Sindiran 'Malu Dong' Irjen Napoleon ke Trunojoyo

Sindiran 'Malu Dong' Irjen Napoleon ke Trunojoyo
Irjen Napoleon Bonaparte. ©2020 Merdeka.com/Nur Habibie
NEWS | 13 Agustus 2022 08:24 Reporter : Eko Prasetya

Merdeka.com - Mantan Kadiv Hubinter Polri Irjen Napoleon Bonaparte menyindir kinerja Mabes Polri dalam menangani kasus kematian Brigadir J di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo. Dalam kasus tersebut, Irjen Ferdy Sambo ditetapkan menjadi tersangka.

Sejumlah polisi terkena pelanggaran etik dalam menangani kasus tersebut. Diduga mereka ikut dalam bagian skenario Ferdy Sambo yang ingin membuat kematian Brigadir J seolah baku tembak.

Napoleon mengapresiasi tindakan polisi yang mau melakukan penyelidikan ulang. Serta mau memperbaiki kesalahan yang pernah dilakukan.

"Dengan pengumuman dia hari lalu itu, membuktikan bahwa tidak semua polisi itu brengsek. Masih ada polisi yang masih punya hati nurani," jelas Irjen Napoleon kepada wartawan.

Terlebih, saat ini Indonesia ingin merayakan hari jadi pada 17 Agustus 2022 mendatang. Napoleon pun sedang jika misteri kasus tewasnya Brigadir J akhirnya terbongkar.

"Saya juga menyampaikan momen kasus ini bisa menjadi momentum awal untuk membongkar skenario dalam peristiwa - peristiwa lain sejak terjadi sebelumnya. Mau 17, merdeka," ucapnya.

2 dari 3 halaman

Irjen Napoleon juga sempat mengimbau, kepada pihak-pihak yang kerap berkomentar yang seolah berjasa pada kasus ini. Namun Napoleon tidak menyebut siapa pihak yang dimaksud.

"Kepada pihak-pihak lain yang berkomentar seolah-seolah dirinya paling berjasa dalam kasus ini, malu dong," imbuh Napoleon sambil berseringai.

Di satu sisi, Irjen Napoleon turut mengapresiasi kepada semua pihak khususnya aparat kepolisian yang sudah mau membuat kasus yang penuh misteri menjadi terang menderang.

"Saya mengapresiasi keluarga besar (brigadir) Josua dan para penasihat hukum, saya juga mengapresiasi para senior saya dan pakar-pakar yang sesuai bidang, yang sudah memberikan kontribusi. Saya juga apresiasi kepada media dan seluruh netizen yang sudah memberikan seruan dengan keras sehingga membuat Polri mau terbuka," katanya.

Selain itu, Napoleon menilai, rencana penembakan yang menewaskan Brigadir J dibantu oleh banyak pihak.

"Skenario itu tidak dibuat oleh Pak Sambo sendiri. Tetapi ada pihak-pihak lain, penasihat-penasihat yang katanya belum muncul itu," katanya.

Napoleon mengatakan, dengan keras, pihak-pihak yang ikut serta dalam kasus penembakan berencana tersebut harus ditindak. Lantaran juga secara langsung memberikan kabar buruk kepada publik.

"Supaya jangan jadi kebiasaan, jangan jadi kebiasaan kemudian membolak-balikkan fakta. Itu yang terjadi," tegas Napoleon.

Dirinya juga menilai, dengan terbongkarnya kasus penembakan yang sempat menjadi misteri dapat merupakan momentum pada kasus yang sempat menjadi misteri juga. Namun Napoleon tidak merinci kasus apa saja yang dimaksud.

"Ini jadi momentum untuk mengungkap skenario-skenario lain, ya mungkin terjadilah peristiwa-peristiwa sebelumnya yang lain," jelasnya.

"Publik lebih tahu daripada saya," tambahnya.

Lebih lanjut, pada kasus penembakan berencana yang melibatkan 31 kepolisian tersebut, Napoleon mengaku senang lantaran kasus tersebut bisa terbongkar menjelang 17 Agustus nanti.

