Wamen BUMN: Penggunaan Bahan Baku Pertamina Jadi Perhatian Menko Luhut

Wamen BUMN: Penggunaan Bahan Baku Pertamina Jadi Perhatian Menko Luhut
UANG | 14 Juli 2020 13:21 Reporter : Anggun P. Situmorang

Merdeka.com - Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Budi Gunadi Sadikin mengatakan, Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi memberikan perhatian khusus terhadap penggunaan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) PT Pertamina. Berulang kali bahkan, Menko Luhut menanyakan hal tersebut.

"Semua spending-spending (belanja) nya Pertamina ke mana saja, itu ditanyain Pak Luhut terus. Pak Luhut itu paling suka yang dipanggil itu Pertamina terus, ini gimana, belinya dari siapa nih, bajanya dari China apa enggak," ujar Budi dalam diskusi virtual, Jakarta, Selasa (14/7).

Budi mengatakan, penggunaan bahan baku dalam negeri sangat penting terutama di tengah kesulitan yang saat ini dihadapi oleh seluruh negara. Tindakan tersebut juga merupakan salah satu keberpihakan terhadap Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

"Jadi saya titip, terima kasih Ibu Nicke (Dirut Pertamina) kita juga nanti rencananya mau mengkombinasikan mensinergikan data procurement. Selain melihat beli barangnya sama atau enggak, harganya berapa, saya juga pengen lihat pengen ada keberpihakan yang lebih jelas ke BUMN, perusahaan dalam negeri, dan kalau bisa perusahaan yang oleh pribumi supaya stabilitas politik dan geopolitik negara kita juga aman," paparnya.

Sementara itu, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, selama ini perusahaan yang dipimpinnya menggunakan TKDN sebesar 32 hingga 35 persen. Angka tersebut sedikit di atas anjuran pemerintah sekitar 30 persen.

"Minimal 30 persen. Untuk proyek kita 32 hingga 35 persen. Kita maunya tidak cuma barang tetapi juga material. Kita kan ada acuan, guidencenya itu. Kesiapan dan kemampuan industri dalam negeri. Jadi, ini secara bertahap kita gak bisa menerapkan angka yang ternyata kemampuannya belum siap," jelasnya.

Dia menambahkan, penggunaan bahan impor masih diperlukan mengingat ada kebutuhan dan standar yang harus dipenuhi dalam pengerjaan setiap proyek. "Ini bisa mempersulit kita (bila semua TKDN). Ini butuh dua arah. Dari sisi supply dan standar kita. Ini kita perlu melakukan kordinasi lebih lanjut dengan segala pihak untuk bisa masuk ke tahap detail," tandasnya. (mdk/azz)

Baca juga:
Dukung Industri Nasional, Pertamina Pesan 15 Kapal Buatan Dalam Negeri
Pertamina Klaim Konsumsi BBM di Solo Raya Naik Selama New Normal
Pertamina Yakinkan Digitalisasi Tak Timbulkan PHK Pegawai SPBU
Banyak SPBU Tua Jadi Kendala Molornya Penerapan Digitalisasi Terintegrasi
BPH Migas Akui Digitalisasi SPBU Masih Jauh dari Target
Luncurkan Program Langit Biru di Bali, Pertamina Beri Diskon Harga Pertalite

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami