Masuk Cagar Budaya, Stasiun Jatinegara Punya Segudang Cerita yang Harus Kamu Tahu

Masuk Cagar Budaya, Stasiun Jatinegara Punya Segudang Cerita yang Harus Kamu Tahu
Wajah Modern Stasiun Jatinegara. ©2020 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho
JAKARTA | 29 Januari 2022 08:03 Reporter : Syifa Hanifah

Merdeka.com - Kalian yang saban hari beraktivitas naik kereta api, pasti akrab dengan Stasiun Jatinegara. Stasiun ini ada di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur.

Stasiun Jatinegara melayani perjalanan dalam dan luar kota. Itu sebabnya, stasiun ini selalu ramai lalu lalang penumpang. Bahkan hingga malam hari.

Stasiun Jatinegara menjadi salah satu stasiun peninggalan tempo dulu yang bangunannya masih sangat kokoh. Stasiun ini juga memiliki banyak cerita bersejarah. Sehingga tak heran bila kemudian ditetapkan sebagai bangunan Cagar Budaya.

Dikutip dari heritage.kai.id, Stasiun Jatinegara dahulu bernama Meester Cornelis. Nama itu diangkat dari panggilan murid-murid kepada seorang guru yang mengajar, mendirikan sekolah, dan berkhotbah di kawasan tersebut, yakni Cornelis Senen. Perusahaan kereta api swasta Bataviaasche Ooster Spoorweg Maatschappij (BOSM) dahulu meresmikan Stasiun Meester Cornelis bersamaan pembukaan jaringan kereta api Batavia (Jakarta)-Meester Cornelis (Jatinegara)-Bekasi pada tanggal 31 Maret 1887.

Karena menghadapi masalah keuangan, pada tahun 1889, jaringan kereta Batavia-Bekasi dibeli oleh perusahaan kereta api negara Staatssporwegen (SS). Pada tahun 1909, SS membangun sebuah stasiun baru yang letaknya sekitar 600 meter arah ke timur Stasiun Meester Cornelis eks BOSM.

Kepala Eksploitasi Westerlijnen (lintas barat) SS mengumumkan bahwa Stasiun Meester Cornelis baru hanya untuk melayani untuk penumpang, koper, dan pengiriman barang pada 15 Oktober 1909. Sementara itu, stasiun lama akan tetap digunakan untuk lalu lintas barang.

stasiun jatinegara tempo dulu
heritage.kai.id

Bangunan baru Stasiun Meester Cornelis tersebut diperkirakan dirancang oleh arsitek Ir. S. Snuyf, kepala sementara Biro Perancang Departemen Pekerjaan Umum. Mulanya, stasiun ini dikenal dengan Rawa Bangke yang diambil dari nama rawa yang berada tidak jauh dari stasiun.

Setelah menguasai tentang perkeretaapian, SS merencanakan perbaikan kondisi perkeretaapian di Jakarta. Jalur Manggarai-Jatinegara mendapatkan prioritas untuk segera dilakukan perbaikan. SS membangun jalur ganda yang menanjak dari Stasiun Jatinegara, jalur baru tersebut dibuat lebih tinggi dari sebelumnya. Untuk menghubungkan dengan Stasiun Manggarai yang baru, SS membangun sebuah jembatan beton di atas Sungai Ciliwung.

Untuk menghilangkan persimpangan dengan jalan raya yang padat, SS melaksanakan peninggian jalur kereta api. Sehingga perlu dibangun jembatan di atas Matramanweg (Jalan Matraman), keseluruhan rampung pada tahun 1918. Selanjutnya SS melakukan perpanjangan emplasemen Stasiun Meester Cornelis dan merenovasi bangunan menjadi lebih besar.

stasiun jatinegara tempo dulu
heritage.kai.id

Tahun 1920, kemudian kembali dilakukan pembangunan pada stasiun dengan menambah kanopi peron di sayap di sisi kanan-kiri. Adapun besi ukiran sebagai penghubung antara tiang dengan atap berupa besi cor yang diimpor dari Belanda. Tahun 1924 konstruksi penutup samping kanopi dimodifikasi, yakni atap dinaikkan untuk kepentingan elektrifikasi jalur Tanjung Priok-Meester cornelis. Pada Januari 1925, proyek elektrifikasi kereta api Meester Cornelis-Tanjung Priok sepanjang 67,7 kilometer berhasil dirampungkan.

stasiun jatinegara tempo dulu
heritage.kai.id

Nama itu kemudian diubah menjadi Jatinegara pada masa pendudukan Jepang. Jepang tidak mau ada istilah Belanda kala itu. Ada beberapa pendapat terkait nama Jatinegara. Pertama, karena di daerah tersebut terdapat banyak hutan jati. Kedua, Jatinegara mengacu kepada “negara sejati” yang dipopulerkan oleh Pangeran Jayakarta. Perubahan nama tersebut pun berdampak terhadap perubahan nama stasiun, yakni Stasiun Jatinegara.

2 dari 3 halaman

Tampilan Baru Stasiun Jatinegara

Stasiun Jatinegara terus berbenah diri menjadi stasiun yang modern tanpa meninggalkan sejarahnya. Stasiun Jatinegara saat ini memiliki dua lantai, dan dinilai akan memberikan pelayanan yang lebih baik.

Bangunan baru Stasiun Jatinegara ini dibuat dengan gaya arsitektur modern minimalis, yaitu gaya arsitektur Eropa yang mencoba menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan di Indonesia. Desain ini menggantikan overcapping stasiun lama peninggalan Staatsspoorwegen.

wajah modern stasiun jatinegara
©2020 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Stasiun Jatinegara baru ini merupakan salah satu bagian kegiatan pembangunan DDT Paket A (Pembangunan Jalur Dwiganda Manggarai–Cikarang) yang mulai konstruksi pada 2016. Pembangunan stasiun ini dilakukan dengan menambah bangunan stasiun di atas jalur kereta eksisting yang lebih luas. Hal ini untuk memenuhi kebutuhan jumlah penumpang di stasiun ini yang semakin bertambah.

"Kita lihat bahwa Jatinegara sudah selesai dengan elevated, dan bisa dilihat bahwa yang tadinya satu lantai. Artinya, perlintasan dari orang-orang melalui rel-rel sekarang ini sudah elevated sehingga pelayanan ya menjadi lebih bagus," kata Menteri Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi di Stasiun Jatinegara, Jakarta Timur, pada Sabtu (20/3).

wajah modern stasiun jatinegara
©2020 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Selain penambahan luas pelayanan stasiun, hal lain yaitu menghilangkan level crossing yang diubah menjadi over pass. Jika selama ini penumpang harus menyeberangi rel jika berpindah peron, maka dengan over pass ini pengguna jasa lebih mudah dan aman jika melakukan perpindahan peron.

wajah modern stasiun jatinegara
©2020 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Selain itu, stasiun baru ini dilengkapi dengan fasilitas pelayanan yang lebih baik misalnya escalator dan lift untuk memudahkan penumpang, khususnya penumpang disabilitas. Pada lantai pertama terdapat berbagai fasilitas umum seperti mushola, tempat wudhu, toilet pria dan wanita, toilet untuk penyandang disabilitas, ruang kesehatan, ruang laktasi, ticket control, loket, serta berbagai ruangan kantor dan pantry. Untuk Konektivitas intermoda antar Kereta Jarak Jauh (Intercity) dan KRL terakomodir dengan adanya gate tiket di dalam area peron.

3 dari 3 halaman

Bangunan stasiun Jatinegara memiliki Ciri khas

wajah modern stasiun jatinegara©2020 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Bangunan stasiun Jatinegara memiliki ciri khas dengan arsitektur gaya Kolonial Modern pada bangunan depannya. Pada atap dibuat dengan kemiringan tajam menyerupai bentuk atap rumah di Eropa.

Bidang-bidang bukaan seperti pintu, jendela, jalusi atau clerestory (jendela atap) yang lebar-lebar yang ditujukan untuk pencahayaan alami dan penghawaan silang yang sesuai pada iklim tropis yang lembab.

Terdapat jendela atap di bagian puncak atas atap. Di atap tersebut juga ada bangunan berbentuk segitiga berwarna putih dan lingkaran berwarna abu-abu. Di bawah atap tersebut terdapat tulisan berwarna cokelat Stasiun Jatinegara.

Kini, Stasiun Jatinegara menjadi simpul bertemunya tiga jalur yang setiap harinya dilewati ratusan kereta api. Yaitu jalur ke Pasar Senen, Manggarai, dan Bekasi.

Stasiun Jatinegara juga melayani perjalanan KRL Commuter Line relasi Bekasi – Jakarta Kota PP, Jatinegara – Bogor PP, dan juga melayani perjalanan kereta api dari Luar Kota.

(mdk/lia)

Baca juga:
Tentara era Revolusi Naik Pangkat Tanpa Prosedur, Tak Dihormati Anak Buah
Ungkap Sejarah 6 Batu Nisan Kuno yang Ditemukan, Pemkot Palembang Cari Zuriat
Kisah Brigjen Eddie Nalapraya Tolak Uang Suap Senilai Dua Mobil Mewah
Kisah Hidup Pangeran Purboatmodjo, Disebut Sebagai Bupati Terbaik Pulau Jawa
Kisah Awal Mula Slogan 'Anda Ragu-Ragu Kembali Sekarang Juga' di Markas Kopassus
OPINI: Paradoks Masa Bersiap

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami