Turunkan Harga Tiket, Pemerintah Kaji Pembebasan Bea Masuk Suku Cadang Pesawat

UANG | 25 Juni 2019 18:54 Reporter : Yayu Agustini Rahayu

Merdeka.com - Director of Business and Base Operation sekaligus Plt Direktur Utama PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF AeroAsia) Tazar Marta mengaku sedang berdiskusi dengan pemerintah mengenai pembebasan bea masuk untuk suku cadang pesawat.

Ini adalah tindak lanjut dari kebijakan pemerintah yang bertujuan untuk memangkas harga tiket pesawat melalui efisiensi biaya operasi maskapai.

"Pembebasan bea masuk, sebelumnya sudah ada ini, tetapi yang kami harapkan bisa seluruhnya. Sisanya masih progress, kami masih diskusi dengan Kemenperin dan Kemenkeu supaya yang lain bisa masuk bagian dari insentif," kata dia dalam sebuah acara diskusi, di Kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (25/6).

Untuk saat ini impor suku cadang pesawat mencapai 300 jenis. Dari jumlah tersebut, hanya 25 komponen yang telah menerima pembebasan bea masuk. Selebihnya dikenakan retribusi mulai dari kisaran 5 persen-20 persen.

Meskipun pelonggaran bea impor berkontribusi pada pengurangan biaya operasi maskapai, kontribusi terbesar berasal dari biaya perawatan mesin. Sebab, selama ini maskapai melalui GMF telah memelihara mesin pesawat di luar negeri seperti di negara-negara di Eropa, Amerika, dan terdekat dengan Malaysia.

Dia menjelaskan saat ini GMF sendiri baru mengantongi dua lisensi perawatan mesin, yaitu mesin untuk pesawat seri A320 dan Boeing 737. Karena itu, GMF akan fokus pada peningkatan kapasitas untuk memelihara mesin di dalam negeri.

"Kontribusi GMF untuk menekan maintenance (perawatan) adalah meningkatkan kapabilitas kami dalam negeri, supaya barang tidak dikirim ke luar negeri. (Biaya perawatan) kami hanya USD 40 - USD 50 per jam kalau di sana sampai USD 90-an. Kalau kami kerjakan di sini sudah berapa penghematan," paparnya.

Selain itu, ada juga potensi efisiensi dalam industri penerbangan untuk memberikan insentif bagi penyewaan pajak pada mesin yang dibutuhkan selama perawatan pesawat. Namun dia mengaku belum membicarakan masalah ini dengan pemerintah.

"Itu adalah salah satu potensi. Sejauh ini kami masih membahas suku cadang. Bagi kami itu tidak masalah, jika kami dikenai pajak, kami akan mengenakan biaya lagi ke maskapai," ujarnya.

Pemerintah mengklaim akan membebaskan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk layanan penyewaan pesawat yang datang dari luar negeri. Ini dilakukan untuk membantu maskapai mengurangi biaya operasional untuk mengurangi harga tiket pesawat.

Selain pembebasan PPN untuk layanan penyewaan pesawat, pemerintah juga berjanji untuk memberikan insentif fiskal untuk layanan sewa, pemeliharaan dan perbaikan pesawat, serta biaya impor dan penyerahan pesawat dan suku cadang.

Baca juga:
Menko Darmin: Penurunan Harga Tiket Pesawat Tidak di Semua Rute
Antisipasi Tiket Pesawat Mahal, IPI Tawarkan Program Penerbangan Umum
Menko Darmin Klaim Sudah Ada Maskapai Turunkan Tarif Tiket Pesawat
Indef: Penurunan Harga Avtur Hanya Solusi Sesaat Turunkan Tarif Pesawat
AirAsia Buka 5 Rute Penerbangan Domestik Baru, Ini Harganya Tiket Promonya
Bos AirAsia Soal Penurunan Harga Tiket Pesawat LCC: Kami Sudah Murah

(mdk/azz)