Kerja 4 Hari Seminggu, Impian Bagi Para Pekerja di Asia

Kerja 4 Hari Seminggu, Impian Bagi Para Pekerja di Asia
Aktivitas Warga Singapura di Jalan Orchard. ©2020 REUTERS/Edgar Su
DUNIA | 2 Agustus 2022 12:12 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - New World Development, salah satu perusahaan pengembang properti besar di Hong Kong, baru-baru ini memperkenalkan sistem kerja empat setengah hari dalam seminggu, tanpa pemotongan gaji. Tujuan sistem kerja ini adalah untuk menjaga keseimbangan kehidupan kerja yang sehat bagi para pekerja.

Perusahaan teknologi Korea Selatan Kakao yang memiliki lebih dari 10.000 karyawan, sedang merencanakan program untuk jam kerja yang fleksibel dan lebih pendek. Sementara di Jepang, Hitachi telah memperkenalkan sistem kerja bagi 15.000 pekerjanya untuk mengatur jadwal mereka agar menjadi empat hari kerja dalam seminggu.

Mengutip dari South China Morning Post (1/8), program ini hanyalah inisiatif dari beberapa tempat kerja di Asia karena semakin banyak perusahaan di seluruh dunia berupaya meningkatkan kesejahteraan karyawan mereka dan melihat kembali apa arti produktivitas di tempat kerja modern.

Tetapi di wilayah Asia yang terkenal dengan jam kerja paling lama di dunia, terdapat beberapa kritikus yang mengatakan sistem semacam itu tidak mungkin menuai manfaat yang diinginkan, tanpa pemerintah dan pengusaha terlebih dahulu mengatasi faktor-faktor di balik budaya kerja yang sudah mengakar, dan memberlakukan lebih banyak perlindungan tenaga kerja.

Menurut Anis Hidayah, kepala Migrant Care, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat Indonesia yang membela hak-hak pekerja migran, mengatakan manfaat dari kerja empat hari seminggu sangat bergantung pada implementasinya dan apakah pekerja diharapkan mencapai hasil yang sama dalam waktu yang lebih singkat.

"Bagaimana ini akan mempengaruhi pekerja dan apakah akan meningkatkan atau menurunkan produktivitas itu sangat penting," katanya, dengan menambahkan meskipun gagasan itu baik dalam praktiknya, mungkin sulit untuk diterapkan di semua bentuk pekerjaan.

“Di banyak sektor, pekerja sudah bekerja lebih dari 8 jam per hari, terutama di Asia Tenggara di negara-negara seperti Malaysia dan Singapura,” katanya. "Mungkin di sektor-sektor seperti di pabrik, 4 hari kerja seminggu akan layak, tapi saya tidak yakin tentang [peran] lain seperti pekerja rumah tangga."

2 dari 2 halaman

Berbeda dengan Anis Hidayah, Kepala Biro Tenaga Kerja di Partai Sosialis Malaysia, Sivaranjani Manickam mengatakan, "sudah pasti 4 hari kerja dalam seminggu akan membantu pekerja memiliki keseimbangan kehidupan kerja."

"Undang-undang di Malaysia," kata Manickam, "menyatakan jam kerja memiliki arti sebagai bekerja 8 jam per hari dan 48 jam per minggu, tetapi pada kenyataannya banyak pekerja yang bekerja 12 jam sehari dan 84 jam per minggu."

Manickam menambahkan orang berisiko kehilangan pekerjaan jika mereka menolak kerja lembur. Tren bekerja di Malaysia adalah, "Anda baru bisa bekerja jika siap bekerja 12 jam per hari," sebutnya.

Sebuah survei terhadap 6.000 pekerja di seluruh Asia Tenggara oleh Milieu Insight pada bulan Februari menunjukkan mayoritas setuju terhadap hari kerja yang lebih pendek. Sekitar 2/3 (67 persen) responden - yang berasal dari Singapura, Thailand, Malaysia, Vietnam, Filipina, dan Indonesia - mengatakan hari kerja yang lebih pendek akan memberi mereka keseimbangan kehidupan kerja yang lebih besar, sementara 64 persen mengatakan mereka akan memiliki lebih banyak waktu untuk dihabiskan bersama orang-orang terkasih.

