Toko Tanpa Pegawai di China Tutup Massal, Ada Apa?

UANG | 20 Juni 2019 08:00 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Amazon membuka toko tanpa pegawai di Seattle, Amerika Serikat (AS) pada 2016 lalu. Langsung saja tren yang sama menjamur di China dan menarik investasi miliaran yuan.

Sayangnya, toko tersebut tidak laku dan tutup massal. Pada akhir 2017, ada 200 toko tanpa pegawai yang dibuka di China, namun pada awal 2018 kebangkrutan mulai melanda, demikian laporan Nikkei Asian Review.

Tren ini berangkat dari mengambil keuntungan pada penggunaan sistem pembayaran via smartphone. Hal itu dipandang bisa mengurangi kebutuhan pegawai.

Itjuzi.com menyebut tren toko tanpa pegawai berhasil menarik investasi hingga 4,3 miliar yuan atau setara Rp8,8 triliun. Kini, berbagai perusahaan pun batal melakukan ekspansi.

Pada Juli 2018, JD.com, yang merupakan perusahaan e-commerce terbesar kedua di China, sempat berencana membuka hingga 5.000 toko tanpa pegawai di berbagai bangunan kantor dan kota besar. Enam bulan kemudian, rencana batal.

JD.com juga menghentikan bisnis smart shelf-nya. Bisnis itu serupa dengan toko tanpa pegawai, tapi dengan ukuran lebih kecil dan berada di kios-kios stasiun kereta.

Faktor yang membuat toko tanpa pegawai tidak laku adalah karena tidak punya pegawai. Lantaran, produk convenience store (toko kelontong) yang laku di kota besar seperti Beijing bukanlah snack, melainkan makanan segar, mudah dimasak, atau pencuci mulut.

Agar bisnis toko kelontong bisa bertahan di kota besar China, mereka butuh sekiranya 5.000 yuan (Rp10,3 juta) hingga 6.000 yuan (Rp12,3 juta) per hari. Dan kebanyakan pemasukan itu berasal dari produk segar.

Lalu bagaimana solusinya?

Pada industri convenience store di China, hasil gross margin untuk penjualan produk tersebut adalah 40 persen sampai 50 persen. Untuk produk snack hanya sekitar 25 persen.

Sedangkan, jika toko tanpa pegawai itu hanya mengandalkan menjual snack dan minuman, maka hal itu cepat membuat konsumen bosan.

Pelaku industri lain menyadari kehadiran pegawai toko ternyata memang masih dibutuhkan. Perusahaan seperti Alibaba pun mencoba memadukan antara teknologi online dan layanan offline.

Alibaba meluncurkan rantai supermarket bernama Freshippo (atau Hema Xiansheng) yang menjual bahan-bahan segara. Toko itu memakai kemampuan pembayaran via smartphone dan teknologi lainnya.

Akan tetapi, Alibaba juga menyediakan staf di toko. Para staf itu yang tetap membantu pembeli meski mereka membayar via smartphone.

Reporter: Tommy Kurnia

Sumber: Liputan6.com

Baca juga:
Jastip lewat Hargadunia.com, Gratis Biaya Pengiriman
Ini 10 E-Commerce Terpopuler di Indonesia Pada Kuartal 1-2019
Blanja.com Target Peningkatan Transaksi 50 Persen di Ramadan dan Lebaran 2019
Espay Gandeng BTPN Permudah Transaksi Belanja Online
Survei Markplus Ungkap Brand e-Commerce yang Populer di Segmen Perempuan
Cerita Ridwan Kamil Tertipu Saat Belanja Online

(mdk/idr)