Gejala Terinfeksi Virus Langya: Demam, Batuk, hingga Nyeri Otot

Gejala Terinfeksi Virus Langya: Demam, Batuk, hingga Nyeri Otot
ilustrasi virus. ©2015 Merdeka.com/ www.rantlifestyle.com
NEWS | 12 Agustus 2022 12:19 Reporter : Supriatin

Merdeka.com - Virus Langya kini jadi sorotan. Virus yang pertama kali ditemukan di wilayah timur China ini bersifat zoonotik, menular dari hewan ke manusia.

Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI Tjandra Yoga Aditama mengatakan, karakteristik virus Langya seperti Covid-19. Menyerang paru dan saluran napas atau dikenal 'respiratory diseases'.

"Gejala penyakit akibat virus Langya meliputi demam, lemah, batuk, hilang nafsu makan, dan nyeri otot," kata Tjandra kepada merdeka.com, Jumat (12/8).

Virus Langya dikenal dengan sebutan Langya henipavirus (LayV). Virus yang masih satu kelompok dengan dengan virus Hendra dan Nipah ini sudah menginfeksi 35 orang di timur China.

Virus Nipah pertama kali ditemukan pada tahun 1999 di Malaysia dan Singapura. Angka kematian Virus Nipah berkisar antara 40 sampai 70 persen.

Sementara itu, penyakit akibat virus Hendra pertama kali dilaporkan di Australia. Saat itu, kasus Hendra ditemukan pada kuda dan manusia, dengan angka kematian yang cukup tinggi.

"Sejauh ini belum ada bukti tentang adanya penularan antar manusia pada penyakit akibat virus Langya, sementara pada yang akibat virus Nipah misalnya ada dugaan penularan antara manusia," kata Tjandra.

2 dari 3 halaman

Menurut Tjandra, penyakit akibat virus Langya dilaporkan dalam jurnal ilmiah New England Journal of Medicine pada Kamis (4/8) lalu. Laporan itu menyebutkan, kasus Langya bermula dari bulan Desember 2018.

"Di mana seorang wanita 53 tahun masuk rumah sakit di Tiongkok, dan kemudian dilaporkan lagi 34 kasus Langya ini di dua Propinsi di bagian timur Tiongkok. Semua kasus ini sembuh dengan baik dan tidak ada hubungan penularan satu dengan lainnya, tidak interlinked," jelas Tjandra.

Penelitian di New England Journal of Medicine juga menunjukkan bahwa penyakit ini tidak ditularkan ke kontak dekat atau erat dan tidak ada riwayat sumber penularan yang sama di antara pasien-pasien.

"Sebagian besar pasien jelas ada kontak erat dengan hewan sebelum mereka jatuh sakit. Jadi sejauh ini disimpulkan bahwa penyakit akibat virus Langya ada dalam bentuk infeksi sporadik, tidak sering dan terjadi akibat penularan dari hewan ke manusia," tutupnya.

3 dari 3 halaman

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menanggapi temuan virus Langya di China. Dia mengatakan, pemerintah sedang mempelajari virus tersebut. 

"Kita sedang pelajari karena baru keluar ya," kata dia, Kamis (12/8).

Mantan Wakil Menteri BUMN ini menyebut, virus Langya belum masuk kategori Variant Under Monitoring Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO. Dia menjelaskan, virus yang diawasi serius oleh WHO umumnya melewati tiga tahapan.

Pertama, Variant Under Monitoring. Kedua, Variant of Interest. Ketiga, Variant of Concern.

"Nah sekarang ini belum masuk Variant Under Monitoring, jadi masih sangat dini," ucapnya.

(mdk/tin)

Baca juga:
Menkes soal Virus Langya: Belum Masuk Varian Dalam Pengawasan WHO
Pakar: Belum Ada Bukti Virus Langya Bisa Menular Antar Manusia
Studi: Perubahan Iklim Memicu 218 Penyakit Menular Makin Berbahaya
Jerman Laporkan Kasus Pertama Cacar Monyet Pada Anak
Mengenal Virus Langya yang Baru Terdeteksi di China, Sudah Tulari 35 Orang
Muncul Subvarian Covid-19 BA.4.6, Kenali Karakteristiknya

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini