Hot Issue

Robohnya Fasilitas dan Tenaga Kesehatan Kita

Robohnya Fasilitas dan Tenaga Kesehatan Kita
Pemerintah tetapkan harga swab test mandiri tertinggi Rp 900 ribu. ©Liputan6.com/Herman Zakharia
PERISTIWA | 6 Januari 2021 09:58 Reporter : Rifa Yusya Adilah

Merdeka.com - Hampir lewat tengah malam, Hana masih sibuk mencari Rumah Sakit (RS) penanganan Covid-19 untuk sang paman. Kerabatnya itu dinyatakan sebagai pasien suspect di salah satu RS swasta di Tangerang, Banten. Namun RS tersebut tidak memiliki fasilitas untuk merawat pasien dengan gejala Covid-19.

Rontgen paru-paru menunjukkan hasil kurang baik. Begitu juga saturasi oksigennya 68 persen. Hasil rapid test reaktif. Karena itu sang paman dinyatakan sebagai pasien suspect lantaran menunjukkan gejala infeksi Covid-19.

rs covid 19 penuh

"Om saya reaktif, tapi belum di-swab. Dilihat dari gejalanya, sesak napas. Sudah dirontgen juga paru-parunya, hasilnya tidak bagus. Dokternya curiga omku Covid," kata Hana kepada merdeka.com, Selasa malam (5/1).

Pelajar berusia 18 tahun itu sudah menghubungi 10 rumah sakit di Tangerang. Namun sudah tidak ada lagi tempat bagi pamannya. "10 RS itu bilang sudah penuh bed-nya," kata Hana.

Harap-harap cemas. Gambaran perasaan Hana saat ini. Di tangannya masih ada daftar beberapa rumah sakit yang sudah coba dihubungi. Namun belum memberi kabar. Harapan hampir pupus.

"Saya sebenarnya masih menunggu kabar dari RS lain, tapi sepertinya akan dirujuk ke RS luar Tangerang. Soalnya setahu saya semua RS sudah penuh," pinta Hana.

rs covid 19 penuh

Pasien Non Covid-19 yang Terlantar

Kisah serupa dialami Arin. Kakak perempuannya didiagnosa mengidap diabetes oleh salah satu RS setelah melakukan tes gula. Namun RS tersebut tidak sanggup lagi merawat pasien.

Arin membawa kakaknya ke RS swasta. Saat diperiksa kembali, kakaknya didiagnosa mengidap penyakit paru-paru dan langsung dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD). Karena kondisinya cukup buruk. Namun tiba-tiba pihak RS merujuk kakak Arin ke rumah sakit lain.

"Saat tiba di RS yang dirujuk, malah ditolak. Alasannya tidak ada dokternya. Akhirnya kita ke RS lain. Nah di RS ketiga juga ditolak karena ruangannya penuh sama pasien Covid-19," kata Arin kepada merdeka.com, Selasa (5/1).

Arin bersabar menemani kakaknya ke RS lain. Namun lagi-lagi, RS keempat yang didatangi menolaknya. Alasan yang sama. Kamar perawatan penuh dengan pasien Covid-19. Kepedihan Arin tak terbendung. Melihat sang kakak 'terlantar'.

"Sedih banget, empat jam lebih tidak ditangani sama RS yang ketiga itu. katanya, dokternya tidak ada. Semua menangani pasien Covid-19," ujarnya.

tim medis di rs persahabatan

Malam semakin larut. Arin dan kakaknya memutuskan mendatangi klinik dekat rumahnya. Setidaknya, kakaknya bisa ditangani oleh dokter.

Keesokan harinya, perempuan 23 tahun itu melanjutkan pencarian. Mengetuk satu per satu rumah sakit demi mendapat kamar perawatan bagi kakaknya. Bagaimanapun juga, sang kakak tetap memiliki hak mendapatkan pelayanan kesehatan meskipun tidak terinfeksi Covid-19.

"Sekarang kakak ada di rumah, belum mendapat perawatan sama sekali karena pas di IGD itu belum sempat ditangani dokter. Semoga diterima dan bisa dirawat soalnya kondisi kakak memprihatinkan," ujar Arin.

Fasilitas dan pelayanan kesehatan di Indonesia berada di ujung tanduk. September 2020, pasca libur panjang Hari Kemerdekaan RI, jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia melonjak. Kondisi ini membuat masyarakat yang membutuhkan akses pelayanan kesehatan menjadi kesulitan.

tim medis di rs persahabatan

Semalam, seorang warga Kuningan, Jawa Barat, Angie juga bersedia berbagi cerita. Pada akhir November 2020, ayahnya mengalami kecelakaan. Tulangnya patah dan cedera organ dalam. Tindakan kesehatan perlu segera diambil. Dia memerlukan dokter spesialis seperti ortopedi, urologi dan gastroenterology.

"Terlantar di ICU RS dekat rumah selama 2 hari. Di RS itu tidak ada dokter spesialis urologi buat angkat ginjal dan thoraxnya, ada masalah di digestive system-nya juga, karena separah itu," kata Angie.

Saat ini, kondisi ayahnya sudah membaik. Dia bersyukur kesehatan ayahnya kembali pulih. Meskipun masih ada beberapa luka luar.

"Saat itu, aku sudah cari-cari RS tapi tidak dapat. RS penuh semua. Ini yang bikin nyawa bapak hampir lewat. Gara-gara Covid, jadi susah cari ICU yang kosong dan spesialis yang dituju. Setelah 2 hari, bapak baru dirujuk ke RSHS Bandung," kenang Angie.

Baca Selanjutnya: Fasilitas Kesehatan Hampir Roboh...

Halaman

(mdk/noe)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami