Make Love, Not Babies

Make Love, Not Babies
Ilustrasi hamil. ©shutterstock.com/elesuc
SEHAT | 10 Juli 2020 21:39 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Ada hal baru yang patut dipertimbangkan pasangan dalam masa pandemi Covid-19, yakni menunda kehamilan atau mengatur jarak rasional untuk memiliki anak.

Pasangan usia subur, terutama mereka yang baru menikah, masih menikmati bulan madu, atau sedang berupaya punya anak, biasanya memiliki aktivitas seksual lebih sering daripada pasangan lainnya.

Masalahnya, hamil pada masa pandemi Covid punya risiko lebih besar dibandingkan hamil pada masa normal non-wabah.

Risiko paling jelas adalah sulit mengakses layanan klinik atau rumah sakit ibu dan anak, karena adanya pembatasan jumlah pasien atau pemberian prioritas kepada pasien Covid yang dari hari ke hari makin membengkak jumlahnya.

Data perkembangan Covid secara nasional sudah mencapai 68.079 kasus positif Covid, 31.585 sembuh, dan 3.359 meninggal dunia.

Di tengah tingginya risiko penularan virus dan pemberian prioritas ahli medis kepada pasien penyakit Corona, akan meningkatkan risiko bagi ibu hamil dan janin yang dikandungnya. Belum lagi jika kehamilan sang ibu disertai penyakit bawaan seperti hipertensi, diabetes, obesitas, kelainan jantung, gangguan pernapasan, meningitis, ODHA, yang membutuhkan perhatian khusus dari dokter spesialis, selain dokter ahli kandungan.

Tips Aman Menunda Kehamilan

1. Kondom itu praktis

Kondom adalah alat kontrasepsi yang paling banyak, paling aman, dan paling mudah didapatkan di toko obat dan apotek. Sesuai fungsinya, kondom digunakan oleh pria dan telah teruji memiliki tingkat pencegahan kehamilan hingga 90 persen. Selain untuk mencegah kehamilan, kondom juga dikenal efektif mencegah penyebaran penyakit atau infeksi menular seksual (IMS). Saat membeli, pastikan kondom dalam keadaan terbungkus rapat, belum pernah dibuka, dan masa edarnya masih cukup lama. Menggunakan kondom yang sudah kedaluwarsa, tidak utuh, atau sobek, justru memperbesar risiko hamil dan penularan penyakit seksual. Kondom atau sering disebut sarung mani, terbuat dari bahan lateks super tipis, berfungsi untuk mencegah tumpahnya cairan sperma di dalam vagina. Kondom akan efektif bila digunakan tepat sebelum penetrasi dan dicopot setelah ejakulasi dan sebelum ereksi berakhir.

2. Kenali Alat Kontrasepsi (alkon) permanen

Selain kondom, tersedia di banyak klinik KB dan rumah sakit beberapa jenis alkon seperti Pil KB, Suntik, KB implan, IUD, femidom, vasektomi dan tubektomi. Tiap alkon memiliki kekurangan dan kelebihannya dan pemilihannya sangat tergantung pada kenyamanan, kemudahan, nilai ekonomi, dan paling sedikit memberikan dampak bagi pemakainya.

Pil KB adalah pilihan kedua masyarakat terbanyak setelah kondom. Selain praktis, pil KB bisa dipersepsikan layaknya vitamin bagi tubuh perempuan karena isinya berupa hormon. Terdapat dua jenis pil KB yaitu dosis 21 hari atau 28 hari. Keduanya diminum secara rutin sebanyak jumlah dosis pil yang dipilih.

Suntik KB hampir sama dengan pil KB, yakni hormon yang disuntikkan di area lengan atas atau paha atas perempuan untuk menghambat pelepasan sel telur dan mengentalkan lendir di mulut rahim. Dalam situasi dinding rahim yang kental akan menyulitkan pergerakan sperma laki-laki membuahi sel telur wanita. KB suntik dilakukan pada minggu pertama menstruasi, dan diakui memberikan efektivitas pencegahan kehamilan di atas 95 persen. Artinya tingkat kegagalan hamil hanya 3-5 persen.

Implan KB atau Susuk termasuk metode KB baru yang mulai populer dipilih para ibu muda dalam upaya menunda kehamilan. Alasan pemakai implan ialah alat ini ditanam di bawah kulit lengan perempuan, bisa bertahan selama 3 tahun, dan dapat dilepas saat pasangan siap untuk hamil atau ingin punya anak. Implan KB ini berupa plastik fleksibel kecil seperti tusuk gigi sepanjang 3-4 cm, diameter 0,2 cm. Implan KB berfungsi untuk mengeluarkan hormon progestin ke dalam darah yang akan mencegah kehamilan.

IUD atau spiral merupakan alkon yang dianggap ribet tapi punya efektivitas nyaris 100 persen untuk mencegah kehamilan. Mirip dengan implan, pemasangan IUD harus melalui dokter kandungan dan menempuh prosedur seperti minum obat pereda nyeri, disuntik anastesi, atau diukur oleh uterine sound untuk mengukur kedalaman rahim. Intra Uterine Device (IUD) adalah alkon berbahan plastik yang fleksibel, berbentuk huruf T, berukuran 3 cm. IUD dimasukkan ke dalam rahim dan dapat mencegah kehamilan hingga 10 tahun.

Femidom (female condom) adalah kondom untuk wanita. Berbentuk seperti payung parasut kecil kira-kira dua kali ukuran kondom untuk pria, Femidom dimasukkan ke liang vagina dan berfungsi untuk menampung atau menahan agar cairan sperma tidak langsung masuk ke dalam rahim sehingga cukup efektif mencegah kehamilan.

3. Kenali Metode Anti Hamil

Di Indonesia mulai dikenal beberapa metode mencegah kehamilan tingkat advance atau mereka yang punya jam terbang tinggi, seperti oral seks, senggama terputus, spermisida, diafragma, sistem kalender, atau metode amenorea laktasi (MAL).

-Oral seks artinya melakukan hubungan seksual dengan mulut dan tidak melakukan penetrasi penis ke dalam vagina.
-Senggama terputus artinya pria mengeluarkan sperma atau ejakulasi di luar vagina. Teknik ini membutuhkan skill dan kesadaran super tinggi terutama bagi pasangan yang belum siap hamil atau punya anak.
-Spermisida adalah sering disebut krim pembunuh sperma. Berbentuk seperti krim atau gel atau foam yang mengandung nonoxynol-9, zat kimia yang bisa mencegah sperma untuk mencapai sel telur. Spermisida dioleskan di dalam vagina sebelum melakukan hubungan seksual untuk mencegah terjadinya kehamilan. Metode ini memiliki efektivitas di bawah 80 persen untuk mencegah kehamilan.
-Diafragma adalah alat kontrasepsi berbentuk mangkok kecil terbuat dari bahan karet atau silikon yang bisa diisi dengan krim atau gel pembunuh sel sperma (spermicidal). Fungsi dasarnya mencegah cairan sperma masuk ke liang rahim dan membuahi sel telur.
-Sistem kalender KB sistem ini adalah paling alami dan nyaris tanpa modal apapun kecuali memahami siklus haid perempuan dan pasangan tidak melakukan hubungan seksual selama masa subur. Sistem kalender hanya efektif untuk perempuan yang memiliki siklus haid teratur 26-32 hari. Mereka yang siklusnya kacau, dan ingin menunda kehamilan, tidak disarankan menerapkan metode kalender.
-Metode Amenorea Laktasi (MAL) adalah jenis kontrasepsi alami untuk pasangan yang baru memiliki orok. Ibu yang masih memberikan ASI ekslusif selama 6 bulan dan belum menstruasi dapat berhubungan seksual dengan suami tanpa menggunakan alkon apapun.

4. Vasektomi dan Tubektomi

Vasektomi adalah model kontrasepsi tertua dan pernah diterapkan kepada para pembantu kerajaan, agar tidak mengganggu permaisuri atau selir raja. Praktiknya, saluran bibit sperma pria (cvasektomi) atau saluran bibit telur wanita (tubektomi) dipotong atau diikat secara permanen oleh tenaga ahli atau dokter kandungan. Dengan dipotong dan diikat, sel sperma dan sel telur tidak bisa bertemu sehingga tidak memungkinkan terjadinya pembuahan. Di atas kertas, vasektomi dan tubektomi mampu mencegah kehamilan sampai 100 persen. Jika ingin dikembalikan, sudah dikenal teknik rekanalisasi (penyambungan kembali saluran) saluran tuba fallopi pada wanita atau vas deferens pada pria. Bagi pasangan yang memiliki kesadaran penuh untuk tidak ingin punya anak, metode ini biasanya menjadi pilihan.

5. Mengonsumsi Buah-buahan dan Ramuan Herbal

Sebagian ahli nutrisi dan herbal meyakini, sejumlah buah dan tanaman herbal mengandung zat yang dapat mempengaruhi sel sperma atau sel telur. Diantaranya nanas, pepaya, buah atau daun aprikot, daun peterseli, jahe, dan kayu manis.

Sejauh ini belum ada kajian ilmiah ataupun pembuktian medis bahwa buah-buahan dan tumbuhan itu bisa mencegah kehamilan. Yang sering dipromosikan justru buah dan sayuran memiliki kandungan vitamin dan nutrisi untuk menjaga kebugaran tubuh atau stamina, seperti akar ginseng.

Sebagai sumber nutrisi, vitamin, gizi seimbang, setiap orang disarankan mengonsumsi buah-buahan, sayuran, dan ramuan herbal, untuk menambah stamina dan memperkuat antibodi agar tidak mudah terinfeksi virus atau bakteri lainnya.

Dalam masa pandemi Covid yang belum jelas kapan dan bagaimana berakhir, kita semua wajib mematuhi protokol kesehatan dan menjauhi hal-hal yang bisa membahayakan diri dan lingkungan.

Keputusan menunda kehamilan hingga pandemi berakhir adalah sikap yang rasional dan bertanggung jawab (*)

Penulis:
Eko Maryadi
Kolumnis dan Direktur Eksekutif Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) (mdk/noe)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami