Peneliti Jurnal Lancet: Covid-19 Kemungkinan Berasal dari Laboratorium AS

Peneliti Jurnal Lancet: Covid-19 Kemungkinan Berasal dari Laboratorium AS
Ilustrasi Virus Corona. ©2020 Merdeka.com/ cdc
DUNIA | 2 Juli 2022 07:27 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Covid-19 bukan berasal dari tempat alami tapi dari laboratorium bioteknologi Amerika Serikat (AS). Hal ini diungkapkan ketua komisi Covid-19 di jurnal kedokteran The Lancet, Jeffrey Sachs, saat berbicara di konferensi yang diselenggarakan GATE Center, lembaga pemikir Spanyol pada pertengahan Juni.

"Menurut saya, dari biteknologi, bukan kecelakaan alami," ujarnya, dikutip dari Russia Today, Jumat (1/7).

Ekonom dan penulis ternama ini menekankan, walaupun "kita tidak tahu pasti", tapi ada bukti cukup merujuk ke dugaannya ini dan itu harus diteliti. Saschs menyesali teori versinya ini tidak diselidiki baik di AS atau di tempat lain.

Pada Mei lalu, Sachs bersama profesor farmakologi dan terapi molekuler Universitas Columbia Neil Harrison menulis sebuah artikel di Proceedings of the National Academy of Sciences, menyatakan Covid-19 berasal dari sebuah laboratorium. Dalam makalah itu, Sachs dan Harrison meminta transparansi yang lebih luas lembaga federal dan universitas AS, dengan alasan banyak bukti terkait tidak diungkapkan.

Menurut kedua akademisi tersebut, basis data virus, sampel biologis, pengurutan genom virus, komunikasi surel, dan catatan laboratorium bisa membantu memperjelas asal usul pandemi. Namun, tak satu pun dari bahan-bahan tersebut menjadi sasaran "penelitian yang independen, transparan, dan ilmiah."

Sebagai indikasi Covid-19 berasal dari laboratorium, penulis mengungkap fakta bahwa pengurutan delapan asam amino pada mahkota protein virus corona mirip dengan urutan asam amino yang ditemukan di sel saluran udara manusia.

Faktanya, Sachs bukan orang pertama yang menyebut virus mematikan ini tidak muncul secara alamiah.

Pada Februari 2021, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyimpulkan, virus kemungkinan besar ditularkan hewan, kemungkinan dari seekor kelelawar ke manusia.

Virus corona yang sangat menular ini pertama kali diidentifikasi di Wuhan, China, pada akhir 2019. Virus lalu menyebar dengan cepat ke seluruh dunia, di mana beberapa gelombang infeksi sampai Mei 2022 menewaskan jutaan orang. (mdk/pan)

Baca juga:
Korea Utara Sebut Wabah Covid Muncul Setelah Warga Sentuh "Benda Alien"
52 Persen Kasus Covid-19 di AS karena Varian Omicron BA.4 dan BA.5
Covid Kembali Melonjak, Prancis Minta Warga Pakai Masker di Luar Ruangan
Waspada Gelombang Baru Covid, Ini Daftar Varian Virus Corona Paling Menular
Kasus Covid-19 Naik Lagi, Pakistan Kembali Wajibkan Masker Saat Penerbangan Domestik
Kasus Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 Naik, Menkes: Rate Nasional Masih Terkendali
Omicron BA5.1 Mengamuk di Makau, Restoran dan Tempat Hiburan Ditutup


Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini