Upayakan Kenaikan Harga Lada, Kemendag Dukung Peningkatan Konsumsi Lada Domestik

UANG | 20 September 2019 11:34 Reporter : Anwar Khumaini

Merdeka.com - Kelebihan suplai dibandingkan permintaan menyebabkan harga lada terus tertekan sejak 2016 sehinga mempengaruhi pendapatan petani. Untuk itu, Kementerian Perdagangan mendukung berbagai upaya peningkatan konsumsi lada demi menyerap kelebihan suplai lada.

Hal tersebut dinyatakan Staf Ahli Menteri Perdagangan Bidang Hubungan Internasional Arlinda saat membuka Forum Diskusi Hari Lada yang mengangkat tema "Lada Indonesia: Kini dan Masa Depan" di Jakarta, Selasa (17/9).

"Saat ini produksi lada global mengalami suplai yang melebihi permintaan. Untuk itu, negara anggota International Pepper Community (IPC) menggalang kerja sama melakukan promosi untuk meningkatkan konsumsi lada domestiknya demi menyerap kelebihan suplai," ujar Arlinda.

Pada forum diskusi yang dihadiri wakil pemerintahan dari Kemendag dan Kementerian Pertanian, akademisi Universitas Pertanian Bogor, dan pengusaha lada tersebut, Arlinda menjelaskan bahwa persoalan rendahnya harga perlu diatasi dengan upaya diplomasi oleh IPC, mengingat 73 persen suplai lada dunia berasal dari negara anggota IPC.

Selain itu, upaya diplomasi juga perlu ditunjang kebijakan domestik, khususnya kebijakan pemasaran lada, penguatan kelembagaan, dan hilirisasi produk berbasis lada.

Menurut Direktur Perundingan APEC dan Organisasi Internasional Antonius Yudi Triantoro selaku pemandu diskusi, (17/9), penciptaan permintaan (demand creation) yang didukung kesiapan industri hilir dalam negeri adalah kunci.

"Lada Indonesia baik yang dikonsumsi sendiri maupun diekspor masih banyak berbentuk butir. Hilirisasi menjadi penting agar ada diversifikasi produk turunan di pasar domestik dan global," ujar Yudi.

Yudi melanjutkan, salah satu cara menciptakan permintaan adalah dengan mengampanyekan manfaat lada bagi kesehatan yang hingga kini masih belum gencar dilakukan. Secara ilmiah seperti riset Universitas Pertanian Bogor, lada terbukti memiliki dampak positif bagi kesehatan karena mengandung senyawa khas yang bermanfaat mencegah penuaan dini dan anti inflamasi. Informasi manfaat lada bagi kesehatan ini harus terus disosialisasikan kepada masyarakat, sehingga dapat mendorong peningkatan konsumsi.

"Kita harus publikasikan bukti ilmiah yang menunjukan manfaat lada bagi kesehatan. Pengembangan riset yang telah dilakukan Universitas Pertanian Bogor dapat dimanfaatkan menjadi skala industri dan komersialisasi oleh pelaku usaha," imbuh Yudi.

Sementara itu, Direktur Pengembangan Produk Ekspor Kemendag Ari Satria juga menyatakan hal senada. Menurutnya, Kemendag siap mendukung program hilirisasi untuk mendongkrak ekspor.

Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag akan membantu pemangku kepentingan dalam mempromosikan, membuat kemasan yang menarik, menciptakan merek (branding), sampai memasarkan produk, dan mematenkan hak kekayaan intelektual (HKI).

"Ekspor lada kita pada 2018 yang bernilai USD 152,48 juta sangat potensial ditingkatkan, tidak hanya ke negara tujuan utama, tetapi juga ke mitra dagang nontradisional lainnya," tambah Ari.

Saat ini pasar tujuan ekpsor lada Indonesia diantaranya Vietnam (USD 56,46 juta), India (USD 18,31 juta), Amerika Serikat (USD 17,86 juta), Jerman (USD 9,20 juta), dan Belanda (USD 7,58 juta).

Adapun terkait penguatan kelembagaan petani, Wakil Kementerian Pertanian, Galih Surti, menyatakan setuju bahwa hal tersebut dapat memberi peluang bagi petani bermitra dengan pelaku usaha. Dengan demikian, dapat meningkatkan posisi tawar dan semangat petani
membudidayakan lada.

"Pemerintah telah memiliki peta jalan pengembangan komoditas lada.
Namun, berlimpahnya produksi petani yang belum dapat diserap dengan baik menjadi tantangan baru yang harus diatasi, yaitu dengan memperkuat kelembagaan petani di sektor hulu dan pascapanen," ujar Galih.

(mdk/paw)

TOPIK TERKAIT