"Saya juga menyampaikan momen kasus ini bisa menjadi momentum awal untuk membongkar skenario dalam peristiwa - peristiwa lain sejak terjadi sebelumnya. Mau 17, merdeka," tuturnya yang diakhiri dengan teriakan.

Sebelumnya, Napoleon juga komentar saat awal-awal kasus muncul. Menurutnya, setiap senjata api itu melekat kepemilikannya yang tidak boleh dipakai anggota lain.

"Senjata itu, setiap senjata dari pendidikan dibilang, senjata itu adalah istri pertama. Jadi saya bilang sama istri saya, Anda cuma Istri kedua. Maksudnya istri pertama tidak boleh dipakaikan kepada orang lain, tidak boleh," kata Napoleon.

3 dari 3 halaman

Jenderal bintang dua itu juga menyebut, etik melekatnya senjata kepada setiap personel itu memiliki aturan yang ketat. Pasalnya, setiap senjata yang dipegang personel telah tercatat segala jenis sampai nomor serinya.

"Senjata itu ada merek, ada nomornya, ada namanya tercantum melekat dibawa kemana-mana, kamar mandi pun dibawa. Tidak boleh dititipkan, dipakaikan kepada orang lain yah," tutur dia.

Oleh sebab itu, kata Napoleon, apabila ada terjadi pelanggaran terkait senjata api yang digunakan personel polisi. Hal itu akan menjadi pelanggaran berat yang harus menjadi tanggung jawab anggota

"Jadi senjata itu sangat, kalau itu terjadi itu pelanggaran berat," tegas dia.

Bahkan, Mantan Kadiv Hubinter Mabes Polri itu juga menjelaskan soal tata cara prosedur anggota untuk bisa mendapatkan izin kepemilikan senjata haruslah melalui serangkaian tes yang dijalani.

"Kalau untuk mendapatkannya harus menurut psikologi tidak boleh temperamen. Kemudian dalam kategori tertentu ahlinya ada, kemudian dia harus mahir menggunakannya," jelasnya.

Di samping itu, Napoleon juga menyinggung soal jenis senjata yang juga berpengaruh terhadap pangkat dari setiap personel. Meski aturan itu, kata Napoleon, kembali dibalikan kepada masing-masing pimpinan setiap kesatuan.

"Iya dong (pangkat berpengaruh terhadap jenis senjata). Sebetulnya bukan kewenangan saya untuk menjawab itu, tetapi yang saya tau untuk penggunaan senjata itu semua diatur kebijakannya oleh pimpinan kesatuan dan departemen yang menanganinya contohnya kalau di Mabes itu Baintelkam. Silahkan ditanyakan ke Baintelkam," tuturnya.

Napoleon pun enggan menjelaskan lebih lanjut berkaitan dengan kepemilikan senjata Glock-17 Bharada E yang dianggap janggal. Lantaran senjata yang dimiliki Bharada E tidaklah wajar. Karena senpi jenis itu bukan untuk anggota yang berpangkat Bhayangkara Dua (Bharada).

"Ada pangkat, tetapi itu bukan kewenangan saya menjawab itu nanti dari Baintelkam yang bisa menentukan kewenangan pangkat apa menggunakan senjata apa. (Terkait kepemilikan Glock-17) Bukan hak saya untuk menjawab karena tadi saya bilang itu tergantung kebijakan pimpinannya," ucap Napoleon.

(mdk/eko)

Baca juga:
Runtuhnya Marwah Propam Polri 'Polisinya Polisi'
Misteri Motif dan Ungkapan Cinta Tulus Istri Ferdy Sambo
Polri Hentikan Laporan Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Istri Ferdy Sambo
Ferdy Sambo Akui Jadi Aktor Intelektual Pembunuhan Brigadir J
Terima SPDP Irjen Ferdy Sambo, Kejagung Jamin Jaksa yang Tangani Profesional
Polri Masih Rahasiakan Motif Kasus Irjen Ferdy Sambo, Ini Kata Jokowi

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini