Ketua Komisi III DPR Sindir Mahfud MD: Menteri Koordinator, Bukan Menteri Komentator

Ketua Komisi III DPR Sindir Mahfud MD: Menteri Koordinator, Bukan Menteri Komentator
Mahfud MD. ©2021 Merdeka.com
NEWS | 10 Agustus 2022 18:40 Reporter : Ahda Bayhaqi

Merdeka.com - Ketua Komisi III DPR RI Bambang Wuryanto menyindir Menko Polhukam Mahfud MD yang dinilai melampaui kewenangannya. Sebabnya Mahfud lebih dulu mengumumkan penambahan tersangka kasus penembakan Brigadir J ketimbang kepolisian. Bahkan, politikus yang akrab disapa Pacul ini menyebut Mahfud sebagai menteri komentator.

"Tersangka belum diumumkan dia udah ngumumkan dulu. Apakah yang begitu itu jadi tugas Menko Polhukam. Saya bertanya sebagai ketua komisi III, apakah itu masuk di dalam tupoksi menteri koordinator politik hukum dan keamanan?" ujar Bambang di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (10/8).

"Koordinator lho bukan komentator. Menteri koordinator bukan menteri komentator!" tegasnya.

2 dari 5 halaman

Bambang menanggapi kritik Mahfud bahwa DPR diam dalam kasus yang melibatkan mantan Kadiv Propam Polri Irjen Pol Ferdy Sambo. Ia menegaskan, DPR tahu posisi.

Justru Mahfud dikritik karena dinilai pernyataannya seperti tidak sadar posisi. Sebagai Menko Polhukam, Mahfud punya kewenangan untuk memanggil Kapolri.

"Ya kalau orang seperti Menko Polhukam ngomong kayak gitu ya, kurang sadar posisi. Menkopolhukam menteri koordinator politik hukum dan keamanan. Panggil dong kapolri," ujar Bambang.

3 dari 5 halaman

Politikus PDI Perjuangan ini mengatakan, DPR akan memanggil Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk rapat kerja. Agendanya membahas kasus penembakan Brigadir J.

"Kasus-kasus besar di kejaksaan, dan di kepolisian yang ini, kasus tembak menembak ini. Ini masuk agenda rapat," ujar Bambang.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Mahfud MD menyebut, ada tiga tersangka dalam kasus kematian Brigadir J. Menurutnya, kasus ini akan berkembang semakin jelas.

4 dari 5 halaman

Polri sendiri telah mengumumkan dua orang sebagai tersangka terkait tewasnya Brigadir J, yakni Bharada E dan Brigadir R. Mahfud tak menyebut siapa tersangka ketiga yang dimaksudnya.

"Ya memang harus hati-hati kan tersangkanya sudah tiga, tiga itu bisa berkembang dan pasalnya itu 338, 340 yang baru ya pembunuhan berencana dan nanti itu akan menjangkau ke yang lebih jelas lagi perannya apakah aktor intelektual ataukah eksekutor," kata Mahfud di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (8/8).

Mahfud lalu menilai kasus kematian Brigadir J seperti fenomena code of silence atau kode keheningan. Code of silence dinilai sebagai kecenderungan untuk menutupi kesalahan sesama kolega, baik itu melindungi atasan, menjaga nama baik institusi, hingga memastikan kepercayaan masyarakat.

"Dan perkembangan sebenarnya cepat untuk kasus yang seperti yang punya code of silence di sebuah lingkungan yang banyak code silence itu lalu sekarang sudah tersangka kemudian pejabat pejabat tingginya sudah bedol deso," tuturnya.

5 dari 5 halaman

Menurutnya, apa yang dilakukan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam kasus ini sudah cukup lumayan. Jalur penyelesaian kasus Brigadir J juga sudah mulai terang.

"Saya kira yang dilakukan kapolri itu tahapan tahapannya dan kecepatannya cukup lumayan, tidak jelek banget," kata Mahfud.

"Karena kasus ini kan begitu ada code of silencenya, psychlogycal barriernya yang terbagi dua itu hirarkis dan politis. Jadi menurut saya tracknya sudah tepat sudah mulai terang, mari kita dukung sama sama," katanya.

Baca juga:
VIDEO: Mahfud MD Soal Motif Sambo di Kasus Brigadir J: Hanya Untuk Orang Dewasa
VIDEO: Menko Mahfud: LPSK Harus Lindungi Bharada E agar Selamat dari Racun!
VIDEO: Menko Mahfud Tegaskan LPSK Harus Lindungi Bharada E agar Selamat dari Racun!
Mahfud Ungkap Komentar Firli Soal Kasus Brigadir J: Gampang Katanya, Polsek saja Bisa
Mahfud MD Sebut Bharada E Bisa Bebas dari Hukuman
Mahfud MD Ingatkan Kejaksaan: Harus Profesional Tangani Kasus Brigadir J
Mahfud MD Minta Bharada E Dilindungi: Agar Selamat dari Penganiayaan atau Racun

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini