Wamenkeu: Digitalisasi Adalah Keharusan Bukan Pilihan

Wamenkeu: Digitalisasi Adalah Keharusan Bukan Pilihan
Wamenkeu Suahasil Nazara. ©2019 Humas Kemenkeu
EKONOMI | 19 Oktober 2021 11:16 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu), Suahasil Nazara, menghadiri acara Bedah Buku Biografi Profesional Marwanto Harjowirjono "Maestro Simfoni Perbendaharaan: Pengawal Die-Hard APBN, Pendobrak Reformasi Birokrasi" secara virtual, Selasa (19/10).

Dalam sambutannya, wamenkeu menyebut transformasi kelembagaan yang terjadi di direktorat jenderal perbendaharaan Kementerian Keuangan merupakan contoh dari transformasi birokrasi yang mengandalkan digital.

Menurutnya, peran digitalisasi sangat berpengaruh terhadap birokrasi organisasi. Bukan hanya ada pandemi covid-19 saja, digitalisasi menjadi keharusan. Tapi memang di lingkungan Kementerian Keuangan sudah sejak lama menerapkan digitalisasi.

"Jadi kalau sekarang sesudah covid-19 ini kita bilang digitalisasi adalah keharusan, digitalisasi bukan pilihan, memang digitalisasi yang dilakukan oleh kementerian keuangan khususnya direktorat jenderal perbendaharaan dilakukan dengan sangat konsisten selama mungkin 15 tahun terakhir dan pak Marwanto mengawal itu," ujarnya.

Demikian, di Direktorat Jenderal perbendaharaan, digitalisasi mendorong suatu proses transformasi yang sangat alamiah dan sangat signifikan. Namun tetap memberikan pelayanan yang baik meski jumlah sumber daya manusia yang lebih sedikit.

2 dari 2 halaman

Bos BI Sebut Pandemi Covid-19 Percepat Digitalisasi Ekonomi

sebut pandemi covid 19 percepat digitalisasi ekonomi

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengingatkan perbankan agar memanfaatkan internet atau digital banking untuk melayani nasabah. Sebab, pandemi Virus Corona telah mengubah kebiasaan masyarakat lebih menginginkan transaksi secara digital.

"Para bankir apakah anda ingin disowani (didatangi) lama-lama anda ditinggalkan. Wes (sudah) dijamin kalau para bankir, Anda pengen nasabah sowan (datang) anda akan ditinggalkan konsumen karena saat ini nasabah ingin dilayani melalui digital banking," ujarnya, Jakarta, Jumat (22/1).

Perry mengatakan, sepanjang 2020, transaksi digital banking terus naik. Digital banking juga mendorong perdagangan secara elektronik atau e-0commerce meningkat pesat melebihi kinerja tahun sebelumnya.

"Yang kuat adalah mengenai ekonomi digital. Pandemi Covid-19 betul-betul mendorong sangat kuat ekonomi digital. Ini mendorong e-commerce dan digital banking. Ecommerce tahun lalu masih Rp253 triliun meningkat dari Rp205 triliun. 2021 ini meningkat menjadi Rp337 triliun," paparnya.

Dia menjelaskan, perdagangan online meningkat sangat pesat pada tahun lalu. Tidak hanya itu, prediksi Bank Indonesia, penggunaan uang elektronik juga meningkat sebesar 32,3 persen atau mencapai Rp 226 triliun tahun ini.

"Pandemi Covid mempercepat digitalisasi ekonomi dan keuangan. Masalah digital banking, saya sudah berkali kali ingatkan perbankan, 15 bank agresif melakukan digital banking. Mau buka rekening, mau transfer, yang lain sudah bisa dari HP," tandasnya.

Reporter: Tira Santia

Sumber: Liputan6

(mdk/bim)

Baca juga:
Transformasi Digital Kunci Capai Cetak Biru Masyarakat Ekonomi ASEAN 2025
Cerita Alumni Kartu Prakerja Pilih Jadi Youtuber Otomotif Kembangkan Aset Digital
Raih Pendanaan Indies dan Benson Capital, Artotel Siap Perluas Jaringan Hotel
Bos Emtek Nilai Digitalisasi Mampu Buka Lapangan Kerja di Kota Kecil
Gelar Festival KotaMasaDepan, Emtek-Grab-Bukalapak Bantu UMKM Go Digital
Jokowi: Tak Mau Belajar Teknologi Baru, Insinyur dan Dokter Bakal Digantikan Robot
Investor: Indonesia Punya Modal Kuat di Ekonomi Digital Sejak 1928

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami