9 Gejala Sindrom Iritasi Usus yang Jarang Diketahui, Mulai dari Diare hingga Cemas

9 Gejala Sindrom Iritasi Usus yang Jarang Diketahui, Mulai dari Diare hingga Cemas
ilustrasi sakit perut. pexels
JABAR | 4 Juli 2022 18:15 Reporter : Andre Kurniawan

Merdeka.com - Gejala sindrom iritasi usus sebaiknya perlu dikenali lebih dini. Sindrom iritasi usus, atau irritable bowel syndrome (IBS) adalah gangguan umum yang mempengaruhi usus besar. Sindrom iritasi usus ini adalah kondisi kronis yang harus Anda tangani dalam jangka panjang.

Sindrom iritasi usus bukan termasuk bagian dari penyakit radang usus dan tidak berkaitan dengan kondisi usus lainnya. IBS adalah sekelompok gejala usus yang biasanya terjadi bersamaan. Gejala sindrom iritasi usus ini bervariasi bagi setiap orang, tergantung tingkat keparahan dan durasi.

Diet, stres, kurang tidur dan perubahan bakteri usus dapat menjadi pemicu dari gejala sindrom iritasi usus. Namun, pemicu ini juga berbeda bagi setiap orang, sehingga sulit untuk menyebutkan pemicu tertentu yang harus dihindari.

Dilansir dari Healthline, kami akan membahas lebih lanjut tentang apa saja gejala sindrom iritasi usus paling umum yang harus Anda waspadai.

2 dari 4 halaman

Nyeri dan Kram

Nyeri perut adalah gejala sindrom iritasi usus paling umum dan merupakan faktor kunci dalam diagnosis kondisi ini. Biasanya, usus dan otak Anda bekerja sama untuk mengontrol pencernaan. Proses ini terjadi melalui hormon, saraf, dan sinyal yang dikeluarkan oleh bakteri baik yang hidup di usus Anda.

Ketika mengalami sindrom iritasi usus, sinyal kooperatif ini menjadi terdistorsi, menyebabkan ketegangan yang tidak terkoordinasi dan menimbulkan rasa sakit pada otot-otot saluran pencernaan. Rasa sakit ini biasanya terjadi di perut bagian bawah atau seluruh perut. Nyeri biasanya akan berkurang setelah buang air besar.

Diare

001 destriyana
©2015 Merdeka.com/shutterstock

Gejala sindrom iritasi usus lainnya ialah diare. IBS yang dominan diare adalah salah satu jenis yang paling umum. Kondisi ini mempengaruhi sekitar sepertiga pasien yang menderita IBS. Sebuah penelitian terhadap 200 orang dewasa menemukan bahwa mereka yang memiliki IBS dan dominan diare, rata-rata, 12 kali buang air besar setiap minggu, lebih dari dua kali jumlah orang dewasa yang tidak menderita IBS.

Transit usus yang lebih cepat pada IBS dapat menyebabkan dorongan tiba-tiba untuk buang air besar. Beberapa pasien menggambarkan masalah ini sebagai sumber stres yang signifikan, bahkan juga dapat mempengaruhi aktivitas sosial mereka karena takut akan mengalami diare tiba-tiba.

Sembelit

IBS yang dominan sembelit adalah jenis yang paling umum, dan mempengaruhi hampir 50% orang yang menderita sindrom iritasi usus. Perubahan komunikasi antara otak dan usus dapat mempercepat atau memperlambat waktu transit normal dari tinja. Ketika waktu transit melambat, usus menyerap lebih banyak air dari tinja, sehingga jadi lebih sulit untuk dikeluarkan.

Sembelit didefinisikan sebagai situasi di mana Anda buang air besar kurang dari tiga kali per minggu. Sembelit yang termasuk dalam gejala sindrom iritasi usus bisa menimbulkan sakit perut dan akan mereda ketika Anda selesai buang air besar.

Sembelit pada IBS juga sering menimbulkan sensasi buang air besar yang tidak tuntas. Kondisi ini mengarah pada ketegangan yang tidak perlu.

3 dari 4 halaman

Sembelit dan Diare Bergantian

Sembelit dan diare campuran atau yang bergantian juga menjadi gejala sindrom iritasi usus lainnya yang mempengaruhi sekitar 20% pasien dengan IBS. Diare dan sembelit pada IBS akan menimbulkan nyeri perut kronis yang berulang. Nyeri adalah tanda paling bahwa buang air besar tidak berhubungan dengan diet atau infeksi ringan yang biasa.

Jenis IBS ini cenderung lebih parah daripada yang lain dengan gejalanya yang lebih sering terjadi dan intens. Gejala IBS campuran juga lebih bervariasi dari satu orang ke orang lain.

Perubahan Gerakan Usus

Tinja yang bergerak lambat di usus sering mengalami dehidrasi karena usus menyerap air. Pada gilirannya, kondisi ini menciptakan tinja yang keras, yang dapat memperburuk gejala sembelit.

Pergerakan tinja yang cepat melalui usus menyisakan sedikit waktu untuk penyerapan air dan menghasilkan karakteristik tinja yang encer seperti saat diare.

IBS juga dapat menyebabkan lendir menumpuk di tinja, yang biasanya tidak terkait dengan penyebab sembelit lainnya.

Gas dan Kembung

Gejala sindrom iritasi usus juga dapat menyebabkan produksi gas di usus jadi lebih banyak. Hal ini akan menyebabkan kembung, yang terasa tidak nyaman. Banyak orang yang menderita IBS mengidentifikasi kembung sebagai salah satu masalah yang paling persisten dan mengganggu.

Dalam sebuah penelitian terhadap 337 pasien IBS, 83% melaporkan kembung dan kram. Kedua gejala tersebut lebih sering terjadi pada wanita dan pada IBS yang dominan konstipasi atau jenis IBS campuran. Menghindari laktosa dapat membantu mengurangi kembung.

4 dari 4 halaman

Intoleransi Makanan

Hingga 70% individu yang menderita sindrom iritasi usus melaporkan bahwa makanan tertentu memicu timbulnya gejala. Dua pertiga orang yang menderita IBS secara aktif menghindari makanan tertentu.

Intoleransi makanan ini bukan alergi, dan makanan pemicu tidak menyebabkan perbedaan dalam pencernaan. Meski makanan pemicu akan berbeda jenisnya untuk setiap orang, beberapa yang umum antara lain adalah makanan penghasil gas seperti laktosa dan gluten.

Kelelahan dan Kesulitan Tidur

015 siti rutmawati
©www.huffingtonpost.ca

Lebih dari setengah orang yang menderita sindrom iritasi usus melaporkan kelelahan. Dalam satu penelitian, 160 orang dewasa yang didiagnosis dengan IBS memiliki stamina rendah yang membatasi aktivitas fisik dalam pekerjaan dan interaksi sosial.

IBS juga berkaitan dengan insomnia, yang meliputi kesulitan tidur, sering terbangun, dan perasaan tidak tenang di pagi hari. Dalam sebuah penelitian terhadap 112 orang dewasa dengan IBS, 13% melaporkan kualitas tidur yang buruk.

Kecemasan dan Depresi

Gejala sindrom iritasi usus juga berkaitan dengan kecemasan dan depresi. Tidak jelas apakah gejala IBS merupakan ekspresi stres mental atau apakah stres yang disertai IBS membuat orang lebih rentan terhadap gangguan psikologis.

Dalam sebuah penelitian besar terhadap 94.000 pria dan wanita, orang yang menderita IBS lebih rentan mengalami gangguan kecemasan 50% dan lebih dari 70% lebih rentan mengalami gangguan mood, seperti depresi.

Studi lain membandingkan kadar hormon stres kortisol pada pasien dengan IBS dan tanpa IBS. Diberikan tugas berbicara di depan umum, mereka yang menderita IBS mengalami perubahan kortisol yang lebih besar, yang menunjukkan tingkat stres yang lebih besar.

(mdk/ank)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini