Peristiwa 13 Agustus 1960: Hari Kemerdekaan Republik Afrika Tengah dari Prancis

Peristiwa 13 Agustus 1960: Hari Kemerdekaan Republik Afrika Tengah dari Prancis
afrika tengah. ©2022 Merdeka.com/id.wikipedia.org
SUMUT | 13 Agustus 2022 05:00 Reporter : Muhammad Farih Fanani

Merdeka.com - Hari ini, 13 Agustus pada tahun 1960 merupakan hari kemerdekaan Republik Afrika Tengah. Afrika Tengah merupakan sebuah negara pedalaman Afrika yang berbatasan langsung dengan Chad, Sudan, Republik Demokratik Kongo, Republik Kongo, dan Kamerun.

Awalnya, negara ini merupakan wilayah jajahan Prancis yang bernama Ubangi-Shari. Negara Afrika Tengah kemudian merdeka pada tahun 1960. Setelah itu, selama tiga dasawarsa mereka bergolak akibat pemerintahan militer yang silih berganti. Sejarah panjang Afrika Tengah tidak hanya berhenti ketika mereka sudah merdeka. Akan tetapi lebih kompleks daripada itu.

Berikut Merdeka.com merangkum sejarah hari kemerdekaan Republik Afrika Tengah dilansir dari berbagai sumber.

2 dari 4 halaman

Sejarah Afrika Tengah

Pada tahun 1960, terjadi pergerakan evolusi Afrika (MEDAC) yang dibentuk oleh Abel Goumba yang dipimpin langsung oleh Dacko. Mereka mengubah konstitusi dan membuat satu-satunya partai yang sah dengan melakukan aturan yang otoriter. Dikatakan bahwa negara Afrika Tengah merdeka pada 13 Agustus 1960.

Mereka merdeka dari Prancis yang sempat menjajahnya. Namun, negara yang baru merdeka ini mengalami masalah yang juga berpotensi menghancurkan negara tersebut untuk kedua kalinya, yaitu digulingkannya pemerintahan presiden pertama mereka yaitu David Dacko.

David Dacko dianggap sebagai presiden yang diktator. Kepemimpinannya yang demikian membuat sepupunya, yaitu Jean Bedel Bokassa menggulingkannya pada tahun 1966. Ia kemudian mendirikan kerajaan militan dan juga memimpin negara dengan cara yang diktator pula. Hal ini tentu merupakan sebuah kerugian bagi negara Afrika Tengah.

Pada tahun 1976, Bokassa mendeklarasikan dirinya sebagai maharaja. Ia dinobatkan dalam upacara yang sangat mewah di Afrika Tengah. Bahkan upacara yang diselenggarakannya tersebut membuatnya dikritik oleh beberapa negara lain yang menganggap perayaannya terlalu berlebihan.

Selain itu, Bokassa juga dikatakan melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) serta mendukung gerakan anti Prancis. Akibatnya Pemerintahan Prancis mendukung kelompok yang tidak anti terhadapnya, dan membuat Dacko (presiden pertama) berhasil kembali menjabat sebagai Presiden Afrika Tengah pada tahun 1979.

Pemerintahan demokrasi di Afrika Tengah mulai diberlakukan pada 1993. Pada tahun itu, terjadi sistem multi partai yang ada di Afrika Tengah. Di satu sisi, hal tersebut mengakibatkan terhentinya pembangunan berkelanjutan (SDG) di Afrika Tengah. Tapi di sisi lain, adanya multipartai membuat Afrika tengah mulai masuk dalam sistem pemerintahan demokrasi.

3 dari 4 halaman

Demografi dan Agama

Republik Afrika Tengah pada tahun kemerdekaannya memiliki populasi 1,2 juta penduduk. PBB memperkirakan bahwa sekitar 4 persen dari populasi penduduk Afrika Tengah berusia yang 15 sampai 49 tahun menderita HIV.

Bangsa Afrika Tengah dibagi menjadi 80 kelompok etnis. Masing-masing etnis memiliki bahasa khasnya sendiri. Kelompok etnis tersebut antara lain Baggara Arab, Baka, Banda, Bayaka, Fula, Gbaya, Kara, Kresh, Mbaka, Mandja, Ngbandi, Sara Vidiri, Wodaabe, Yakoma, Yulu, Zande, dan lain sebagainya.

Adapun agama yang dianut oleh warga Afrika Tengah adalah bervariasi. Pada tahun 2003, 80 persen dari populasi di sana beragama Kristen. 10 persen Muslim, dan 4,5 persen beragama lain. Sisanya, mereka tidak memiliki keyakinan yang dianut.

Jumlahnya melonjak pada tahun 2010. Pada tahun itu diperkirakan bahwa umat Kristen di Afrika Tengah naik menjadi 89 persen. 60 persen Protestan dan 28 persen Katolik. Sementara Muslim terdiri dari 8,9 persen. Hal ini karena begitu masifnya agenda misionaris Kristen yang menyebarkan agamanya di negara ini.

Misionaris tersebut sangat beragam. Di antaranya adalah Lutheran, Baptis, Katolik, Grace Brethren, dan Saksi-Saksi Yehuwa. Beberapa misionaris tersebut berasal dari Amerika Serikat, Perancis, Italia, dan Spanyol. Selain itu juga terdapat misionaris yang berasal dari negara Nigeria, Republik Demokratik Kongo, dan negara-negara Afrika lainnya.

4 dari 4 halaman

Tokoh-Tokoh yang Memimpin Afrika Tengah

1. Barthelemy Boganda

Barthelemy Boganda adalah seorang Perdana Menteri Afrika Tengah ketika masih berada di wilayah jajahan Prancis. Boganda menjabat pada 8 September 1958 sampai dengan 29 Maret 1959, yang merupakan orang pertama yang terpilih dalam Majelis Nasional Prancis.

2. David Dacko

David Dacko adalah presiden pertama Afrika Tengah setelah memerdekakan diri dari Perancis. Ia awalnya adalah seorang Menteri Agrikultur, Peternakan, Air, dan Kehutanan, Menteri Dalam Negeri, dan Menteri Ekonomi dan Perdagangan. Ia menjadi presiden pada 14 Agustus 1960 sampai 31 Desember 1965. Ia kemudian melanjutkan lagi pada tahun 1979 sampai 1981.

3. Jean Bedel Bokassa

Jean Bedel Bokassa adalah sepupu Dacko yang menggulingkan Dacko pada tahun 1966. Ia menjadi presiden pada tahun 1976. Selain itu, ia juga menobatkan dirinya sebagai maharaja Bokassa dan mengubah sistem pemerintahan republik menjadi monarki.

4. Andre Kolingba

Andre Kolingba adalah pemimpin Afrika Tengah yang menjabat pada tahun 1981. Selama 4 tahun ia memimpin negara sebagai Kepala Military Committee for National Recovery (CRMN).

5. Ange-Felix Patasse

Ange Felix-Patasse memenangkan pemilu pada Oktober 1993 dan terpilih kembali pada tahun 1999. Ia membuat kelompok militer dari kelompok etnik Kolingba dari Yakoma. 

6. Francois Bozize

Ia berhasil menjadi pemimpin Afrika Tengah melalui bantuan kudeta militer dari Chad. Bozize menjadi presiden cukup lama sejak tahun 2003 sampai tahun 2013.

7. Michel Djotodia 

Michel Djotodia menjadi pemimpin Afrika Tengah ketika berhasil menggulingkan kepemimpinan presiden Francois Bozize pada Maret 2013. Djotodia merupakan presiden muslim pertama yang berkuasa di Afrika Tengah.

8. Catherine Samba Panza

Catherine Samba Panza adalah pemimpin interim setelah Djotodia mengundurkan diri dari kepemimpinan. Panza berhasil melaksanakan pemilu pada 30 Desember 2015 dengan tenang dan tanpa adanya pemberontakan atau kekacauan. Panza juga merupakan tokoh wanita yang memperjuangkan hak-hak wanita di RAT.

9. Faustin-Archange Touadera

Faustin-Archange Touadera terpilih menjadi presiden Afrika Tengah pada Desember 2015 sampai Februari 2016.Touadera merupakan seorang ahli matematika. Ia juga merupakan seorang yang cerdas. Touadera juga pernah menjabat sebagai rektor di Universitas Bangui dan menjabat sebagai Perdana Menteri pada masa Bozize pada tahun 2013.

(mdk/mff)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini