Advertorial

Menilik Proses Panjang Pembentukan Holding Ultra Mikro Hingga Masuk Tahap Akhir

Menilik Proses Panjang Pembentukan Holding Ultra Mikro Hingga Masuk Tahap Akhir
Menilik Proses Panjang Pembentukan Holding Ultra Mikro Hingga Masuk Tahap Akhir. ©BRI
EKONOMI | 15 September 2021 11:00 Reporter : Iwan Tantomi

Merdeka.com - Proses pembentukan Holding Ultra Mikro (UMi) telah memasuki tahap akhir. Hal ini ditandai dengan proses penandatangan perjanjian pengalihan hak atas saham milik pemerintah dari Pegadaian dan PNM kepada BRI di Jakarta pada Senin (13/9).

Menurut Wakil Direktur Utama BRI yang sekaligus sebagai Ketua PMO (Project Management Office) Tim Privatisasi BRI Catur Budi Harto, sejak Juli – September 2021 pembentukan Holding Ultra Mikro telah melalui serangkaian proses. Di antaranya, persetujuan komite privatisasi pada 17 Februari 2021 dan konsultasi kepada DPR RI pada 18 Maret 2021, persetujuan dari pemegang saham BRI dalam RUPLS BRI pada 22 Juli 2021, persetujuan dari OJK Bank pada 27 Agustus 2021, serta pernyataan efektif dari OJK Pasar Modal pada 30 Agustus 2021.

Di samping itu, pemerintah juga telah menerbitkan Peraturan Pemerintah No. 73 tahun 2021 tentang penambahan penyertaan modal negara RI ke dalam modal saham BRI. Keputusan Menteri Keuangan pada 16 Juli 2021 tentang penetapan nilai penambahan penyertaan modal negara ke dalam modal saham BRI.

Beragam Inisiatif dan Langkah Strategis dalam Pembentukan Holding UMi

menilik proses panjang pembentukan holding ultra mikro hingga masuk tahap akhir
©BRI

Selama proses tersebut telah banyak inisiatif dan langkah-langkah strategis dari tim PMO demi terwujudnya Holding UMi. Selain itu, anggota tim PMO dibentuk dari tiga entitas yang bersinergi untuk mengawal dan memastikan seluruh proses integrasi dapat terbentuk sesuai rencana dan waktu yang ditetapkan.

Menurut Catur beberapa bentuk sinergi telah dilakukan sampai hari ini. Pertama, implementasi co-location di 58 unit kerja BRI, dengan target sebanyak 100 co-location pada 2021. Inisiatif co-location memanfaatkan jaringan kerja BRI agar dapat digunakan Pegadaian dan PNM dalam bentuk sentra layanan ultra mikro.

Kedua, pengembangan UMi corner, sebuah platform digital sales terintegrasi yang saat memasuki tahap uji coba di 25 wilayah kerja, dengan melibatkan tenaga pemasar dari ketiga entitas. Ketiga, integrasi data yang dilakukan pada sekitar 20 juta data nasabah pinjaman ketiga entitas. Keseluruhan data tersebut dikumpulkan pada satu master data, yang dapat dimanfaatkan oleh masing-masing entitas.

Adapun yang keempat, melakukan pengembangan modul pre-screening pinjaman yang akan menjadi salah satu fitur UMi Corner. Modul tersebut akan menggunakan basis data yang telah terintegrasi dan dapat memperkuat model underrating pinjaman. Serta yang kelima, melakukan alignment culture antara BRI, Pegadaian, PNM dengan fokus pada akhlak yang telah menjadi budaya BUMN dan diikuti dengan budaya BRI One Culture.

Bantu Industri Ultra Mikro Berkembang dan Tumbuh Lebih Cepat

menilik proses panjang pembentukan holding ultra mikro hingga masuk tahap akhir
©BRI

Selain beberapa inisiatif tersebut, tim PMO juga akan melakukan inisiatif lain sesuai rencana, sehingga proses integrasi Pegadaian dan PNM dalam Holding UMi dapat berjalan lancar. Tak sampai di situ, Holding UMi ini juga akan memberikan akses kemudahan, percepatan dan kesempatan yang lebih besar kepada industri ultra mikro untuk bisa berkembang, tumbuh lebih cepat dan kontributif, sehingga dapat membantu pembentukan lapangan kerja baru.

“Setelah sekian banyak rangkaian rencana, inisiatif yang telah dilakukan dan kajian yang telah diselesaikan, maka Holding UMi kini sudah ada di depan mata. Harapannya, rangkaian proses panjang tersebut bisa memberikan manfaat dan kebaikan bagi kita semua,” ungkap Catur dalam pemaparannya di acara Penandatanganan Perjanjian Pengalihan Saham dalam Rangka Pembentukan Holding Ultra Mikro.

Holding Ultra Mikro yang melibatkan tiga entitas Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. atau BRI, PT Pegadaian (Persero) dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM. Hal ini seiring dilakukannya penandatanganan Akta Inbreng saham pemerintah pada Pegadaian dan PNM sebagai penyertaan modal negara kepada BRI selaku induk holding.

Adapun penandatanganan dilakukan oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) RI Erick Thohir bersama dengan Direktur Utama BRI Sunarso, dan dihadiri oleh Direktur Utama Pegadaian Kuswiyoto, dan Direktur Utama PNM Arief Mulyadi serta Wakil Direktur Utama BRI Catur Budi Harto. Milestone bersejarah bagi UMKM ini tidak mengubah porsi kepemilikan pemerintah atas saham pengendali di BRI. Di sisi lain, setelah holding terbentuk, negara tetap memiliki satu lembar saham merah putih seri A atau golden share di Pegadaian dan PNM.

Selain itu, pembentukan Holding UMi juga menjadi wujud komitmen dan visi pemerintah dalam meningkatkan percepatan aksesibilitas layanan keuangan untuk segmen ultra mikro di Indonesia. Salah satunya dengan optimalisasi peran BUMN dan aspirasi BRI untuk menjadi the most valuable banking group in southeast asia and champion of financial inclusion dengan menjangkau segmen ultra mikro, sebagai salah satu sumber utama pertumbuhan baru di masa mendatang. Melalui Holding Ultra Mikro, bisnis model BRI, Pegadaian dan PNM akan saling bersinergi, menguatkan dan melengkapi, sehingga mampu memberikan layanan keuangan yang terintegrasi.

(mdk/wri)

TOPIK TERKAIT

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami