Ridwan Kamil Catat Kinerja Ekspor Jawa Barat Naik 23 Persen

Ridwan Kamil Catat Kinerja Ekspor Jawa Barat Naik 23 Persen
Ridwan Kamil. ©2021 Merdeka.com
EKONOMI | 16 Juni 2021 11:38 Reporter : Aksara Bebey

Merdeka.com - Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil menyebut upaya pemulihan ekonomi terus berjalan di tengah pandemi Covid-19. Hal ini tercermin dari naiknya kinerja ekspor di Jawa Barat hampir menyentuh 23 persen dengan nilai Rp 150 triliun.

"Nah satu dari empat mesin ekonomi ini (ekspor, investasi, daya beli masyarakat dan belanja negara) sudah berfungsi lagi. Ukurannya adalah ekspor kita sudah naik, pada saat yang sama (dibanding) tahun lalu, sekarang di rentang waktu yang sama kita naik hampir 23 persen. Total Rp 150 triliun kurang lebih," kata Ridwan Kamil di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Rabu (16/6).

Pria yang akrab disapa Emil ini menyebut dari total ekspor yang dilakukan, mayoritas adalah ekspor non migas. Dalam kesempatan itu, dia melakukan simbolisasi melepas komoditas kelapa parut kering dari Sumedang sebanyak 23 ton untuk diekspor ke Kosta Rika.

Ini menjadi pintu pembuka yang akan diperluas ke seluruh dunia, khususnya benua Amerika. Informasi ini diharapkan bisa tetap menjaga optimisme masyarakat yang tengah digempur oleh pemberitaan mengenai pandemi Covid-19. "Rakyat juga butuh berita positif inspiratif utk menyemangati bahwa kita tidak boleh patah, tidak boleh menyerah oleh pandemi," ucap dia.

Di sisi lain, di tengah trend prositif kinerja ekpor Jawa Barat, Ridwan Kamil menyoroti akses Surat Keterangan Asal (SKA) masih 40 persen. Padahal, surat tersebut pun bisa membuat keringanan tarif.

"Itu surat kalau dipake, itu bisa meringankan tarif di negara tujuan. Masalahnya, para pengusaha yang baru memanfaatkan SKA ini baru 40an persen. Jadi harus kita dorong, diinformasikan, disosialisasikan, agar fasilitas dari negara bisa dimanfaatkan oleh pengekspor dari Jabar," jelas dia.

Berdasarkan informasi dari laman Kementerian Perdagangan, SKA atau biasa disebut Certificate of Origin (COO) merupakan sertifikasi asal barang, dimana dinyatakan dalam sertifikat tersebut bahwa barang atau komoditas yang diekspor adalah berasal dari daerah atau negara pengekspor.

Mendasari hal ini adalah kesepakatan bilateral, regional, multilateral, unilateral atau karena ketentuan sepihak dari suatu negara pengimpor/ tujuan, yang mewajibkan SKA/COO ini disertakan pada barang ekspor Indonesia. COO / SKA ini yang membuktikan bahwa barang tersebut berasal, dihasilkan dan atau diolah di Indonesia.

Ada dua jenis SKA. Yang pertama, SKA Preferensi adalah Jenis SKA/COO sebagai persyaratan dalam memperoleh preferensi yang disertakan pada barang ekspor tertentu untuk memperoleh fasilitas berupa pembebasan seluruh atau sebagian bea masuk yang diberikan oleh suatu negara/kelompok negara tujuan.

Kedua adalah SKA Non Preferensi, yakni jenis dokumen SKA yang berfungsi sebagai dokumen pengawasan dan atau dokumen penyerta asal barang ekspor untuk dapat memasuki suatu wilayah negara tertentu. (mdk/azz)

Baca juga:
Produk Impor Kuasai Situs Belanja Online
Menkes: Hanya 3 Persen Obat Diproduksi di Dalam Negeri, Sisanya Impor
Penjualan Tembus USD 40,19 Juta, Produk Kopi Sumut Didorong Perluas Pasar Ekspor
Menperin Target 9.000 Produk Alkes Punya Sertifikat TKDN di Atas 1 Persen
Menko Luhut Sindir Importir: Jangan Impor Terus, Bangun Pabriknya Dalam Negeri

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami