Wawancara Dirut JNE: Kenaikan Tarif Layanan Tak Surutkan Bisnis Pengiriman

UANG | 14 Agustus 2019 10:38 Reporter : Dwi Aditya Putra

Merdeka.com - Keputusan maskapai penerbangan untuk menaikkan tarif kargo udara atau surat muatan udara (SMU) nyatanya tak berdampak pada lesunya industri jasa pengiriman atau logistik. Sebab, kenaikan SMU tersebut langsung direspon oleh perusahaan kurir dengan melakukan langkah mitigasi agar usahanya tetap bertahan. Seperti yang dilakukan oleh PT Jalur Nugraha Ekakuri (JNE).

Sebagai salah satu perusahaan bergerak di bidang jasa pengiriman logistik, sejak awal tahun sudah melakukan penyesuaian tarif ongkos kirim sebesar 20 persen akibat kenaikan biaya kargo pesawat.

Presiden Direktur JNE Mohammad Feriadi mengatakan, tak hanya melakukan penyesuaian tarif pada pengiriman kargo, pihaknya juga memilih menggunakan moda transportasi lain di luar pesawat agar tarif pengiriman tetap murah.

"Khususnya memang pengiriman melalui udara ya (naik 20 persen). Tapi tentu perusahaan bisa lebih adil terhadap pengguna jasa layanan JNE. Dampak dari kenaikan tarif ini tentu membuat perusahaan harus berinovasi," kata Feriadi dalam wawancara khusus yang dilakukan merdeka.com, Selasa (13/8).

Seperti diketahui, maskapai penerbangan menaikkan tarif SMU secara bertahap sejak pertengahan tahun lalu. Tak tanggung-tanggung kenaikan biaya kargo mencapai 300 persen jika dihitung sejak pertengahan tahun lalu.

Penyesuaian tarif pengiriman JNE tersebut berlaku untuk layanan Regular, OKE dan YES mulai sejak tanggal 15 Januari 2019 lalu. Penyesuaian tarif tersebut berlaku untuk pengiriman paket dari Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi) ke seluruh tujuan dalam negeri. Sementara, untuk pengiriman paket dalam kota atau antar kota dalam Jabodetabek tetap berlaku tarif normal.

Feriadi memastikan adanya penyesuaian tarif itu pun tidak lantas membuat volume pengiriman barang di tempatnya merosot. Dia meyakini dengan semakin tumbuhnya masyarakat belanja online atau e-commerce justru volume pengiriman di JNE semakin menggeliat.

"Tidak. Kalau kita bicara apa dampak kenaikan ini berpengaruh kepada pengiriman kita? Ini tidak. Kita juga masih memperkirakan peningkatan (kargo) kita di kisaran angka 30 persen," jelasnya.

Di sisi lain, adanya infrastruktur yang dibangun oleh Pemerintahan Jokowi-JK memberikan peluang besar bagi perusahaan. Sebab, dengan tersambungnya jalan penghubung di berbagai daerah, membuat perusahaan berinovasi dengan mengembangkan layanan baru.

"Kita punya produk JTR (JNE Trucking), di mana pengiriman ini kita gunakan moda transportasi darat. Kecepatannya tentu kita jamin sesuai dengan Service Level Agreement (SLA) kita dengan pelanggan," kata dia.

Feriadi yang juga Ketua Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos, dan Logistik Indonesia (Asperindo), ini pun memastikan layanan JTR ini hadir tidak kalah cepat dengan kargo. Perusahaan menjamin, lewat jalur darat pengiriman bakal sesuai dengan waktu yang ditentukan.

"Jadi kalau JNE bilang pengiriman kita sampai ke Semarang, ini kita janjikan dengan next day delivery maka kita akan komit untuk bisa penuhi janji kita. Kalau untuk tujuan Lampung dan Palembang kita katakan sama, SLA ini paling penting Service Level Agreement kita dengan pelanggan ini yang harus kita jaga dan harus kita pastikan," jelas dia.

Baca juga:
Wawancara Dirut JNE: Bisnis Pengiriman Barang Terciprat Cuan Geliat Jual Beli Online
Kirim Barang Lewat JNE Kini Bisa Bayar Pakai GoPay
Menengok Untung Rugi Kehadiran Blockchain di Indonesia
Kadin: Teknologi Blockchain Bakal Pangkas Biaya Logistik
Ekspansi ke Layanan Logistik & Distribusi, Bizzy Target Omzet Tembus Rp5 Triliun
Antisipasi Ganjil-Genap Asian Games, Kemenhub Siapkan Jalur Khusus Kendaraan Logistik
Datangi KPPU, Asperindo Keluhkan Kenaikan Tarif Kargo Udara Tak Wajar

(mdk/bim)