Untung RI Beli Saham Divestasi Freeport Pakai Surat Utang Asing Versi Rhenald Kasali

UANG | 24 Desember 2018 13:53 Reporter : Dwi Aditya Putra

Merdeka.com - Guru besar FEB Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, menilai bahwa keputusan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) dalam menerbitkan surat utang global (global bond) sebesar USD 4 miliar tepat. Di mana, dana tersebut digunakan Inalum untuk akuisisi saham PT Freeport Indonesia menjadi 51,23 persen.

Rhenald mengatakan, dalam peningkatan kepemilikan saham di PT Freeport Indonesia (PTFI), penerbitan obligasi ini lebih kompetitif dan stabil dibanding dengan pinjaman dari sindikasi perbankan. Sebab, jika melalui perbankan, maka pada tahun berikutnya Inalum sudah harus membayar kewajiban pokok beserta bunganya. Atau, jika menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), maka Rupiah akan semakin melemah.

"Beda dengan bond. Pokoknya di bayar di belakang. Artinya kita bisa menabung, dapat bunga pula," katanya melalui keterangan tertulisnya, Senin (24/11).

Rhenald menambahkan, terpenting saat ini adalah bagaimana melihat tenor yang diberikan dari obligasi tersebut cukup panjang. Sebab dengan tenor selama 30 tahun, dirinya meyakini perseroan dapat melunasi pinjaman tersebut.

"Jadi kalau kita mau, hanya dalam empat tahun global bond itu beres. Dan setelah itu kita dapat duit gede (dari Freeport) seterusnya selama 50 tahun," jelasnya.

Dia meyakini dengan laba bersih PT FPI sebesar USD 2 miliar, maka dengan mudah Inalum menyelesaikan global bond tersebut. "Kalau dihitung, kita baca laporan keuangannya, maka tampak EBITDA-nya PT FPI setahun sekitar USD 4 miliar. Nett profitnya, saya sekitar USD 2 miliar. Kalau jangka pendek, jelas memberatkan," jelasnya

Sebelumnya, Kepala Komunikasi Korporat dan Hubungan Antar Lembaga PT Inalum (Persero) Rendi Witular menyatakan penerbitan obligasi ini lebih kompetitif dan stabil dibanding dengan pinjaman dari sindikasi perbankan. Jika lewat perbankan akan ada resiko suku bunga yang dapat melonjak di saat ketidakpastian ekonomi global, dan juga untuk jangka panjang biasanya bank meminta jaminan.

"Mengapa tidak mengambil pembiayaan dari dalam negeri? Karena kita tidak ingin ada uang yang keluar dari Indonesia dan mengakibatkan terjadinya fluktuasi nilai tukar rupiah. Ini kan uangnya dari Jepang, Singapura, Amerika dan Eropa yang ditransfer ke negara lain," kata Rendi.

Global bond Inalum terdiri dari dari empat seri dengan masa tersingkat 3 tahun dan paling lama 30 tahun dengan tingkat kupon rata-rata sebesar 5,991 persen.

BNP Paribas dari Prancis, Citigroup dari Amerika Serikat dan MUFG dari Jepang menjadi koordinator underwriter dalam penerbitan obligasi ini serta CIMB dan Maybank dari Malaysia, SMBC Nikko dari Jepang dan Standard Chartered Bank dari Inggris sebagai mitra underwriter.

Untuk penerbitan Global Bond ini, Inalum mendapatkan peringkat Baa2 dari Moody's dan BBB- dari Fitch. Bond ini telah terdaftar di Singapore Exchange Securities. Rendi juga menjelaskan jika Inalum mempunyai kemampuan yang kuat untuk membayar.

"Kita keluar Rp 55 triliun untuk membeli tambang Freeport dengan kekayaan senilai Rp 2.400 triliun hingga 2041. Setelah 2022, laba bersih PTFI diproyeksikan sebesar Rp 29 triliun per tahun berdasarkan asumsi yang sangat konservatif," kata Rendi.

Baca juga:
Soal Freeport, Ini Penjelasan Keuntungan Membeli Saham Divestasi ala Rhenald Khasali
Inalum Sebut Tak Ada Aset Digadaikan Untuk Beli Freeport
Fadli Zon Nilai Akuisisi Freeport Kebijakan Sontoloyo, Ini Tanggapan PDIP
Kritikan Rocky Gerung ke Pemerintahan Jokowi Soal Pengambilalihan Saham Freeport
Fadli Zon Sebut Akuisisi Freeport Adalah Kebijakan Sontoloyo
Benarkah Indonesia Bisa Dapat Freeport Secara Gratis di 2021?
Infografis Lengkap Manfaat Indonesia Beli Saham Freeport

(mdk/bim)