Mengintip manisnya bisnis bioskop

UANG | 9 Januari 2014 07:00 Reporter : Novita Intan Sari

Merdeka.com - Tingginya daya beli masyarakat Indonesia saat ini menumbuhkan optimisme kalangan pengusaha pada sektor bisnis Tanah Air. Salah satunya bisnis bioskop.

Bisnis layar lebar ini diprediksi bakal terus berkembang tahun ini. Investor laik untuk melirik lini usaha bioskop sebagai portofolio investasi dalam meraup untung jutaan Rupiah.

Ketua Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia, Djonny Syarifudin, memprediksi gedung bioskop baru akan mulai bermunculan di seluruh pelosok negeri. Pasalnya, bioskop sebagai salah satu sarana hiburan, menawarkan modal cukup mini dengan keuntungan maksi.

"Sekarang ini bioskop di kabupaten juga tergolong maju. Banyak yang sudah melakukan perubahan seperti di Kudus, Solo, Pekalongan, Pasuruan, Madiun. Tahun ini bakal juga diperbaiki bioskop di Salatiga, Cilacap, Magelang," ujarnya saat dihubungi merdeka.com di Jakarta, Rabu (8/1) malam.

Djonny mencontohkan, untuk pembelian satu proyektor, pengusaha membutuhkan dana Rp 1,5 miliar untuk proyektor baru dan Rp 750 juta untuk proyektor bekas. Angka ini, lanjutnya, terbilang kecil jika dibandingkan keuntungan didapat yang bisa meningkat mencapai 300 persen dari total modal.

"Rata-rata dari tiga tahun lalu menyumbang pendapatan 300 persen," tuturnya.

Bisnis bioskop, tambahnya, turut berkontribusi pada pendapatan daerah. Sebab, 10 persen pendapatan pengusaha lari menjadi pajak disetor ke pemerintah daerah setempat.

Kondisi ini yang mendasari PT Graha Layar Prima operator dan pemilik bioskop Blitz Megaplex siap melantai di bursa pada Maret 2014, melalui penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO). Perseroan bakal menambah modal untuk mendukung rencana ekspansi bioskop di daerah-daerah Indonesia.

Direktur PT Graha Layar Prima Brata Perdana mengatakan, rencana IPO untuk mendukung aksi ekspansi perseroan memanfaatkan potensi industri bioskop dan hiburan di Indonesia masih positif.

"Untuk pengembangan bisnis. Indonesia masih kurang jumlah bioskop, (industri bioskop) sempat mati, sekarang naik lagi," ujar Brata di Gedung Bursa Efek Indonesia, Rabu (8/1).

Jika terealisasi sesuai rencana, Blitz Megaplex menjadi pelopor bioskop masuk bursa. Berdasarkan data perusahaan, Indonesia masih kekurangan jumlah bioskop.

Data 2002, jumlah bioskop yang bertahan hanya tinggal 230 sampai 240 layar saja. Padahal, pada 1994 jumlah layar bioskop di Indonesia mencapai 2.000 layar. Berangkat dari kondisi ini perseroan makin berambisi terus menambah jumlah bioskop di Indonesia.

"Prospek bagus. Kita per tahun tambah kira-kira 2-3 bioskop," ujar Brata.

Berangkat dari kondisi itu, pihaknya menyiapkan aksi ekspansi dengan menambah empat bioskop baru. Aksi itu akan dilakukan sepanjang tahun ini. Brata mengatakan, dari empat bioskop itu, perseroan akan menambah setidaknya 20 layar.

"Sekarang punya 10 bioskop hampir 100 layar, 90 layar. Sekarang penambahan empat bioskop tahun ini, di Batam tambah satu lagi, sudah ada satu," kata Brata.

Aksi ekspansi penambahan empat bioskop baru ini didukung pendanaan dari internal perseroan. Namun Brata belum mau menyebut nilai investasi yang dibutuhkan untuk membangun empat bioskop. "Kerja sama dengan pihak lain, belum," ucap Brata.

Perseroan berambisi menambah hingga 15 bioskop dalam tiga tahun mendatang. "15 bioskop dalam tiga tahun ke depan bisa insyaallah. Investasi belum bisa ngomong," imbuh Brata.

Baca juga:
IHSG berikan sinyal menguat
Pemilu tak ganggu rencana antv melantai di bursa
Garap pasar Vietnam, CIMB Securities gandeng pialang lokal
Target IPO Maret, antv siap lepas 15 persen saham
IHSG ditutup menguat 24,79 poin

(mdk/bim)