Pemerintah Catat Surplus Neraca Perdagangan 2021 Tertinggi dalam 15 Tahun Terakhir

Pemerintah Catat Surplus Neraca Perdagangan 2021 Tertinggi dalam 15 Tahun Terakhir
Menko Airlangga perkuat kerja sama RI dan Jepang. ©Biro KLIP Kemenko Perekonomian
EKONOMI | 18 Januari 2022 10:10 Reporter : Anisyah Al Faqir

Merdeka.com - Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto menilai, kinerja ekspor dan impor Indonesia tahun 2021 ditutup dengan pencapaian positif pada neraca perdagangan. Terlihat di Desember 2021, Indonesia kembali mengalami surplus sebesar USD 1,02 miliar.

"Ini membawa tren surplus kembali dapat dipertahankan sejak Mei 2020 atau selama 20 bulan berturut-turut," kata Menko Airlangga dalam keterangan resminya, Jakarta, Selasa (18/1).

Sepanjang 2021, surplus neraca perdagangan Indonesia mencapai USD 35,34 miliar. Nilai surplus tersebut hampir menyentuh rekor tertinggi sejak 15 tahun terakhir atau sejak 2006. Sebab pada tahun 2006 Surplus neraca perdagangan sebesar USD 39,37 miliar. Padahal, kondisi perdagangan internasional saat ini penuh dengan ketidakpastian.

"Di tengah berbagai ketidakpastian global, Indonesia tetap mampu mencatatkan performa impresif pada neraca perdagangan. Kinerja ini akan meningkatkan resiliensi sektor eksternal Indonesia, sehingga semakin kuat menghadapi berbagai tantangan yang diperkirakan masih berlanjut di tahun ini," tutur Menko Airlangga.

Kinerja surplus sepanjang 2021 ditopang dari nilai ekspor yang mencapai USD 231,54 miliar. Tumbuh dua digit sebesar 41,88 persen (yoy). Hilirisasi komoditas unggulan, seperti turunan produk CPO, berhasil mendorong performa ekspor Indonesia. Hal tersebut tercermin dari ekspor komoditas lemak dan minyak hewan/nabati (HS 15) yang sepanjang 2021 mencapai USD 32,83 miliar atau meningkat sebesar 58,48 persen (yoy).

Selain CPO, hilirisasi komoditas nikel juga memperkuat performa ekspor Indonesia. Pertumbuhan ekspor komoditas nikel dan barang daripadanya (HS 75) mampu tumbuh sebesar 58,89 persen (yoy) menjadi sebesar USD 1,28 miliar.

Lebih lanjut, dari 10 besar komoditas utama ekspor, komoditas bijih logam, terak dan abu (HS 26) mengalami pertumbuhan tertinggi yakni 96,32 persen (yoy) menjadi sebesar USD 6,35 miliar. Diikuti oleh ekspor komoditas besi dan baja (HS 72) yang juga naik signifikan mencapai 92,88 persen (yoy) menjadi senilai USD 20,95 miliar.

"Pencapaian ini mengindikasikan pemulihan ekonomi Indonesia terus berlanjut," kata dia.

Selain itu, terjadi peningkatan penciptaan nilai tambah pada sektor manufaktur. Tercermin dari ekspor non migas hasil industri pengolahan pada Januari-Desember 2021 naik 35,11 persen (yoy) menjadi sebesar USD 177,11 miliar.

Level Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia juga terus berada pada zona ekspansif yakni 53,5 pada Desember 2021. Ini melanjutkan level ekspansi yang sudah terjadi selama empat bulan berturut-turut. Level PMI Indonesia Desember 2021 itu bahkan lebih baik dibandingkan dengan beberapa negara ASEAN, seperti Malaysia (52,8), Vietnam (52,5), Filipina (51,8), Thailand (49,5), dan Myanmar (49,0).

2 dari 2 halaman

Dampak Penurunan Kasus Covid-19

kasus covid 19

Menko Airlangga menuturkan penurunan kasus Covid-19 yang terjadi secara konsisten dalam beberapa bulan terakhir di tahun 2021 membuat Pemerintah dapat memberlakukan pelonggaran pembatasan mobilitas. Kondisi ini memberikan kelancaran aktivitas ekonomi sehingga mendorong kenaikan pada aggregate demand.

Alhasil, sektor manufaktur juga terstimulasi untuk meningkatkan output produksinya. Meski demikian, Pemerintah tetap mewaspadai fenomena meningkatnya kasus varian omicron yang diperkirakan akan mencapai puncaknya pada akhir Januari atau awal Februari 2022 ini.

"Dengan semakin efektifnya pengendalian Covid-19 dan antisipasi yang baik terhadap penyebaran varian omicron, serta diiringi dengan terjaganya tingkat kedisiplinan protokol kesehatan, maka penurunan kasus Covid-19 diharapkan dapat terus terjadi, sehingga mampu mengakselerasi pemulihan ekonomi," kata dia.

"Surplus perdagangan yang terus terjaga sepanjang 2021 juga disebabkan dari kinerja ekspor komoditas andalan Indonesia yang tetap solid," sambungnya.

Sejalan dengan peningkatan ekspor, sisi impor Indonesia pada 2021 juga meningkat menjadi sebesar USD 196,20 miliar atau tumbuh 38,59 persen (yoy). Struktur impor Indonesia di 2021 didominasi impor golongan bahan baku dan penolong senilai USD 147,38 miliar (75,12 persen dari total impor).

Diikuti barang modal USD 28,63 miliar (14,59 persen dari total impor), dan barang konsumsi USD 20,18 miliar (10,29 persen dari total impor). Struktur tersebut mengindikasikan perekonomian Indonesia yang produktif melalui penciptaan nilai tambah yang lebih besar, baik untuk kebutuhan domestik maupun untuk diekspor kembali.

"Kinerja positif di 2021 ini akan terus dipertahankan Pemerintah dengan mengoptimalkan berbagai kebijakan, terutama dalam mendorong semakin banyaknya ekspor komoditas bernilai tambah," pungkas Menko Airlangga.

(mdk/bim)

Baca juga:
Impor Meningkat, Surplus Neraca Perdagangan Desember 2021 Menyusut
Neraca Perdagangan 2021 Surplus USD35,34 Miliar, Tertinggi dalam 5 Tahun
Banggar DPR: Dampak Pandemi Dahsyat, 2,76 Juta Orang Jatuh Miskin Sejak 2020
Neraca Perdagangan 2021 Diprediksi Surplus USD37 Miliar
Indonesia Catatkan 19 Kali Surplus Neraca Dagang Selama Pandemi Covid-19
Neraca Perdagangan Indonesia November 2021 Tercatat Surplus Rp 50,26 T
Sri Mulyani Beberkan Pentingnya Forum G20 untuk Perdagangan dan Investasi

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami