Menakar penyebab Agus Yudhoyono tumbang di putaran pertama

Menakar penyebab Agus Yudhoyono tumbang di putaran pertama
POLITIK | 16 Februari 2017 05:03 Reporter : Randy Ferdi Firdaus

Merdeka.com - Elektabilitas Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Sylviana Murni sempat meroket sejak pertama kali dideklarasikan bakal diusung sebagai cagub dan cawagub pada akhir September 2016 lalu. Mereka didukung oleh poros Cikeas yang terdiri dari Demokrat, PPP, PAN dan PKB setelah komunikasi yang cukup panjang dengan kubu Gerindra dan PKS.

Sejumlah lembaga survei menempatkan Agus-Sylvi di posisi teratas mengalahkan Ahok-Djarot dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Namun sayang, elektabilitas Agus-Sylvi tak bertahan lama, dan terus merosot jelang pencoblosan Pilgub DKI 2017.

Hingga pada akhirnya, pasangan Agus-Sylvi dinyatakan tak lolos oleh semua lembaga survei yang menggelar quick count tak lama setelah penghitungan suara selesai dilakukan di TPS-TPS pada 15 Februari kemarin. Elektabilitas Agus-Sylvi bahkan tak lebih dari 20 persen, kalah jauh dari Ahok dan Djarot yang bersaing di angkat 40 persen.

Kenapa elektabilitas Agus-Sylvi bisa merosot tajam?

Peneliti SMRC Djayadi Hanan mengakui bahwa tingkat keterpilihan Agus-Sylvi sempat meroket di awal-awal pencalonan. Hingga akhirnya, jelang pencoblosan survei yang dilakukan oleh SMRC, Agus-Sylvi hanya mendapat 20an persen.

"Berbalik arah dengan pasangan nomor 2 (Ahok-Djarot) dan 3 (Anies-Sandi). Yang paling cepat (naik) itu Anies. Jadi itu suatu hal yang sudah dideteksi oleh survei-survei sejak debat pertama dari AHY turun, sementara Anies dan Ahok naik," kata Djayadi saat dihubungi merdeka.com, Rabu (15/2) malam.

Djayadi menekankan, salah satu faktor yang paling membuat Agus-Sylvi jeblok adalah penampilan di debat. Survei membuktikan, dari debat pertama, kedua dan ketiga, elektabilitas Agus-Sylvi terus turun.

Dia melihat, penampilan Agus-Sylvi di debat tidak memuaskan publik Jakarta. Sehingga, hal itu berdampak pada tingkat keterpilihan calon yang diusung poros Cikeas tersebut.

"Mungkin karena debat melihat langsung bagaimana kualitas AHY dibandingkan langsung dengan Ahok dan Anies jadi terlihat debat pertama kurang perform, kurang pengalaman, seolah seperti menghafal, menimbulkan keraguan. Penampilan mpok Sylvi yang pengalaman di birokrasi juga tidak dapat mengimbangi," kata Djayadi.

"Agus-Sylvi dianggap kalah dalam debat. Karena itu, tren suaranya menurun, pengaruhnya besar, penurunan dan peningkatan itu pengaruhnya paling besar dari debat. Paling negatif itu AHY, positif di Anies. Kan suara Anies di survei awalnya nomor 3 terus jadi nomor 2 terus melonjak dan menyalip AHY sampai survei terakhir SMRC di angka 33 persen hanya selisih 6 persen dari Ahok pada Februari," ungkap Djayadi.

Selain itu, Djayadi juga mengungkap, tak jalannya roda partai pendukung Agus-Sylvi. Bahkan, suara-suara partai pendukung dinilai berlarian ke Anies-Sandi serta Ahok-Djarot. Hal ini memperparah hasil pencoblosan bagi Agus-Sylvi.

"Dilihat dari hasil exit poll yang dilakukan SMRC hari ini (kemarin). Pendukung PDIP solid ke Ahok sekitar 80 persen 90 persen, Gerindra dan PKS juga solid dukung Anies-Sandi 90-80 persen. Nah yang agak tercerai pendukung Golkar 50 persen, ada yang Anies dan AHY. PPP juga ada yang ke Anies-Sandi, PKB 50 persen ke Anies-Sandi," tutur dia.

Kemudian bagaimana suara Agus-Sylvi di putaran kedua nanti? Djayadi mengungkap beberapa faktor kemungkinan larinya suara Agus antara ke Ahok atau Anies.

"Kalau karakteristik cenderung ke Anies, misalnya terutama soal sentieman anti Ahok, soal agama, etnis. Jadi kemungkinan kalau kami hitung dari survei terakhir, AHY 20 persen, Anies 33, Ahok 39 itu yang terakhir, sementara undecided (voters) 7,5 persen. Anies (di quick count) 40 persen naik 7 persen, kemungkinan (dapat suara) dari AHY dan Ahok naik kemungkinan dari undecided, ada dari AHY tapi sedikit," kata dia.

Djayadi kembali menekankan, kemungkinan besar dilihat dari karakteristik memang suara Agus-Sylvi akan lari ke Anies-Sandi. Bahkan dia menjamin, jika Pilgub DKI putaran kedua dilakukan rentang satu minggu, maka Anies-Sandi akan menang dari Ahok-Djarot.

Sementara soal dukungan partai, Djayadi tak yakin benar akan banyak pengaruhi dukungan di putaran kedua. Sebab, partai boleh saja dukung, tapi di akar rumput bisa terjadi lain dari keputusan partainya.

"Karena putaran kedua itu 2 bulan lagi, di situ akan banyak peristiwa yang terjadi misalnya kampanye, isu apa yang berkembang, bagaimana jalannya sidang Ahok, apakah menimbulkan positif atau negatif," tutur dia. (mdk/rnd)

Baca juga:

Ini hasil perhitungan cepat sementara Pilgub DKI versi PKS

Annisa Pohan: Kita sudah berjuang maksimal, semua ada hikmahnya

Poros Cikeas siap koalisi dengan Ahok atau Anies, tapi ini syaratnya

Sandiaga Uno sebut Agus Yudhoyono elegan dan ksatria akui kekalahan

Saat seruan 'Agus Presiden' menggema di Wisma Proklamasi

Raih 10.203 suara, Anies-Sandi menang telak di Kelurahan Petamburan

Agus: Tuhan belum izinkan saya jadi pemimpin Jakarta

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami