Virus Corona Bikin Investor Panik, Dana Asing Kabur dari RI Capai Rp171,6 T

Virus Corona Bikin Investor Panik, Dana Asing Kabur dari RI Capai Rp171,6 T
UANG | 6 April 2020 16:41 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Pandemi virus corona telah membuat pasar keuangan mengalami kepanikan dari para investor dan pelaku pasar global sehingga menyebabkan arus capital outflows yang besar, penguatan dolar secara global, dan tekanan pelemahan nilai tukar dunia.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menjelaskan, ketidakpastian di pasar keuangan global sangat tinggi, seperti tercermin dari melonjaknya indikator VIX dari 18,8 menjadi 82,7 sebelum turun ke 50,9 setelah stimulus fiskal lebih dari USD 2 triliun oleh Pemerintah AS, serta penurunan suku bunga sebesar 100 bps dan injeksi likuiditas yang besar oleh the Fed.

Akibatnya, para investor global melepas aset-aset investasinya dari seluruh dunia termasuk dari Indonesia, baik berupa obligasi, saham ataupun emas, dan menukarkannya ke simpanan tunai dalam mata uang dolar AS.

"Harga saham dunia anjlok, yield obligasi meningkat, dan harga emas juga sempat turun, sementara mata uang dolar AS semakin menguat dan nilai tukar berbagai mata uang negara lain melemah. Dalam periode yang sama, harga minyak dunia turun drastis akibat perselisihan antara Saudi Arabia dengan Rusia dan memperburuk kondisi pasar keuangan global," ujar Perry Warjiyo dalam rapat virtual dengan komisi XI DPR, Senin (6/4).

1 dari 1 halaman

Capital Outflows

Dia menjelaskan, merebaknya pandemi Covid-19 juga mendorong keluarnya investasi portfolio (capital outflows) dari Indonesia dalam jumlah besar dan memberi tekanan pelemahan nilai tukar Rupiah. Aliran investasi portofolio total yang masuk sebesar Rp22,9 triliun dalam periode 1-19 Januari 2020 kemudian keluar dalam jumlah yang besar sejak merebaknya pandemi Covid-19, yaitu Rp171,6 triliun secara neto dalam periode 20 Januari hingga 1 April 2020.

"Sebagian besar capital outflows dari SBN yaitu sebesar Rp157,4 triliun dan dari saham sebesar Rp13,3 triliun. Besarnya capital outflows terutama terjadi pada Minggu II dan mencapai puncaknya pada Minggu III Maret 2020 akibat kepanikan para investor global dengan cepatnya pandemi Covid-19 di AS dan Eropa," kata Perry.

Pada saat yang sama, dolar AS menguat tajam dan terjadi keketatan pasokan dolar AS di pasar global. Akibatnya, nilai tukar Rupiah tertekan sehingga mengalami depresiasi sebesar 12,03 persen (point-to-point) atau 9,30 persen secara rerata dalam bulan Maret dibandingkan Februari 2020, meskipun Bank Indonesia telah melakukan intervensi dalam jumlah besar untuk stabilisasi nilai tukar Rupiah, baik secara spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun dengan pembelian SBN dari pasar sekunder.

Saat ini, rupiah berangsur-angsur stabil dan diperdagangkan di sekitar Rp16.400 per dolar sejak Minggu IV Maret 2020.

Reporter: Pipit Ika Ramadhani

Sumber: Liputan6.com (mdk/azz)

Baca juga:
Inflasi Hingga Neraca Perdagangan Disebut Masih Terjaga Meski Ada Corona
BI Prediksi Inflasi Minggu Pertama April 2020 Sebesar 0,2 Persen
Per Hari ini, Bank Indonesia Catat Aliran Modal Asing Keluar Rp143,99 Triliun
Lawan Covid-19, BI Kaji Terbitkan Global Bond USD 10 Miliar
BI Belum Wajibkan Eksportir Konversi Dolar ke Rupiah
Gubernur BI: Kabar Nilai Tukar Rp20.000 per USD Jadi Sorotan Global

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami