Vaksinasi Kultural Hadapi Pandemi, Ini Kata Budayawan tentang Festival Lima Gunung

Vaksinasi Kultural Hadapi Pandemi, Ini Kata Budayawan tentang Festival Lima Gunung
Festival Lima Gunung. ©magelangkab.go.id
JATENG | 9 Agustus 2022 13:13 Reporter : Shani Rasyid

Merdeka.com - Festival Lima Gunung merupakan sebuah festival tahunan yang diadakan oleh Komunitas Lima Gunung (KLG). Selama masa pandemi COVID-19, Festival Lima Gunung tetap diadakan baik secara daring maupun luring dengan personel terbatas, tempat berpindah-pindah, dan bersiasat dengan waktu guna mencegah kerumunan massa.

Namun bagi Budayawan Romo Doktor Gregorius Budi Subanar, Festival Lima Gunung begitu berperan penting, khususnya sebagai vaksinasi kultural dalam menghadapi pandemi COVID-19.

“Dalam masa pandemi ini, yang sebelumnya secara virtual, sekarang sungguh dihadirkan sebuah vaksinasi kultural, konkret bersama-sama dengan warga KLG,” kata Romo Budi dikutip dari ANTARA pada Senin (8/8). Lantas apa yang dimaksud dengan vaksinasi kultural menurut Romo Budi Subanar? Berikut selengkapnya:

2 dari 4 halaman

Modal Masyarakat

gunung merbabu

©Creative Commons/Uprising

Menurut Romo Budi Subanar, Festival Lima Gunung maupun festival budaya lainnya yang diadakan berbagai komunitas merupakan sebuah upaya vaksinasi kultural, yaitu sumber kekuatan masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk pandemi COVID-19.

Dalam hal ini ia menyebut tiga wujud pertemuan yaitu konkret, virtual, dan sosial. Ia mengatakan, berbagai kegiatan dari festival yang diadakan pada 8 Agustus hingga 2 Oktober 2022 itu menjadi kesempatan berharga manusia bertemu secara konkret.

Baginya, vaksinasi kultural itu penting diadakan secara berkelanjutan karena menjadi modal kekayaan masyarakat dalam mewujudkan kemajuan martabat kehidupan bersama.

3 dari 4 halaman

Ajang Silaturahmi

festival lima gunung
©magelangkab.go.id

Sementara itu tokoh spiritual Komunitas Lima Gunung yang juga Pemimpin Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo Magelang, KH Muhammad Yusuf Chudlori mengatakan bahwa Festival Lima Gunung merupakan ungkapan rasa syukur sekaligus ajang silaturahmi bersama jejaring dalam bingkai kebudayaan.

“FLG bisa menjadi penyejuk dan menghaluskan rasa. Nilai guyub masyarakat terjaga dan ditularkan di sini. Festival ini membuat orang menjadi bungah sambil berdoa bersama agar tenteram dan memperkuat harapan kemakmuran,” kata KH Yusuf dikutip dari ANTARA.

4 dari 4 halaman

Tema Festival

festival lima gunung
©magelangkab.go.id

Festival Lima Gunung pada tahun 2022 ini mengangkat tema “Wahyu Rumagang”. Salah satu tokoh utama komunitas, Sitras Anjilin, menjelaskan tema itu terkait dengan inisiatif memperkuat kegiatan kebudayaan dengan semangat guna menyongsong kehidupan baru setelah pandemi.

Sementara itu perintis Komunitas Lima Gunung yang juga budayawan Sutanto Mendut menyebut kata “wahyu” dalam tema itu adalah sesuatu yang turun kepada manusia yang bekerja keras, disiplin, serta setia dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

“Wahyu datang pada manusia melalui kerja berkeringat, tanggung jawab, dan bisikan. Penelitian menyebutkan anak-anak muda sangat maju hebat, tapi sibuk sendiri-sendiri. KLG lebih dari 21 tahun adalah ‘gumregah’ (bangkit dan bersemangat) bukan sebagai pegawai tetapi ‘tandang gawe’ (bekerja dengan gereget) bukan sekedar ‘nyambut gawe’ bekerja,” kata Sutanto dikutip dari ANTARA.

(mdk/shr)

TOPIK TERKAIT

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini