Penjelasan Lengkap Kementan soal Potensi Kenaikan Harga Mi Instan Hingga 3 Kali Lipat

Penjelasan Lengkap Kementan soal Potensi Kenaikan Harga Mi Instan Hingga 3 Kali Lipat
mi instan. shutterstock
EKONOMI | 11 Agustus 2022 21:00 Reporter : Siti Ayu Rachma

Merdeka.com - Kementerian Pertanian (Kementan) meminta masyarakat dan pelaku industri pangan untuk terus waspada terhadap potensi krisis pangan global. Kondisi Indonesia memang masih terbilang aman. Ketersediaan komoditas pangan strategis masih terjamin dan harga relatif stabil.

Namun demikian, Indonesia saat ini masih menjadi negara pengimpor gandum terbesar di dunia. Indonesia mengimpor gandum salah satunya dari Ukraina dan Rusia dengan total persentase dari kedua negara mencapai 98 persen. Rusia dan Ukraina selama ini memang menjadi produsen gandum terbesar di dunia.

Pada tahun 2021 impor gandum Indonesia mencapai USD 956 juta. Kebutuhan gandum terbesar digunakan untuk industri produk pangan olahan, seperti mi instan, kue, dan roti.

Walaupun gandum bukan komoditas pangan utama Indonesia, tetapi kebutuhan gandum di Indonesia sangatlah tinggi. Sebab, gandum sangat sulit untuk dibudidayakan, sehingga kebutuhan gandum tentu memerlukan impor dari negara penghasilan gandum.

Saat ini harga gandum dunia mengalami kenaikan yang sangat tinggi dipicu oleh geopolitik perang antara Rusia dan Ukraina. Kenaikan harga gandum tersebut sangat mempengaruhi produksi mi instan di Indonesia karena berbahan baku gandum.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo meminta masyarakat untuk berhati-hati akan adanya kenaikan harga mi instan. Digadang-gadang harga mie instan akan naik sebanyak 3 kali lipat dari harga normal karena pasokan gandum mengalami masalah akibat geopolitik.

Karena ketidakpastian global yang terjadi di dunia yang diakibatkan perang Ukraina – Rusia, perubahan iklim, dan pandemi covid-19 membuat harga pangan dan energi menjadi sangat tinggi.

2 dari 2 halaman

Potensi Krisis Pangan

Oleh karena itu, Kementan meminta masyarakat dan pelaku industri pangan untuk terus waspada terhadap potensi krisis pangan global. Meskipun begitu, kondisi Indonesia memang masih terbilang aman. Ketersediaan komoditas pangan strategis masih terjamin dan harga relatif stabil.

Menurut laporan Global Crisis Response Group Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sekitar 1,6 miliar orang di 94 negara menghadapi setidaknya satu dimensi krisis pangan, energi, dan sistem finansial.

Maka demikian akan ada potensi terjadinya krisis pangan global karena adanya gangguan rantai pasok yang membuat harga berbagai komoditas melonjak.

Akibat tren tersebut membuat beberapa negara sentra produksi pangan mulai melakukan restriksi ekspor ke negara-negara lain. Salah satu komoditas dibatasi adalah gandum.

Sejumlah negara penghasil gandum, seperti Rusia, India, Serbia, Mesir, Afghanistan, Kazakhstan, Kyrgyzstan, dan Kosovo, mengeluarkan kebijakan restriksi. Langkah ini diambil untuk tetap menjaga stabilitas pangan di negara mereka masing-masing.

Sepanjang Juni 2022, International Food Policy Research Institute (IFPRI) menyebut ada berbagai kebijakan restriksi ekspor di beberapa negara, baik berupa larangan, izin, dan atau pajak ekspor.

"Perang Rusia - Ukraina juga sangat mempengaruhi pasokan gandum untuk kebutuhan global. Menurut laporan FAO, sekitar 50 negara menggantungkan sekitar 30 pweawn impor gandumnya dari Rusia dan Ukraina," Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian (Kementan), Kuntoro Boga Andri, dalam keterangan resmi, Kamis (11/8). (mdk/idr)

Baca juga:
Tak Perlu Panik, Stok Gandum untuk Produksi Mi Instan Cukup untuk 2 Bulan ke Depan
Update Terbaru Harga Mi Instan di Alfamart dan Indomaret
Stok Gandum Dunia Mulai Melimpah, Mendag Sebut Harga Mi Instan Turun Mulai Oktober
Menikmati Mie Instan Warung Kopi di Tengah Kenaikan Harga Gandum Dunia
Asal Usul Mi Instan dan Merek Pertama di Indonesia
Harga Mi Instan Mulai Naik, Cek Detailnya di Sini
Mendag Zulhas: Harga Gandum akan Turun di September 2022

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini