Diduga Sekap Karyawan, Dirut PT Meratus Line Jadi Tersangka

Diduga Sekap Karyawan, Dirut PT Meratus Line Jadi Tersangka
Ilustrasi garis polisi. ©2015 merdeka.com/darmadi sasongko
NEWS | 15 Agustus 2022 17:12 Reporter : Erwin Yohanes

Merdeka.com - Kasus dugaan penyekapan terhadap ES, seorang karyawan PT Meratus Line di Surabaya, memasuki babak baru. SR, Direktur Utama (Dirut) perusahaan kelautan atau kemaritiman itu telah ditetapkan sebagai tersangka.

Penetapan SR dalam kasus dugaan penyekapan ES ini terungkap dalam surat SP2HP (Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan) dengan nomor B/622/SP2HP.4/VIII/RES.1.24/2022/RESKRIM yang dikeluarkan Polres Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Surat itu ditandatangani Kasat Reskrim Polres Pelabuhan Tanjung Perak AKP Arief Ryzki Wicaksana.

Dalam surat yang ditujukan kepada pelapor berinisial MM, istri korban dugaan penyekapan ini, polisi menjelaskan, bahwa dalam perkara tersebut penyidik telah memanggil dan memeriksa 12 orang saksi. Selain itu, penyidik juga telah meminta keterangan dari ahli pidana.

Dari sini, penyidik pun melakukan gelar perkara dan memutuskan untuk meningkatkan status saksi terlapor atas nama SR, dari saksi menjadi tersangka.

Penetapan status tersangka ini pun dibenarkan kuasa hukum MM, Eko Budiono. Ia menyatakan, bahwa sesuai dengan laporan yang diterimanya, terlapor sudah berstatus tersangka.

"Iya, berdasarkan SP2HP yang saya terima, terlapor sudah berstatus tersangka," ujarnya, Minggu (14/8).

Ia menyebut, SR ditetapkan tersangka dalam perkara dugaan penyekapan dengan nomor laporan LP/B/055/II/2022/SPKT/POLRES PELABUHAN TANJUNG PERAK POLDA JAWA TIMUR. Atas perkara ini, terlapor disebutnya diduga melanggar Pasal 333 KUHP tentang merampas kemerdekaan seseorang.

2 dari 3 halaman

Penyidik Pegang Dua Alat Bukti

Kasat Reskrim Polres Pelabuhan Tanjung Perak AKP Arief Ryzki Wicaksana membenarkan penetapan status tersangka Dirut PT Meratus Line itu. "Benar. Terlapor sudah kami tetapkan tersangka kasus penyekapan itu," katanya.

Disinggung mengenai tudingan lambannya penanganan kasus itu, dia menyatakan sejak awal pihaknya terus melakukan penyelidikan dan penyidikan serta pemanggilan saksi.

"Nah setelah memenuhi dua alat bukti, kami lakukan gelar hingga penetapan tersangka itu. Tentu proses itu membutuhkan waktu," terangnya.

Ditanya waktu penetapan tersangka, mantan Kanit Resmob Satreskrim Polrestabes Surabaya itu tak tahu pastinya. "Yang jelas awal bulan ini," terangnya.

3 dari 3 halaman

Korban Dituding Rugikan Perusahaan

Diketahui, ES mengaku menjadi korban penyekapan. Tidak hanya itu, harta bendanya berupa uang Rp570 juta dan beberapa sertifikat tanah disita oleh orang yang diduga melakukan penyekapan.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, saat itu ES dituduh melakukan perbuatan yang dianggap telah merugikan tempatnya bekerja, yakni PT Meratus Line di Jalan Tanjung Perak, Surabaya. Entah mengapa, orang tua ES justru yang dipanggil untuk menghadap perusahaan.

Tak ingin terjadi apa-apa dengan orang tuanya, ES lalu menghadap manajemen perusahaan. Namun, di kantornya, ia justru tidak diperbolehkan pulang dengan alasan harus membayar sejumlah ganti rugi yang telah ditetapkan perusahaan.

Kedatangan ES ke kantor ini rupanya sekaligus menjadikannya tidak bisa pulang ke rumah. Sebab, di kantor tersebut ia mengaku dijaga ketat dan tidak diperbolehkan ke luar ruangan.

Hal ini pun membuat MM, sang istri panik. Apalagi, saat dihubungi sang suami, ia diminta untuk membawa uang tabungan sebesar Rp570 juta dan sejumlah sertifikat tanah yang dimiliki untuk dibawa ke kantor.

Sesampainya di kantor, MM pun diminta untuk menandatangani sejumlah surat yang tidak berani ditolaknya, dengan alasan keselamatan sang suami. Namun, seusai menyerahkan apa yang diminta perusahaan, sang suami ternyata tak kunjung dibebaskan.

Hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk melaporkan kasus dugaan penyekapan itu ke polisi. Hal ini pun dibenarkan oleh kuasa hukum MM, Eko Budiono. Saat dihubungi melalui sambungan telepon, ia menyatakan, kasus tersebut telah mendapatkan penanganan dari pihak Polres Tanjung Perak Surabaya.

"Iya benar, kasus itu sudah ditangani Kepolisian," tandasnya, Sabtu (13/8).

Laporan dugaan penyekapan oleh perusahaan itu pun mendapatkan nomor, LP/B/055/II/2022/SPKT/POLRES PELABUHAN TANJUNG PERAK POLDA JAWA TIMUR. Dengan terlapor, SR, sebagai Direktur Utama PT Meratus Line. SR dilaporkan kliennya dengan sangkaan pasal 333 KUHP tentang merampas kemerdekaan seseorang.

"Sebagai terlapor adalah SR, Dirut perusahaan," tegasnya.

(mdk/yan)

Baca juga:
Karyawan di Surabaya Diduga Jadi Korban Penyekapan, Uang dan Sertifikat Tanah Disita
Kasus Penyekapan Pengusaha di Hotel Depok Berakhir Damai
BP2MI: Ratusan WNI di Kamboja Mendapat Kekerasan selama Penyekapan
12 Korban Penipuan Online di Kamboja Pulang ke Indonesia
16 Korban Penyekapan di Kamboja Pulang ke Indonesia Hari Ini
Alasan Polres Jaksel Mengajukan Pencekalan untuk Artis Nindy Ayunda

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini