UMKM Bisa Bertahan di Tengah Tekanan Corona Selama Mampu Menyesuaikan Pasar

UMKM Bisa Bertahan di Tengah Tekanan Corona Selama Mampu Menyesuaikan Pasar
UANG | 4 April 2020 12:30 Reporter : Sulaeman

Merdeka.com - Di tengah wabah virus Corona atau Covid-19 yang melanda berbagai wilayah Indonesia, permintaan akan alat pelindung diri (APD) dan masker melonjak drastis. Hal ini disadari betul oleh pelaku usaha UMKM konveksi untuk memproduksi alat APD dan masker kain yang bisa dicuci ulang dalam jumlah besar guna memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri.

"Sektor ini mempunyai beberapa peluang atau keuntungan yang menjanjikan," kata Direktur Riset Center of Reform on Economy (CORE), Piter Abdullah, melalui sambungan telepon pada Sabtu (4/4).

Akan tetapi, baginya tidak menutup kemungkinan sektor usaha lain juga tetap meraih cuan di tengah perlambatan ekonomi nasional akibat wabah virus corona. Selama mampu membaca permintaan pasar serta mempunyai kesiapan bisnis di situasi yang serba tidak pasti. "Untuk itu, mau usaha apa saja. Asal bisa bertahan, tidak menutup kemungkinan," jelasnya.

Menurutnya, saat pandemi corona masih berlangsung di berbagai daerah Indonesia, tentu kebutuhan APD dan masker akan terus meningkat. Sebab, kekhawatiran masyarakat terhadap virus covid-19 meningkat mengingat sifat penularannya begitu cepat.

Keuntungan lainnya, ujar Piter, ialah terjaganya kelangsungan bisnis bagi pelaku usaha APD dan masker, sehingga menutup kemungkinan terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) bagi para pekerjanya.

1 dari 1 halaman

UMKM Banyuwangi Produksi Ribuan Masker Kain

produksi ribuan masker kain

Sebelumnya, UMKM konveksi Banyuwangi memproduksi ribuan masker kain yang bisa dicuci ulang. Produksi masker kain ini pun diserbu oleh masyarakat di tengah kelangkaan masker standar kesehatan.

Salah satu UMKM konveksi yang memproduksi masker tersebut adalah Hady Konveksi, yang terletak di Desa Jelun Kecamatan Licin. Konveksi ini telah memproduksi 2000 masker yang laris diserbu pembeli.

Hady, pemilik konveksi Hady mengatakan, usaha miliknya mulai memproduksi masker pada dua minggu terakhir. Produksi masker ini dilakukan olehnya untuk menyiasati produksi kaos konveksinya yang turun drastis akibat dampak penyebaran virus Covid 19.

"Biasanya kami memproduksi kaos yang dipesan oleh toko oleh-oleh di sekitar Banyuwangi, Tapi sejak banyak toko yang tutup karena adanya Corona, kami putar otak dengan memproduksi masker," kata Hady.

Masker produksinya dibuat dari bahan kaos. Dalam sehari bisa memproduksi hingga 300 masker. Masker tersebut, kata Hady dijual Rp 5000 per buah. Namun untuk reseller harganya bisa lebih murah lagi dengan pembelian minimum satu lusin.

Masker tersebut menurutnya sangat diminati oleh masyarakat. "Setiap hari kami memproduksi bisa sampai 300 buah. Semua sudah ada yang mengambil, baik oleh konsumen langsung atau dijual lagi oleh reseller," kata Hady.

Selain memproduksi masker, konveksi Hady menjadi salah satu UMKM yang digandeng oleh pemerintah daerah untuk memproduksi pakaian APD bagi tenaga kesehatan. APD tersebut di bawah supervisi langsung Dinas Kesehatan Banyuwangi.

Selain UMKM, Balai Latihan Kerja (BLK) Banyuwangi juga memproduksi ribuan masker kain yang dibagikan gratis bagi warga. Kepala BLK Banyuwangi Rusman mengatakan pembuatan masker oleh BLK untuk berpartisipasi dalam penanganan wabah virus Covid-19.

"Semua BLK di bawah UPTD Kemnaker diminta untuk memproduksi produk yang saat ini banyak dibutuhkan oleh masyarakat tapi langka, seperti masker. Produksinya diutamakan untuk memenuhi kebutuhan daerah masing-masing," kata Rusman saat dihubungi beberapa waktu lagi.

Bahan yang digunakan untuk pembuatan masker adalah bahan katun oxford. Bahan ini sendiri punya kelebihan cukup tebal tapi tetap nyaman dipakai. Sebelum diproses, bahan tersebut telah dicuci dan disterilkan terlebih dahulu.

"Meskipun ini bukan masker bedah, namun masker kain ini bisa meminimalisir penularan virus Covid 19. Minggu lalu sudah kami sudah tuntaskan 2.000 masker dan salah satunya, kami serahkan ke pemkab," pungkas Rusman.

(mdk/bim)

Baca juga:
Ada Wabah Corona, Penataan 4 Stasiun Kereta di Jakarta Dihentikan Sementara
Gubernur NTB Dukung Sikap Pusat yang Tolak Lockdown Cegah Penyebaran Corona
KPK Tak Dilibatkan Menkum HAM Soal Usul Pembebasan Napi Korupsi Terkait Wabah Corona
226 Jemaah GBI Lembang Positif Covid-19 Usai Ikut Acara Keagamaan, Ini Kronologinya
Potret Atiqah Hasiholan Sedang 'Nyangkul' di Tengah Pandemi Corona, Tetap Cantik
Pemerintah Turunkan Bertahap Pajak Perusahaan Hingga 20 Persen di 2022
Lockdown Jakarta Tak Lagi Relevan untuk Cegah Penyebaran Corona

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami