Hidup Bocah Yatim Piatu dari Tusuk Cilok Goreng dan Putaran Roda Sepeda

Merdeka.com - Setiap hari menjelang azan maghrib berkumandang, Muhamad Saputra menggowes sepedanya berkeliling kawasan Bintaro dan Pondok Aren, Tangerang Selatan. Di bagian belakang sepedanya, terpasang rak putih berisi cilok goreng.

Putra sapaan akrabnya, sudah dua bulan ini berjualan cilok goreng berkeliling Bintaro. Namun kisahnya berjualan cilok goreng menjadi perhatian warga. Sebab, Putra berjualan hingga dini hari.

Bocah kelas 3 Sekolah Dasar di SDN Jurang Mangu Timur, Kecamatan Pondok Aren ini mulai berjualan cilok goreng sepulang sekolah sekitar pukul 17.00 WIB.

"Saya sekolah siang, jam 12.30 baru masuk dan pulang jam 17.00 WIB. Setelah itu baru keliling naik sepeda sambil jualan," katanya.

Dalam sehari, dia menyiapkan 250 tusuk cilok goreng di keranjang. Jika beruntung, semua laku terjual. Namun tak jarang puluhan tusuk cilok itu tak laku karena cuaca hujan atau diusir petugas. Jika tidak habis, cilok itu dibagi-bagi ke tetangganya.

"Sehari 250 tusuk, satu tusuk dijual seharga Rp 2.000 kadang habis, kalau sisa saya kasih ke tetangga," katanya.

Salah satu tetangganya, Wartini mengatakan, Putra tinggal bersama seorang kakak dan dua orang adiknya. Bahkan seorang adiknya masih berusia 10 bulan.

"Berdagang cilok untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan adik-adiknya," ucap Wartini.

Putra bersama kakak dan adiknya belum lama menjadi anak yatim piatu. Setelah ditinggal sang Ayah, Rawin yang meninggal karena sakit paru-paru. Sedangkan ibunya yakni Siti Nurhayati meninggal karena melahirkan anak ke-4 nya.

Bocah penjual cilok di Bintaro 2019 Merdeka.com/Kirom

Siti Juleha, kakak pertama Putra mengaku tidak menyuruh adiknya untuk berjualan. Inisiatif itu datang dari diri Putra sendiri.

"Dia inisiatif sendiri, sebelumnya dia jualan snack kriuk, terus pernah ngamen di jalan dan sekarang dia berjualan Cilok Goreng," kata Juleha sambil menggendong adik bungsunya Arsyad yang baru berusia 10 bulan.

(mdk/noe)
Baca Sumber