Wawancara CEO AirAsia Indonesia: Resep Rahasia Tiket Murah

UANG | 11 September 2019 08:00 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Industri penerbangan sempat terguncang. Harga bahan bakar mahal sampai bencana alam bebani maskapai nasional. Tak terkecuali AirAsia Indonesia.

Namun, di tengah beratnya industri penerbangan, AirAsia tetap konsisten dengan harga tiket rendahnya. Bahkan, AirAsia Indonesia tetap meraup untung sebesar Rp11 miliar di semester I 2019.

Direktur Utama AirAsia Indonesia, Dendy Kurniawan, mengatakan pihaknya selalu mempertahankan efisiensi agar biaya tiket pesawat tetap stabil. "Satu, memang cost kami sudah rendah. Itu yang selalu kita maintain. Itu yang selalu kita coba di AirAsia mengenai efisiensi dan inovasi. Inovasi yang mendukung efisiensi agar cost kita jauh lebih murah," ujar Dendy Kurniawan kepada Merdeka.com, di Jakarta, Rabu (11/9).

"Dengan cost yang lebih murah, kita siap bersaing. Kita siap menawarkan harga yang lebih terjangkau juga buat penumpang," tambahnya.

Menurutnya, di zaman yang serba digital, perusahaan harus terus mengembangkan efisiensi dan inovasi. "Kalau industri kita tidak efisien, menjual dengan harga yang tinggi terus, tapi lupa bahwa yang harus dibenerin itu efisiensi internal dulu. Suatu saat ketika regulasi berubah, ada maskapai kompetitif dari luar itu masuk, ya sudah kita mati semua," imbuhnya

Terlebih, saat ini terdapat perubahan perilaku (shifting behavior) dalam traveling sehingga melahirkan smart traveler yang mengutamakan tiket murah untuk berwisata. Maka dari itu, untuk meraup pangsa pasar dibutuhkan tiket dengan harga terjangkau.

Dia menambahkan, pendiri AirAsia Tony Fernandes juga selalu mengedepankan konsep pelayanan prima dalam operasional perusahaan. "Harga murah dipertahankan, tapi nilai lebihnya kita fokuskan kepada operational excellence. Bahkan dari yang kecil seperti masalah kru kabin, makanannya, dan lainnya," jelasnya.

Dendy mengakui 2018 merupakan tahun yang berat bagi industri penerbangan. Hal ini dikarenakan beberapa faktor, seperti bencana alam, melemahnya Rupiah, dan tingginya harga minyak dunia.

"Tiga faktor ini yang membuat kami rugi tahun lalu. Sebetulnya, kalau kita tidak mau rugi pas tahun lalu pun bisa. Kita tinggal menaikkan harga tiketnya saja karena cost-nya di luar faktor yang tadi cukup kompetitif. Namun, tahun lalu itu persaingan cukup ketat. Faktor-faktor tersebut yang membuat load factor kita di tahun lalu memang tidak sebagus tahun sebelumnya," ujarnya.

Dendy menuturkan, bahwa pada tahun ini, AirAsia mulai menunjukkan perbaikan kinerja. "Saya yakin memang tahun ini bisa untung terus. Q1 kemarin memang belum terlalu, tetapi sudah membaik dibandingkan Q1 tahun sebelumnya. Kita bisa untung di Q2 meskipun masih sangat marginal Rp11 miliar, tapi outlook-nya saya masih optimis sedikit. Q3 dan Q4 kita bisa pertahankan untuk selalu positif hingga akhir tahun," tutupnya.

Reporter: Rhandana Kamilia

Baca juga:
Genjot Devisa Pariwisata, AirAsia Lebarkan Sayap ke Timur Indonesia
Maskapai-Maskapai Penerbangan yang Hampir Bangkrut Lalu Sukses Bangkit Lagi
Dari Rugi Rp203 Miliar, Air Asia Kini Untung Rp11 Miliar
4 Rahasia Sukses Tony Fernandes Bangun Bisnis Raksasa seperti AirAsia
Pernah Luntang-Lantung Tak Punya Pekerjaan, Kini Tony Fernandes Punya 20.000 Karyawan
Perjalanan Karir Tony Fernandes, dari Pelayan Hotel Hingga jadi Bos AirAsia
Pemerintah Diminta Beri Izin Air Asia Perbanyak Rute Domestik

(mdk/bim)