Hampir separuh (48 persen) responden mengatakan mereka akan memiliki lebih banyak waktu untuk berkreasi dan menghasilkan ide, sementara 45 persen mengatakan dapat meningkatkan produktivitas mereka.

Tetapi beberapa pekerja profesional Asia yang memiliki pengalaman bekerja di Barat dan di pusat-pusat regional dengan intensitas tinggi seperti Hong Kong dan Singapura mengatakan mereka skeptis tentang kelayakan minggu kerja yang dipersingkat tanpa perubahan besar dalam sikap terhadap hak-hak buruh.

Adrianna Tan dari Singapura, direktur manajemen produk di San Francisco, mengatakan para pekerja di Amerika Serikat (AS) memiliki lebih banyak perhatian akan hak-hak mereka daripada di Asia. "AS bukanlah surga pekerja, dan tentu saja tidak berkembang seperti hak pekerja di Eropa Utara, tetapi masih lebih baik daripada apa yang saya alami ketika bekerja di Singapura," katanya.

Tan mengamati, pekerja di AS memiliki pengetahuan yang lebih baik tentang kebijakan perburuhan dan mereka menghargai keseimbangan kehidupan kerja lebih dalam daripada di Singapura.

Namun, kondisi mulai bergeser untuk beberapa pekerja, terutama sejak maraknya kerja jarak jauh selama pandemi Covid-19 telah mendorong perusahaan untuk mengeksplorasi mode kerja yang fleksibel.

Kelompok PropertyGuru di Asia Tenggara, yang memiliki lebih dari 1.600 karyawan di 30 negara, tahun lalu meluncurkan program 'Future of work' di Malaysia dan Singapura yang memungkinkan karyawan bekerja di lingkungan hybrid dan memilih jam kerja mereka. Ini akan memperluas skema di kantor-kantor Asia Tenggara lainnya setelah masing-masing negara melonggarkan tindakan pembatasan Covid-19.

Program ini juga menawarkan pilihan seperti 'Pekan Kerja Terkompresi' yang memungkinkan pekerja memilih antara bekerja empat hari seminggu atau sembilan hari dalam dua minggu. Karyawan dapat bekerja berjam-jam penuh dalam beberapa hari tanpa perbedaan gaji, sesuai dengan persyaratan peran mereka serta berkonsultasi dengan manajer mereka. Ada juga skema 'Pekerjaan Paruh Waktu' yang memungkinkan karyawan untuk bekerja lebih sedikit hari dan jamnya selama seminggu untuk gaji prorata.

Lauren Huntington, Ahli Strategi Solusi Pengalaman Karyawan - Asia Tenggara, di perusahaan perangkat lunak AS Qualtrics, mengatakan para pengusaha pada akhirnya perlu menyadari, "Apa yang benar-benar diinginkan dan telah menjadi kebiasaan karyawan adalah fleksibilitas untuk menyesuaikan jadwal kerja mereka agar sesuai dengan tuntutan kehidupan mereka."

"Kini, kami melihat orang membuat keputusan karir dan menemukan kepuasan dalam pekerjaan mereka, dengan bekerja untuk organisasi yang benar-benar memahami dan menanggapi kebutuhan mereka, dan di mana mereka merasa berada," kata Huntington seperti dikutip dalam laporan yang menyertai survei Qualtric tentang sikap masyarakat Singapura terhadap empat hari kerja dalam seminggu.

Survei daring terhadap lebih dari 1.000 pekerja menunjukkan 64 persen karyawan tetap di Singapura lebih suka memiliki fleksibilitas di tempat kerja, jauh lebih tinggi dibandingkan 36 persen dari mereka yang lebih suka bekerja satu hari lebih sedikit.


Reporter Magang: Gracia Irene (mdk/pan)

Baca juga:
Upah Buruh Tani Juli 2022 Naik Jadi Rp58.445 per Hari
Macam-macam Pekerjaan Online yang Bisa Dilakukan di Rumah
Menko Airlangga: Kartu Prakerja jadi Masterpiece Jokowi
Kekerasan Ekonomi Masih Banyak Terjadi di Dunia Kerja
Ada Ancaman Krisis Ekonomi, Google Batasi Jumlah Lowongan Kerja Tahun Ini

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini