Bisnis Bus Pariwisata Lumpuh Dihantam Badai Corona

Bisnis Bus Pariwisata Lumpuh Dihantam Badai Corona
UANG | 8 April 2020 07:00 Reporter : Sulaeman

Merdeka.com - Semakin meluasnya penyebaran virus corona atau covid-19 berdampak buruk bagi kelangsungan usaha bus pariwisata di berbagai wilayah Indonesia.

Ketua Umum Organisasi Angkutan Darat (Organda) Provinsi DKI Jakarta, Shafruhan Sinungan mengatakan bahwa seluruh armada bus pariwisata terpaksa dikandangkan untuk sementara waktu, selama pandemi corona berlangsung.

"100 persen, bus pariwisata di Indonesia tidak lagi beroperasi," singkat Shafruhan melalui sambungan telepon pada Selasa (7/4).

Selain penurunan jumlah penumpang, penghentian operasional bus pariwisata bertujuan untuk memutus penyebaran virus jenis baru asal Wuhan tersebut. Keselamatan penumpang maupun awak bus pariwisata merupakan hal nomor satu.

Terkait dengan jumlah kerugian materil yang diderita oleh pelaku usaha bus pariwisata, Shafruhan belum bersedia mengonfirmasi lebih lanjut karena belum lengkapnya laporan yang diterima oleh Organda selaku induk usaha moda transportasi angkutan darat.

Sementara itu, Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) mengkritisi kebijakan pemerintah dalam menangani wabah virus corona. Sebab, kebijakan pemerintah saat ini dinilai belum menyentuh pelaku usaha bidang jasa transportasi umum.

Sejak kebijakan social distancing dan physical distancing pendapatan pelaku bisnis transportasi bus pariwisata maupun transportasi umum mengalami penurunan. Saat, bisnis angkutan umum terimbas dan seharusnya pemerintah dapat menyiapkan program recovery bagi bisnis transportasi umum.

Sejumlah bisnis Angkutan Bus Antar kota Antar Provinsi (AKAP), angkutan travel atau Angkutan Antar Jemput Antar Provinsi (AJAP), taksi reguler (konvensional), Angkutan Bus Pariwisata dapat diberikan program bantuan recovery demi keberlangsungan bisnisnya.

Minimal setiap pekerja transportasi umum itu mendapat bantuan bulanan setara UMK selama 3-6 bulan ke depan. Setiap bulan dapat dievaluasi.

"Jangan sampai nantinya bisnis angkutan umum ini gulung tikar, maka negaralah yang akan merugi nantinya," kata Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan MTI, Djoko Setijowarno dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Kamis (2/4).

1 dari 2 halaman

Kebijakan Pelonggaran OJK

ojk rev2

Memang pemerintah telah mengeluarkan kebijakan kelonggaran pembayaran kredit cicilan melalui Otorita Jasa Keuangan (OJK). Yakni Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 11 /POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional Sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease 2019.

Namun regulasi tersebut belum berpihak pada pengusaha angkutan umum. Sehingga tidak memberikan solusi aman bagi keberlangsungan bisnis transportasi umum.

OJK sebaiknya tidak perlu membatasi debitur dengan fasilitas kredit kurang Rp10 miliar yang harus dibantu. Permintaan pengusaha transportasi umum yakni penundaan kewajiban, bukan meminta tidak membayar utang.

"Hilangkan saja batasan Rp 10 miliar itu, jika pemerintah benar-benar berpihak pada bisnis transportasi umum," kata dia.

Selain itu, menurut Djoko, pemerintah terlalu berpihak dan memikirkan kelanggengan bisnis transportasi online. Bukan lagi mitra aplikator, akan tetapi sudah menjadi mitra negara. Seharusnya aturan yang dikeluarkan OJK tanpa batasan jumlah pinjaman.

"Karena yang pinjaman besar, juga makin besar resikonya," sambung dia.

2 dari 2 halaman

Andalkan Pendapatan Harian

harian rev2

Apalagi, angkutan umum mengandalkan pendapatan harian. Disisihkan sebagian untuk mengembalikan angsuran setiap bulan. Berapapun pinjamannya, kata Djoko, tetap butuh kebijakan relaksasi. Mengingat semakin besar pinjamannya juga berarti semakin banyak yang bernaung di perusahaan tersebut.

Djoko menilai, ini akan berdampak pada gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) lebih besar. Terlebih dalam kondisi sekarang, para pengusaha transportasi umum cukup dipusingkan memikirkan nasib pekerja yang harus diputus hubungan kerja (PHK).

"Apa tidak lebih baik kasih napas buat semuanya supaya bersama-sama mempertahankan untuk semua pula," ungkap dia.

Badan Pengelola Transportasi Jakarta (BPTJ) telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 5 Tahun 2020 tentang Pembatasan Penggunaan Moda Transportasi untuk Mengurangi Pergerakan Orang dari dan ke wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi Selama Masa Pandemik Coronavirus Disease 2019 (Covid 19). Surat ini hanya memberikan rekomendasi bagi operator transportasi umum untuk membatasi layanan dan perpindahan orang di wilayah Jabodetabek serta dari dan ke Wilayah Jabodetabek.

Menurutnya tidak masalah jika suatu saat pemerintah akan menutup akses angkutan umum antar provinsi. Hal itu mudah dilakukan karena ada organisasi yang menaunginya, yaitu Organda.

Namun pemerintah, harus memberikan kompensasi bagi pengusaha angkutan umum, sebagai wujud negara hadir dan berpihak pada layanan transportasi umum. Selain negara hadir, juga sebagai pembeda antara bisnis angkutan umum yang tidak mau berbadan hukum dan yang mau berbadan hukum. (mdk/idr)

Baca juga:
Kendaraan yang Melintas di Jakarta Naik 10 Persen
Pemasangan Bilik Disinfektan di Halte Transjakarta
Meski Mengaku Rugi Besar, Organda Dukung PSBB di Jakarta
Perlahan, Warga di DKI Mulai Patuhi Anjuran Pakai Masker
Penumpang KRL Wajib Gunakan Masker
BPTJ Sebut Kenaikan Tarif Tiket Bus Masih Wacana

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami