Perdagangan kulit harimau digagalkan Polda Aceh, 4 orang dibekuk

Perdagangan kulit harimau digagalkan Polda Aceh, 4 orang dibekuk
Penyelundupan offset harimau. ©2015 merdeka.com/afif
NEWS | 10 Agustus 2015 16:25 Reporter : Afif

Merdeka.com - Tim Reserse Kriminal Khusus Polda Aceh berhasil menggagalkan upaya penyelundupan kulit harimau dari tangan warga di Aceh Tamiang. Bersama barang bukti, polisi juga berhasil menangkap empat tersangka di lokasi berbeda.

Penangkapan ini bermula dari informasi diperoleh dari intel, masyarakat, dan aktivis pecinta lingkungan tentang kulit harimau hendak diperjualbelikan. Kemudian, kepolisian langsung melakukan upaya penangkapan dengan menyamar menjadi pembeli.

Kasubbid Tipiter Reskrimsus Polda Aceh, AKBP Mirwazi mengatakan, penangkapan tersangka pertama Baharuddin (42 tahun), terjadi pada Kamis (6/8) sekitar pukul 14.30 WIB di Desa Jambe Rambung, Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang.

Bersama tersangka Baharuddin ditemukan barang bukti berupa selembar kulit harimau yang masih basah, tulang, tengkorak harimau, serta empat buah gigi taring harimau.

Kemudian petugas melakukan pengembangan dan berhasil menangkap tiga tersangka lainnya, masing-masing Amir (45 tahun), M Sa’i (34 tahun), dan Sahruna (29 tahun). Ketiganya merupakan warga Aceh Timur.

"Ini bermula dari laporan masyarakat, aktivis pecinta lingkungan, lalu kita menyamar menjadi pembeli dan sempat transaksi Rp 10 juta, dan seketika itu kita tangkap tersangka Baharuddin," kata AKBP Mirwazi, di Mapolda Aceh, Senin (10/8).

Mirwazi melanjutkan, dalam komplotan itu mereka sudah membagi peran. Amir bertugas mencari pasar, baik di Aceh atau hingga keluar Aceh. Sedangkan peran tersangka M. Sa'i dan Sahruna bersama Baharuddin mencari harimau dalam hutan. Harimau ini didapat dalam hutan Desa Listen, Kecamatan Pindeng, Kabupaten Gayo Lues.

"Harimau itu ditangkap dengan memasang jerat rusa. Setelah terjerat langsung dibelah, daging dibuang, hanya beberapa komponen yang dibawa pulang," ucap Mirwazi.

Ketiga tersangka sekarang sedang ditahan di Mapolda Aceh guna proses hukum selanjutnya. Mereka dijerat pasal 21 ayat 2 huruf a dan d Undang-Undang Nomor 05 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem juncto Pasal 55, 56 KUHPidana.

"Mereka terancam hukum 5 tahun penjara. Hingga sekarang belum ada tersangka lainnya dan mereka menjual masih secara tradisional," tutup Mirwazi.

(mdk/ary)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami