Tembus Hingga Rp96 T, ini Penyebab Right Issue BRI Posisi 3 Terbesar Asia

Tembus Hingga Rp96 T, ini Penyebab Right Issue BRI Posisi 3 Terbesar Asia
Aktifitas Teller Bank BRi. ©2012 Merdeka.com
EKONOMI | 29 September 2021 16:37 Reporter : Dwi Aditya Putra

Merdeka.com - Suksesnya proses right issue PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dalam rangka pembentukan Holding Ultra Mikro dinilai akan menjadi pendorong bergairahnya pasar modal dalam negeri. Di mana, pasar Indonesia tengah digempur sentimen negatif dari luar negeri.

Pengamat Pasar Modal, Edhi Pranasidhi mengatakan, keberhasilan right issue bank Himbara tersebut menjadi faktor penarik. Sebab, aksi korporasi tersebut menjadi yang terbesar di Asia Tenggara dan ketiga terbesar di Asia.

Terlebih, kata dia, investor yang melakukan subscribe saat right issue BRI bukan hanya dari dalam negeri, tapi juga pialang asing. Sehingga ini menandakan iklim yang lebih positif di pasar modal Indonesia untuk menarik minat pemodal asing masuk.

Seperti diketahui, pasar modal Amerika Serikat atau Wall Street anjlok pada akhir perdagangan Selasa (28/9) waktu setempat, atau Rabu (29/9) pagi (WIB), yang menimbulkan potensi masuknya aliran dana asing ke pasar modal Indonesia.

"Wall Street jatuh karena harga bonds 10 tahun turun. Maka aset berisiko tinggi seperti saham jadinya tidak begitu menarik. Di sisi lain, kenaikan yield bonds mengindikasikan investor menjual bonds untuk mengantisipasi berkurangnya likuiditas USD akibat The Fed berpotensi memulai tapering di November. Kemana larinya hasil uang penjualan bonds di AS? Pasti para investor di AS tidak akan mau uangnya diam karena akan tergerus inflasi. Mereka akan mencari return yang lebih besar ke emerging market," ujarnya di Jakarta, Rabu (29/9).

Sebagai gambaran terkait pasar modal Amerika Serikat, indeks Dow Jones Industrial Average terpangkas 569,38 poin atau 1,63 persen, menetap di 34.299,99 poin. Indeks S&P 500 berkurang 90,48 poin atau 2,04 persen, berakhir di 4.352,63 poin. Indeks Komposit Nasdaq anjlok 423,29 poin atau 2,83 persen dan ditutup pada 14.546,68 poin. Sepuluh dari 11 sektor utama S&P 500 pun berakhir di zona merah.

Bursa saham Asia Pasifik pun jatuh pada perdagangan Rabu pagi karena terdampak bursa AS tersebut. Di Jepang, Nikkei 225 tergelincir 1,83 persen di awal perdagangan, sementara indeks Topix melemah 1,91 persen. Kospi Korea Selatan turun 1,77 persen. S&P/ASX 200 di Australia turun 0,32 persen Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang pun turun 0,32 persen.

2 dari 2 halaman

Selanjutnya

tembus hingga rp96 t, ini penyebab right issue bri posisi 3 terbesar asia

Kepala Riset Praus Capital, Alfred Nainggolan berpandangan sama. Menurutnya, saat ini investor institusi memiliki rencana aksi beli yang cukup besar. Sebabnya, BRI termasuk dalam bank milik pemerintah yang memiliki performa dan potensi cukup baik dengan pengelolaan risiko yang masih terjaga.

Dia pun menyebut saham BBRI akan mendorong sentimen yang positif dalam memacu potensi berlanjutnya aksi beli dari asing khususnya pada kuartal keempat tahun ini. Terlebih BRI memiliki konsistensi performa kinerja sangat solid sepanjang kuartal ketiga tahun ini.

"Sentimen saham Bank BUMN khususnya BBRI ke depan akan positif seiring dengan peningkatan aksi beli investor institusi di kuartal IV. Untuk target price BBRI di posisi Rp4.200 dengan price to book value 2,6 kali lipat," tuturnya.

Lebih rinci Alfred menyebut pergerakan saham BBRI secara tidak langsung dikendalikan oleh momentum rights issue, dengan harga relatif murah yakni Rp3.400. Dia pun menggaris bawahi potensi kinerja Holding Ultra Mikro (UMi) yang didanai rights issue tersebut ke depan akan sangat kuat dalam mendongkrak saham BBRI.

Alfred pun mengacu pada kinerja PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM dan PT Pegadaian (Persero) sebagai anggota Holding UMi yang juga tak kalah positif dari BRI. Dia menegaskan, pada tahun lalu laba kedua perseroan itu mencapai sekitar 12%-13 persen dari laba BRI pada tahun buku 2020.

Artinya, ke depan keuntungan usaha yang dihasilkan PNM dan Pegadaian akan cukup signifikan mendongkrak perolehan laba BRI sebagai induk holding. Faktor fundamental tersebut tentunya akan menjadi pertimbangan positif investor di pasar modal dalam mengapresiasi saham BBRI ke depan.

"Dengan ekspektasi keberhasilan sinergi maka kontribusi akan semakin meningkat dan mendorong pertumbuhan BRI ke depan. Pasca realisasi Holding UMi kami menargetkan valuasi BBRI berada di level 2,8 hingga 3,0 kali PBV," ujarnya.

(mdk/bim)

Baca juga:
Bos BRI Janji Holding Ultra Mikro Jadi Sumber Pertumbuhan Baru
CEK FAKTA: Hoaks Hadiah Ulang Tahun Senilai Rp2 Juta dari BRI
Erick Thohir soal Nilai Right Issue BRI Tertinggi di ASEAN: Kita Punya Market Besar
BEI: Nilai Right Issue BRI Rp96 Triliun Jadi Tertinggi di Kawasan Asia Tenggara
Dana Jumbo Rights Issue BBRI Akan Dorong Peningkatan Rasio Kredit UMKM
CEK FAKTA: Hati-Hati Nomor Kontak Palsu Layanan Pengaduan BRI
Jokowi Desak Persyaratan KUR Dipermudah, Ini Jawaban Bank BRI

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami