Takut Diembargo AS Jika Beli Minyak Rusia, Sandi: Biarin Paling Tak Bisa Makan McD

Takut Diembargo AS Jika Beli Minyak Rusia, Sandi: Biarin Paling Tak Bisa Makan McD
Sandiaga Uno. ©2022 Merdeka.com
EKONOMI | 22 Agustus 2022 10:09 Reporter : Yunita Amalia

Merdeka.com - Pemerintah memutuskan untuk membeli minyak mentah Rusia yang saat ini lebih murah 30 persen dari harga pasar. Tawaran diskon ini yang menjadi pertimbangan Presiden Joko Widodo karena menguntungkan.

Diakui Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, terdapat argumen yang tidak setuju dengan usulan untuk membeli minyak dari negara yang dipimpin Vladimir Putin tersebut. Alasannya, khawatir Indonesia akan mengalami embargo oleh Amerika.

"Ada yang tidak setuju karena takut nanti bagaimana diembargo sama Amerika? Ya biarin saja lah kalau kita diembargo. Paling kita tidak bisa makan McDonald makan Baba Raffi lah," ucapnya dikutip melalui akun Instagram terverifikasi @sandiuno, Senin (22/8).

"Dan kadang-kadang apa yang kita lihat itu sangat berbeda dari perspektif, mungkin geopolitik mungkin dari segi makro ekonomi," imbuhnya.

Menteri Sandi memahami, usulannya tersebut memang tidak mudah untuk direalisasikan. Sebab, tidak dipungkiri, negara-negara Barat mengontrol segala sektor seperti teknologi dan pembayaran.

"Pengiriman US Dollar harus lewat New York, kenapa kita takut tidak mengambil minyak Rusia karena kita takut swift-nya dimatikan kita tidak bisa mengirim US Dollar, kata Rusia tidak usah takut bayarnya pakai Rubel saja," tandasnya.

2 dari 2 halaman

Bahlil: Perang Bukan Berarti Ekonomi Tak Jalan, Ada Juga Manfaat Positifnya

bukan berarti ekonomi tak jalan ada juga manfaat positifnya rev4

Menteri Investasi Bahlil Lahadalia menyebut ada sejumlah negara yang sengaja memanfaatkan situasi perang Rusia dan Ukraina untuk kepentingan ekonomi. Meski begitu, dirinya tidak menyebutkan negara yang dimaksud.

"Terkait konflik Ukraina sama Rusia, ada beberapa negara yang memanfaatkan ekonomi dari kondisi itu. Ada," ujar Bahlil dalam konferensi pers Ekonomi Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat di Kantor BKPM Jakarta, Senin (8/8).

Bahlil melanjutkan, situasi serupa juga berpotensi muncul pada konflik antara China dan Taiwan. Gesekan antar kedua negara sendiri dipicu oleh kunjungan Ketua DPR Amerika Serikat (AS) Nancy Pelosi ke Taiwan pada beberapa waktu lalu.

Bahlil menerangkan, perang sendiri tidak sepenuhnya menghentikan aktivitas ekonomi. Mengingat, perang justru akan menimbulkan potensi ekonomi baru yang dapat dimanfaatkan oleh sejumlah negara.

"Ingat ada satu cerita di dunia sekarang, perang itu bukan berarti ekonomi tidak jalan. Bahkan, ada sebagian yang mencari manfaat (ekonomi) positif," tandasnya.

Sebelumnya, pemerintah waspadai potensi terjadinya perang antara China dan Taiwan terhadap ekonomi Indonesia. Mengingat hubungan ekonomi Indonesia-China cukup intens.

"Yang harus kita pantau juga adalah bagaimana pertumbuhan ekonomi China itu terkoreksi cukup dalam karena kita punya hubungan ekonomi yang cukup intens dengan China," kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu dalam Taklimat Media Jakarta, Senin (8/8).

Dia menjelaskan perkembangan ekonomi di negara tirai bambu itu sedikit banyak akan memengaruhi aktivitas ekonomi di Tanah Air. Sehingga Indonesia bisa melakukan antisipasi atau melakukan diversifikasi dari gejolak ekonomi yang terjadi di sana.

"Kita harus melihat bagaimana dampak dari perlambatan perekonomian China ini terhadap aktivitas ekonomi ini Indonesia. Dan juga bagaimana kita melakukan diversifikasi dari aktivitas ekonomi kita sehingga tidak hanya tergantung kepada China," sambungnya.

Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah saat ini memperluas jaringan ekspor produk ke India dan beberapa negara lainnya. Hal ini sebagai upaya mempertahankan kinerja ekspor ketika ekonomi di China terganggu.

"Kita perkuat ke India dan beberapa negara-negara lainnya," jelasnya.

(mdk/bim)

Baca juga:
Fakta Mengejutkan di Balik Perang Rusia dan Ukraina Tak Kunjung Berakhir
Rusia Sempat Tawarkan Minyak Murah ke Indonesia, Ini Respons Jokowi
Rusia Tuding Ukraina Racuni Tentaranya
Stars Coffee, Kedai Kopi Pengganti Starbucks di Rusia
Jokowi: Xi Jinping dan Putin akan Datang di KTT G20
Marak Pengkhianatan, Presiden Ukraina Pecat Tiga Kepala Keamanan
Jokowi: Indonesia Diterima Rusia dan Ukraina sebagai Jembatan Perdamaian

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini