,645 triliun naik 19,6 persen dibandingkan tahun 2003 yang sebesar Rp8,896 triliun. Sedangkan pendapatan seluler yang merupakan kontribusi dari anak usahanya PT Telkomsel hanya Rp10,421 triliun naik 23,2 persen dibandingkan tahun 2003 sebesar Rp 8,458 triliun. Pendapatan telepon tetap waktu itu bahkan mengalahkan pendapatan data dan internet yang hanya Rp4,808 triliun dibandingkan tahun 2003 sebesar Rp3,108 triliun.

Pada tahun 2005, pendapatan Telkom tercatat kembali naik menjadi Rp41,8 triliun. Namun, pendapatan perusahaan dari telepon kabel hanya naik tipis atau 1,3 persen atau Rp146 miliar menjadi Rp10,8 triliun. Sedangkan pendapatan jasa internet mulai naik signifikan 44 persen atau Rp2,1 triliun menjadi Rp6,9 triliun. Pendapatan telepon selular dari Telkomsel juga naik 40 persen atau Rp4,2 triliun menjadi Rp14,6 triliun. Demikian mengutip Antara.

Pada tahun 2006, Telkom mencatatkan pendapatan Rp51,3 triliun atau naik dibanding tahun 2005 yang hanya Rp41,8 triliun. Kemudian pada 2007, pendapatan Telkom tercatat Rp59,4 triliun atau naik 15,9 persen lebih tinggi dibandingkan pendapatan 2006. Namun kondisi mulai berubah di tahun ini. Pendapatan Telkom 2007 disokong paling banyak bisnis seluler melalui anak usaha Telkomsel yaitu Rp22,6 triliun. Untuk pendapatan data dan internet juga naik tajam menjadi Rp14,7 triliun. Sementara pendapatan untuk layanan fixed line atau telepon tetap nyaris tak bergerak yaitu Rp11 triliun atau hanya tumbuh 0,2 persen dibandingkan pendapatan 2006.

Baca Selanjutnya: Porsi Pendapatan Telkom Berubah...

Halaman

(mdk/idr)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami