Tips Menjadi Pemimpin yang Baik ala Sri Mulyani: Jangan Munafik di Depan Anak Buah

Tips Menjadi Pemimpin yang Baik ala Sri Mulyani: Jangan Munafik di Depan Anak Buah
Hari Pertama KTT G20, Jokowi Akan Hadiri Sesi Ekonomi dan Kesehatan Global. ©Muchlis Jr - Biro Pers Sekretariat Presiden
EKONOMI | 8 Desember 2021 11:41 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengingatkan, jajaran pemimpin di Kementerian Keuangan supaya menjauhi dan mencegah korupsi. Dia juga meminta para pimpinan jangan menjadi pribadi yang munafik saat menjalankan aktivitas bekerja.

"Menjadi pimpinan, jangan jadi munafik waktu depan anak buah menjadi A dan ketika menjalan hidup jadi B. Hidup akan sangat lelah dengan split personality begitu," kata Menkeu Sri Mulyani dalam Peringatan Hari Antikorupsi Sedunia Kemenkeu, secara virtual, Rabu (8/12).

Menkeu menyebut terdapat tiga hal penting menjadi pemimpin. Pertama adalah tone at the top, kedua walk the talk dan ketiga role model.

"Anak buah kita melihat bagaimana kita bersikap bagaimana kita memimpin dan membuat keputusan. Tidak hanya itu, juga apa yang dimakan, bagaimana mereka spend weekend dengan keluarga, pakai baju apa, tas apa sampai arloji merek apa," jelasnya.

Menurutnya, hal tersebut layak diperhatikan oleh setiap pemimpin. Namun, bukan berarti pemimpin tidak bisa hidup normal, melainkan harus ingat dengan jabatan yang diemban, karena merupakan amanah yang besar.

"Kalau bisa dijalankan maka kita bisa mencapai role model. Aku tidak perlu harus pura-pura jujur, pura-pura sederhana, pura-pura tidak korupsi, sebab itu musuh dari integritas," ujarnya.

2 dari 2 halaman

Penyakit Korupsi Sangat Berbahaya

sangat berbahaya

Bendahara negara ini menegaskan, korupsi merupakan suatu penyakit yang sangat berbahaya, bahkan dilihat dalam perspektif makro korupsi dapat merusak kehidupan ekonomi dan demokrasi.

"Korupsi akan menurunkan kinerja ekonomi dan tentu akan menurunkan kinerja dari sistem demokrasi atau representasi. Ini adalah suatu penyakit yang ada dan bisa menghinggapi serta menggerus fondasi suatu masyarakat dan negara," jelasnya.

Bahaya korupsi sudah sangat nyata. Korupsi memiliki dampak yang luar biasa merusak. Korupsi bisa menggerus tingkat kepercayaan pemerintah.

"Karena masyarakat tidak lagi bisa mempercayai suatu pemerintah yang dianggap sangat korup, sehingga kemudian akan terjadi gejolak politik sosial, menciptakan kesenjangan yang luar biasa, menciptakan kerusakan dalam kehidupan sosial ekonomi," pungkasnya.

Reporter: Tira Santia

Sumber: Liputan6

(mdk/bim)

Baca juga:
Menkeu Sri Mulyani: Jangan Berpikir Korupsi Hanya Dilakukan Pejabat
KPK Dalami Barang Bukti dan Aliran Uang Korupsi DID Tabanan Bali
KPK Lanjutkan Pemeriksaan Dua Tersangka Suap Musi Banyuasin
Daftar 5 Orang Terdakwa Kasus Korupsi Asabri yang Dituntut 10-15 Tahun Penjara
KPK: Penyelidikan Azis Syamsuddin Dalam Suap DAK Lampung Tengah Masih Berjalan
Dukung Panglima TNI, Eks Petinggi OPM Minta 10 Kasus Besar Korupsi Diungkap
Divonis 5 Tahun Penjara, Nurdin Abdullah Tak Ajukan Banding

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami