Wawancara Dirut Angkasa Pura II: Kami Berinovasi, Bukan 'Jual' Aset Negeri

UANG | 23 Mei 2019 06:00 Reporter : Anggun P. Situmorang

Merdeka.com - PT Angkasa Pura II membeberkan sejumlah strategi pengelolaan bandara dalam lima tahun ke depan. Operator pengelola bandara milik negara ini berharap tidak ada kesalahpahaman di masyarakat. Seperti isu penjualan aset atau bandara salah satunya.

Direktur Utama Angkasa Pura II, Muhammad Awaluddin, mengatakan hingga kini pihaknya telah mengelola 16 bandara. Jumlah tersebut masih akan bertambah seiring dengan adanya 3 bandara baru di tahun ini.

Awaluddin juga mengatakan, pihaknya berniat mengundang investor untuk bekerjasama mengelola bandara atau strategic partnership guna mendorong daya saing bandara serta kepemilikan aset. Hal tersebut dipercaya mendatangkan banyak keuntungan bagi BUMN ini.

Berikut wawancara jurnalis Merdeka.com, Anggun Putriani Situmorang dan Harwanto Bimo Pratomo, dengan Direktur Utama Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin:

Berapa bandara yang saat ini dikelola oleh Angkasa Pura II?

16 Bandara, mudah-mudahan tahun ini akan bertambah 3 lagi. Satu sedang dalam progres konstruksi.

Bandara apa yang sedang dalam proses konstruksi?

Bandara Wirasaba atau Jenderal Besar Sudirman di Purbalingga, Jawa Tengah.

Bagaimana strategi pengelolaan bandara Angkasa Pura II dalam lima tahun ke depan?

Pertama, kita bicara strategi kepemilikannya dulu. Sampai 2017 itu, strategi kepemilikan bandara kita sekaligus pengoperasiannya itu dengan dua cara. Kita membangun sendiri atau self investment. Kedua, kita dapat Penyertaan Modal Negara (PMN) dari pemerintah yang merupakan tambahan modal disetor pemerintah kepada BUMN. Dan itu kan 13 bandara yang kita miliki itu polanya bangun sendiri atau self investment yang kedua adalah PMN. Bagian dari kontribusi negara.

Nah mulai 2018, sudah mulai bervariasi karena kita sudah memiliki bandara di luar yang dua tadi self investment dan PMN. Kita juga memulai kerjasama pemanfaatan aset barang milik negara. Kemudian kita juga sudah mulai dengan pemerintah daerah. Kemudian kita juga melakukan kepemilikan bandara dengan perusahaan milik daerah. Macam-macam ya. Termasuk kerjasama dengan swasta di mana Badan Usaha Bandar Udara (BUBU) nya atau lisensi operasi bandaranya tetap diberikan pemerintah kepada kita Angkasa Pura II.

Bagaimana AP II mengantisipasi isu seperti yang pernah muncul mengenai Bandara Soekarno-Hatta yang akan dikerjasamakan dengan swasta, disebut menjual aset negara?

Kalau Soekarno Hatta tidak, yang kita strategic partnership kan dengan Kualanamu. Soekarno Hatta tidak ada, jadi tidak ada yang disebut dengan menjual aset negara. Apanya yang dijual? Orang asetnya tetap milik negara. Kerjasama pengoperasiannya iya.

Berapa tahun kerjasama pengoperasiannya?

Tergantung dari penyertaan investasi mereka. Jadi kalau bicara atas nama lisensi bandar udara 25 tahun sampai 30 tahun, dan mereka ikut berpartisipasi secara investasi. Asetnya tetap milik kita termasuk aset baru yang muncul menjadi aset yang akan kita miliki dengan pola BUT (Bentuk Usaha Tetap) untuk dalam kurun waktu tertentu, jadi berpindah asetnya menjadi milik kita.

Kapan rencana Kualanamu dieksekusi?

Kualanamu itu kan strategic partnership jadi kemitraan strategis. Kita mengundang atau menginvite strategic partner untuk berpartisipasi dalam pengelolaan bandara internasional Kualanamu. Badan Usaha Bandar Udara nya atau BUBU nya tetap di Angkasa Pura II. Jadi kita tidak mengalihkan lisensi BUBU nya. Yang kita undang strategic partner untuk berinvestasi dan mengelola operasional bandara bersama-sama.

Nah, kerjasama ini ada tiga tujuan. Tiga tujuan itu adalah, satu, kerjasama strategis itu adalah dalam rangka untuk meningkatkan traffic internasional. Kenapa? Karena bandar udara Kualanamu ini secara posisi dan lokasinya sangat strategis karena di Utara Indonesia kan. Kemudian dia sangat dekat dengan tiga kawasan yang merupakan kawasan regional yang cukup tinggi dalam pergerakan transportasi udaranya. Mana? Singapura, Kuala Lumpur dan Thailand. Jadi dia akan menjadi alternatif 'pesaing' bagi tiga kawasan ini.

Tujuan yang kedua dalam konteks strategic partnership itu adalah untuk sharing keahlian atau kapabilitas dalam pengelolaan operasi bandara. Karena yang kita undang ini kan strategic partner yang merupakan mitra global dan mereka adalah operator bandara juga yang tadi dalam konteks BUBUnya tidak pindah, BUBUnya tetap kita. Jadi mereka akan kita undang dalam konteks pengembangan usaha bandara, pengembangan traffic dan lain sebagainya.

Ketiga, strategic partnership. Jadi mereka sebagai partner yang membawa capital atau membawa modal. Jadi ketiga hal ini dalam konteks strategic partnership. Jadi, tidak ada itu pelepasan aset itu tidak ada. Yang ada aset tetap milik kita, malah bertambah, kedua lisensi operasional bandaranya tetap di Angkasa Pura II.

Nah itu, inovasi kita untuk lebih akseleratif termasuk juga masuk ke strategic partnership. Kita juga masuk ke pengambilalihan saham misalnya. Ada yang menarik dan sebagainya. Macam-macamlah yang menurut saya common practice yang umum sudah kita lakukan sekarang. Dulu mungkin belum, tapi sekarang kita tidak bisa hanya bertumpu pada pertumbuhan organik bisnis saja. Jadi harus masuk ke inorganik juga. Kurang lebih seperti itu.

Calon investornya, dari dalam negeri atau luar negeri?

Yang mengirim ke kita ada 28 yang mengirim letter of intent. Kemudian, waktu kita melakukan pra REP (Request of Proposal) yang merespon dari 28 itu, 16 operator bandara. Jadi saya rasa offering dari strategic partnership dari bandara internasional Kualanamu cukup menarik di mata calon investor.

Investor yang menawarkan nilai investasi terbesar siapa?

Oh belum, kan nanti masuk proses bidding dulu untuk proses tendernya. Kan proses tendernya belum kan, mungkin setelah selesai dokumen REP baru ke proses tender. Kita berharap Juni atau Juli lah, tahun ini. Sehingga nanti sebelum akhir tahun sudah ada calon partner dan sudah bisa closing transaksi. Sehingga awal tahun depan kita sudah mulai bermitra atau berpartner strategis dengan mereka.

Kualanamu dulu berarti ya?

Itu yang kita invite. Ada lagi yang kita masuk ke tempat lain. Ke kawasan regional. Kita juga masuk. Seperti kemarin di Calk, Filipina, kita melihat juga di lokasi lain di kawasan regional itu.

Di Filipina kemarin masalahnya apa sehingga AP II tidak memenangkan tender?

Oh biasa saja ya, itu kan tender ya. Tender internasional. Jadi memang tender internasional ada penilaian penilaian ada kriteria. Buat kita sih biasa saja, itu kan suatu metode belajar yang bagus. Tidak mesti saat masuk, harus dapat. Sekarang kita juga bergerak ke kawasan yang lain kita lihat.

Negara apa itu?

Ada, belum bisa diomongin karena masih dalam proses. Kalau nanti sudah masuk ke proses tender saya umumkan lah Angkasa Pura II sampaikan. Tapi sekarang kita sedang persiapan.

Baca juga:
AP II Bakal Tambah Fasilitas Jalan Perimeter Selatan Bandara Soekarno-Hatta
Dapat Modal Rp625 Miliar dari AP II, BIJB Bakal Bayar Utang
AP II Siap Kembangkan Bandara Palangka Raya Jika Dipilih Jokowi Jadi Ibu Kota
Terminal 2F Soekarno-Hatta Resmi Layani Penerbangan Internasional Berbiaya Murah
AP II Siap Operasikan Terminal 2F Bandara Soekarno Hatta Sebagai LCCT
Ini Kelebihan Terminal Maskapai Penerbangan Berbiaya Murah, Siap Beroperasi Mei 2019
Angkasa Pura II Soal Holding BUMN Penerbangan: Sangat Baik, Banyak Manfaat Positif

(mdk/bim)